Agam, Sumatera Barat — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Universitas Andalas berhasil menyusun Peta Potensi Agraris Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Peta berskala 1:15.000 ini memuat tujuh titik komoditas unggulan yang tersebar di lima jorong, dan untuk pertama kalinya dilengkapi dengan kalender sirkulasi panen tahunan agar warga dan pemerintah nagari bisa membaca pola tanam sekaligus lokasi sebarannya dalam satu paket informasi.
Program ini digagas oleh Fitra Wadepilar, mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Unand, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Darwison, S.T., M.T. Nagari yang terletak di tepi Danau Maninjau ini selama ini belum memiliki data spasial yang terstruktur, padahal potensi agrarisnya cukup beragam: mulai dari padi sawah, jagung, cabai, kakao, perikanan keramba, hingga budi daya madu galo-galo.
Tujuh Titik, Lima Jorong
Survei lapangan dilakukan menggunakan pelacakan GPS lewat aplikasi Avenza Maps, lalu diolah dengan perangkat lunak QGIS dan ArcGIS. Prosesnya menggabungkan data sekunder—Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dan batas administrasi dari Badan Informasi Geospasial (BIG)—dengan data primer hasil penelusuran langsung ke lapangan.
Hasilnya, tujuh titik representatif tercatat dalam peta: Kebun Jagung Pauh Taruko, Sawah Rakyat Rambai, Sawah Rakyat Ambacang, Madu Galo-Galo, Keramba Ikan Danau Maninjau, Kebun Cabai Alai, dan Kebun Kakao Muko-Muko. Ketujuhnya mewakili empat sektor ekonomi agraris nagari: pangan-hortikultura, perkebunan, perikanan air tawar, dan budi daya lebah madu.
Peta ini bukan inventarisasi menyeluruh atas seluruh lahan warga, melainkan sampel representatif dari tiap jorong—Rambai, Ambacang, Taruko, Alai, dan Muko-Muko—yang digambarkan dengan warna berbeda pada peta indeks, lengkap dengan klasifikasi delapan jenis tutupan lahan mulai dari sawah, ladang, hutan, hingga danau.
Kalender Panen Jadi Kunci Baca Peta
Bagian yang membedakan produk KKN kali ini adalah penyusunan Kalender Sirkulasi Panen yang mengaitkan langsung tiap titik di peta dengan siklus waktunya sepanjang tahun. Kalender ini disusun berdasarkan karakteristik iklim Tanjung Raya: ketinggian sekitar 461,5 meter di atas permukaan laut, suhu rata-rata 23–31°C, kelembapan nisbi sekitar 95 persen, serta curah hujan tahunan 2.500–3.500 mm dengan musim hujan Januari–Mei dan September–Desember, serta musim kemarau Juni–Agustus.
Berikut korelasi antara titik-titik di peta dan pola panennya:
- Sawah Rakyat Rambai dan Ambacang mengikuti dua musim tanam. MT I memanfaatkan awal musim hujan dengan panen jatuh sekitar Januari, sedangkan MT II panen di penghujung tahun sekitar Desember—selaras dengan pola hujan dua puncak di kawasan tersebut.
- Kebun Jagung Pauh Taruko juga bergantung dua musim tanam serupa padi, dengan masa panen berlangsung di awal dan akhir tahun mengikuti ketersediaan air hujan.
- Kebun Cabai Alai justru ditanam menjelang musim kemarau untuk menekan risiko penyakit jamur akibat kelembapan tinggi, dengan masa panen memanjang dari pertengahan hingga akhir tahun.
- Kebun Kakao Muko-Muko mengikuti pola pembungaan tahunan: ada panen sela di awal tahun sebagai persiapan, lalu memasuki panen raya pada pertengahan tahun.
- Madu Galo-Galo sangat bergantung pada musim bunga. Koloni berkembang mengikuti ketersediaan pakan, dengan panen utama terjadi menjelang dan pada masa puncak musim bunga, serta ada panen kedua saat awal musim hujan berikutnya.
- Keramba Ikan Danau Maninjau dibudidayakan sepanjang tahun, tetapi kalender ini menandai periode kewaspadaan khusus pada masa peralihan musim, saat risiko penurunan kualitas air danau atau yang dikenal warga setempat sebagai fenomena “tubo” meningkat.
Dengan menempelkan kalender ini pada peta, pemerintah nagari dan kelompok tani bisa langsung melihat bukan hanya di mana letak potensi unggulan, tetapi juga kapan momentum produksi dan kerawanannya terjadi—informasi yang sebelumnya tersebar dan tidak terdokumentasi secara sistematis.
Manfaat bagi Perencanaan Nagari
Produk gabungan peta dan kalender panen ini diharapkan menjadi dasar sejumlah keputusan strategis. Pertama, Pemerintah Nagari bisa menyusun prioritas pengembangan komoditas berdasarkan kesesuaian lahan tiap jorong sekaligus jadwal produksinya. Kedua, informasi waktu panen membuka peluang promosi agrowisata di kawasan Danau Maninjau, misalnya mengarahkan kunjungan wisatawan ke titik keramba atau kebun komoditas saat musim panen berlangsung. Ketiga, data yang telah divalidasi bersama pemerintah nagari dan kelompok tani ini memperkuat legitimasi sebagai basis pengambilan keputusan berbasis bukti.
Peta beserta kalender panen rencananya akan dikembangkan lebih lanjut menjadi visualisasi interaktif berbasis web menggunakan Leaflet.js, agar dapat diintegrasikan ke laman resmi Nagari Koto Malintang dan diakses masyarakat luas secara berkelanjutan. Tim KKN juga merekomendasikan agar data ini dimutakhirkan secara berkala, khususnya seiring perubahan pola tanam dan perkembangan usaha agrowisata di kawasan tepi danau tersebut.
Program ini merupakan bagian dari KKN Reguler II Universitas Andalas di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 2026.















