25 C
Padang
Jumat, September 18, 2026
Beranda KOTA Kota Padang Juri PRA 2026 Temukan Inovasi Solar Biodigester untuk Mengatasi Sampah dan Genangan

Juri PRA 2026 Temukan Inovasi Solar Biodigester untuk Mengatasi Sampah dan Genangan

0
648

padangtime.com, PADANG — Persoalan sampah organik dan berkurangnya daya resap tanah menjadi dua tantangan lingkungan yang kerap hadir bersamaan di kawasan permukiman perkotaan. Di RT 03 RW 23 Perumahan Abu Hanif Devila, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, warga mencoba menjawab persoalan itu melalui inovasi sederhana bernama Solar Biodigester.

Inovasi tersebut didapati Tim Juri Padang Rancak Award (PRA) 20Q6 sesi kedua, Kamis (18/9/2026). Berbeda dengan tempat sampah biasa, Solar Biodigester dirancang multifungsi, yakni menampung sekaligus mengolah sisa makanan, berfungsi menyerupai lubang biopori, mendukung proses penguraian bahan organik, hingga memungkinkan pemanfaatannya sebagai media budidaya maggot.

Sistem ini bekerja dengan menempatkan sebagian wadah ke dalam tanah. Sampah organik rumah tangga, terutama sisa makanan, dimasukkan ke dalam wadah untuk mengalami proses dekomposisi. Interaksi bahan organik dengan tanah dan organisme pengurai membantu mempercepat penguraian sekaligus mengembalikan unsur organik ke lingkungan sekitar.

Bagi kawasan permukiman, pendekatan tersebut penting karena sampah organik yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, mengundang vektor penyakit, dan menambah volume sampah yang harus diangkut keluar dari lingkungan.

Salah seorang juri PRA 2026, Syaifuddin Islami, menilai Solar Biodigester memiliki manfaat yang cukup relevan untuk dikembangkan di kawasan Koto Tangah, terutama pada lingkungan yang menghadapi persoalan genangan dan banjir.

“Solar Biodigester tidak hanya bermanfaat untuk mengamankan sampah organik dari rumah tangga. Sistem ini juga dapat berfungsi seperti biopori, membantu air masuk ke dalam tanah, sekaligus memperbaiki kesuburan tanah melalui proses penguraian bahan organik,” ujar Syaifuddin.

Menurut dia, pendekatan seperti ini menjadi penting karena persoalan lingkungan di kawasan permukiman sebaiknya tidak ditangani secara terpisah. Pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, serta penghijauan lingkungan sesungguhnya dapat dirancang dalam satu sistem yang saling mendukung.

Bagi wilayah Koto Tangah yang memiliki sejumlah kawasan rentan genangan, keberadaan titik-titik resapan di lingkungan permukiman dapat menjadi salah satu pendekatan berbasis masyarakat untuk membantu memperbesar infiltrasi air hujan. Meski tidak menggantikan fungsi drainase dan pengendalian banjir dalam skala kawasan, inovasi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki daya serap tanah di tingkat tapak.

Keunggulan lain Solar Biodigester adalah kemampuannya mendorong pengelolaan sampah dari sumber. Sisa makanan tidak harus seluruhnya masuk ke tempat penampungan sampah dan menunggu pengangkutan, tetapi dapat diolah sejak dari rumah atau lingkungan RT.

Prinsip tersebut sejalan dengan perubahan paradigma pengelolaan sampah perkotaan, dari pola kumpul–angkut–buang menuju pengurangan dan pengolahan di sumber.
Dalam praktiknya, Solar Biodigester memiliki sedikitnya tiga fungsi ekologis. Pertama, sebagai komposter, karena bahan organik mengalami proses penguraian. Kedua, sebagai media resapan menyerupai biopori, karena sistem terhubung langsung dengan tanah. Ketiga, sebagai media pengembangan maggot, yang dapat mempercepat penguraian sisa makanan dan menghasilkan biomassa yang masih memiliki nilai guna.

Proses penguraian bahan organik juga memberi manfaat terhadap tanah. Material organik yang terdekomposisi dapat membantu meningkatkan aktivitas biologi tanah serta memperbaiki kondisi tanah di sekitar lokasi pemasangan.

Inovasi di RT 03 RW 23 Abu Hanif Devila menunjukkan bahwa adaptasi terhadap persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari infrastruktur besar. Pekarangan rumah, taman lingkungan, dan ruang terbuka pada tingkat RT dapat menjadi bagian dari sistem ekologis kota apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Paling dibutuhkan bukan hanya penambahan alat, tetapi perubahan kebiasaan warga dalam memperlakukan sampah. Pemilahan sejak dari dapur menjadi tahap paling menentukan. Tanpa pemilahan, sampah organik akan kembali bercampur dengan plastik dan residu lain sehingga sulit dimanfaatkan.

Karena itu, keberhasilan Solar Biodigester juga bergantung pada partisipasi warga: memilah sisa makanan, memasukkannya secara teratur, menjaga kondisi alat, serta memanfaatkan hasil proses penguraiannya.

Kehadiran inovasi seperti Solar Biodigester sekaligus memberi makna lebih luas terhadap Padang Rancak Award. Lingkungan yang “rancak” tidak cukup hanya diukur dari jalan yang bersih, selokan yang rapi, atau tanaman yang tertata.

Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan masyarakat mengurangi tekanan terhadap lingkungan melalui perubahan perilaku dan inovasi yang dapat terus digunakan setelah penilaian berakhir.

Dari RT 03 RW 23 Abu Hanif Devila, warga mencoba menunjukkan pendekatan tersebut. Satu perangkat digunakan untuk menahan sampah organik agar tidak menjadi beban lingkungan, membantu menciptakan ruang resapan air, mendukung kehidupan organisme pengurai, sekaligus mengembalikan bahan organik untuk memperbaiki tanah.

Jika direplikasi pada banyak rumah dan lingkungan, pendekatan sederhana seperti ini berpotensi membentuk jaringan kecil pengelolaan sampah dan resapan air berbasis warga.

Pesannya sederhana: sampah tidak harus selalu diangkut keluar, dan air hujan tidak harus seluruhnya dialirkan secepat mungkin. Sebagian sampah dapat dikembalikan ke siklus alam, sementara sebagian air dapat diberi ruang untuk kembali meresap ke tanah.(Charlie)

* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini