Nagari Koto Malintang, Kabupaten Agam — Produk olahan rinuak khas Danau Maninjau dari UMKM Maninjau Crispy by Dapur Pipin di Jorong Ambacang, Nagari Koto Malintang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini mulai merambah pasar digital. Langkah ini merupakan bagian dari program digitalisasi UMKM yang menyasar pelaku usaha lokal agar produk unggulan daerah dapat menjangkau pembeli yang lebih luas, tidak lagi terbatas pada pasar tradisional dan warung di sekitar kawasan Maninjau.
Selama ini, produk-produk khas seperti bada salai, bada goreng, peyek rinuak, perkedel rinuak, dendeng rinuak, dan abon rinuak buatan Dapur Pipin hanya dikenal dan dijual di lingkup lokal. Padahal, cita rasa rinuak ikan kecil endemik Danau Maninjau yang diolah menjadi berbagai camilan khas memiliki potensi besar untuk diminati konsumen dari luar Sumatera Barat, bahkan luar negeri, jika dipasarkan melalui kanal yang tepat.
Untuk mewujudkan hal itu, proses digitalisasi Maninjau Crispy by Dapur Pipin dilakukan secara bertahap. Langkah pertama yang diambil adalah membuat akun Gmail khusus usaha. Akun ini menjadi identitas digital utama yang selanjutnya digunakan untuk mendaftar ke berbagai platform lain, sehingga seluruh notifikasi pesanan dan verifikasi akun dapat terpusat di satu tempat serta terpisah dari email pribadi.
Setelah fondasi identitas digital tersedia, langkah berikutnya adalah membuka toko resmi bernama Maninjau Crispy by Dapur Pipin di Shopee. Pendaftaran usaha dilakukan melalui Shopee Seller Centre agar produk rinuak olahan ini dapat dibeli langsung oleh konsumen dari berbagai daerah, lengkap dengan sistem pembayaran, pengiriman, dan pencairan dana yang terintegrasi. Dengan hadirnya toko di marketplace ini, pembeli dari luar Sumatera Barat kini dapat memesan produk khas Danau Maninjau ini hanya melalui ponsel, tanpa harus datang langsung ke Jorong Ambacang.
Tidak berhenti di situ, promosi produk juga diperkuat melalui media sosial. Akun TikTok dibuat sebagai media promosi utama dengan nama brand Maninjau Crispy by Dapur Pipin, menampilkan konten proses pengolahan rinuak mulai dari penggorengan bada, pembuatan peyek, hingga proses pengemasan untuk menarik minat penonton sekaligus membangun kepercayaan calon pembeli terhadap kualitas produk. Sementara itu, akun Instagram dimanfaatkan sebagai etalase digital yang mencantumkan tautan langsung ke toko Shopee dan akun TikTok, sehingga pengunjung dapat dengan mudah berpindah dari media sosial ke platform belanja.
Strategi memanfaatkan lebih dari satu platform ini sejalan dengan karakteristik pembeli yang berbeda-beda di setiap kanal. Shopee unggul dalam pencarian produk berbasis katalog, sementara TikTok efektif untuk promosi melalui video pendek, dan Instagram berperan membangun kepercayaan sekaligus mengarahkan pengunjung menuju toko. Dengan hadir di berbagai pintu masuk digital ini, peluang produk Maninjau Crispy by Dapur Pipin ditemukan dan dibeli oleh konsumen baru pun semakin terbuka lebar.
Langkah digitalisasi ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pelaku usaha kuliner skala rumahan di kawasan Danau Maninjau dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dari yang semula hanya mengandalkan penjualan tatap muka, kini Maninjau Crispy by Dapur Pipin telah memiliki identitas digital yang lengkap: email usaha, toko daring di Shopee, serta dua kanal promosi aktif di TikTok dan Instagram.
Ke depan, diharapkan semakin banyak UMKM lain di Nagari Koto Malintang, termasuk pelaku usaha kerajinan seperti anyaman bambu, dapat mengikuti jejak serupa. Dengan begitu, kekayaan kuliner dan kerajinan tradisional dari Jorong Ambacang bukan hanya lestari, tetapi juga mampu bersaing dan dikenal luas di pasar digital nasional maupun internasional.
(Penulis merupakan natasya Ramadhani, 2310511029 selaku pelaksana kuliah kerja nyata periode 2 koto malintang, unand.)















