Jakarta – Menteri Kordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago menerima kunjungan silaturahmi Pengusaha, tokoh masyarakat dan wartawan senior Sumbar di kantornya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Keempat tamu Menkopolkam tersebut adalah H Basril Djabar, mantan Ketua Kadin Sumbar dan pemilik Harian Singgalang, Khairul Jasmi, Pimpred Harian Singgalang, Syafruddin Al, wartawan senior Singgalang dan Pimpred Parlamentaria.com, Awaluddin Awe, Pemimpin Umum Harianindonesia.id dan Pimpred Suarakejaksaan.com, terakhir Melviny Contessa, pengusaha muda asal Sumbar di Jakarta.
Pertemuan yang awalnya sebagai kangenan antara Uda Bas, panggilan Basril Djabar, yang didampingi yuniornya, berkembang menjadi diskusi hangat dan aktual.
Selain berbicara tentang visi ke-Indonesia-an Presiden Prabowo dan dukungan kabinet Merah Putih, Djamari juga menyentuh hal yang subtansial tentang kampung halamannya, Sumatera Barat.
Secara terbuka Jamari Chaniago yang baru berulang tahun 8 April lalu, menyatakan bahwa Orang Minang dan Propinsi Sumatera Barat jangan terbelenggu oleh sejarah masa lalu yang pernah kelam, sehingga berakibat takut melakukan perubahan dan takut tampil di pentas nasional.
Dia menyoroti pengaruh peristiwa PRRI memang menjadi memori buruk bagi orang Minang, termasuk orang tuanya, sehingga banyak orang tua menamakan anaknya dengan nama Jawa, atau takut memajang nama suku dibelakang namanya.
Ada juga yang tidak mau mengaku atau seolah menutupi statusnya sebagai orang Minang dalam pergaulan nasional di tempat bekerja dan bertempat tinggal.
Tetapi Djamari menegaskan orang Minang tidak perlu menjadi penakut dengan sejarah kelam yang menimpa daerahnya. Justru, kata Djamari, peristiwa itu harus dilihat dari sisi keberanian orang Minang dalam menentukan sikapnya terhadap masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Jadi kesimpulan saya orang Minang tidak perlu (lagi) menjadi penakut atas peristiwa sejarah perlawanan di daerahnya. Justru, orang Minang harus bangga karena tokoh daerahnya banyak menjadi pendiri bangsa ini,” ujar orang dekat Presiden Prabowo ini.
Djamari juga membuka kartu bahwa, di dalam kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto ada kl.12 orang Minang yang menjadi Menteri dan Wakil Menteri, termasuk dirinya. Dalam catatan sejarah, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, adalah Menko Polkam pertama yang berasal dari Ranah Minang.
Ini menandakan keberadaan orang Minang diakui pemerintah sejak awal kemerdekaan hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Bahas Kebangkitan Ranah Minang
Pertemuan kemudian berkembang membahas permasalahan kemunduran pembangunan Sumbar selama 15 tahun terakhir, dan faktor penyebabnya, serta model program kebangkitan Ranah Minang seperti apa yang bisa dibuat.
Tetapi sebelumnya, Djamari sempat menyampaikan pandangan tentang fungsi dan peranan kelembagaan organisasi sosial, kemasyarakat dan pendidikan di Sumbar yang harus melakukan reorientasi peran dan fungsinya.
Selain itu, Djamari juga memandang penting perubahan dialektika orang Minang tentang ada dan budaya Minang. Simplenya Djamari menegaskan, jika seseorang bersalah, maka semua atribut adat yang melekat di diri tokoh tersebut harus dicabut, supaya tidak melekat kesan pemimpin adat melakukan kesalahan kok tidak dihukum.
“Artinya, pada saat seorang pemimpin adat terbukti melakukan kesalahan, maka atribut adat yang melekat di dirinya harus dicabut. Supaya publik tau yang dihukum itu adalah pribadinya,” papar Djamari.
Sebaliknya, ujar anggota Tim 4 Penyusunan Kabinet Merah Putih ini, jika seorang pemimpin adat tidak dicabut statusnya terbukti melakukan kesalahan, maka opini publik akan terbentuk bahwa di Ranah Minang biasa saja pemimpin adat melakukan kesalahan. “Padahal yang salah itu pribadi yang bersangkutan,” tegasnya.
Menurut Djamari, rekonstruksi hukum adat terhadap kepemimpinan bersalah, adalah bagian penting dalam proses membangkit kembali kejayaan Ranah Minang setelah mengalami tekanan militer dan psikologis mental pasca PRRI.
“Kita harus melakukan instrospeksi terhadap diri kita dalam melihat kesalahan yang sudah dilakukan. Supaya upaya perbaikan yang dilakukan bisa berjalan sesuai dengan target yang disusun,” ujarnya.
Sama halnya dengan upaya rehabilitasi yang akan dilakukan di Sumbar, juga membutuhkan kesadaran atas kelemahan yang dilakukan.
Secara terbuka Jamari melihat semangat berkompetisi dari kalangan kelembagaan di Sumatera Barat saat ini sudah jauh menurun. Hal itu bisa terlihat dengan semakin berjaraknya perkembangan pembangun Sumbar dengan propinsi tetangganya seperti Riau, Jambi, Palembang dan bahkan kini Bengkulu.
Dilihat dari sisi permintaan penggunaan semen saja, volume penjualan semen Padang di pasar lokal Sumbar hanya terserap kl 1 juta ton per tahun. Sementara di Riau dan Jambi sudah mencapai 2 juta ton per tahun. Bengkulu sendiri sudah mendekati konsumsi semen 700-800 ton per tahun.
Dari sisi pendidikan posisi Perguruan Tinggi di Sumatera Barat dilihat secara rating nasional, masih mengalami naik turun. Dua perguruan tinggi di Sumbar yang berstatus negeri adalah Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Negeri Padang (UNP), termasuk satu perguruan tinggi Islam, IAIN Imam Bonjol Padang.
Begitu juga dari aspek pertumbuhan ekonomi, Sumatera Barat terus mengalami pelambanan. Ini menunjukan ada sesuatu yang salah dalam mengelola pembangunan daerah.
“Sebab itu kita perlu mengintrospeksi pola kepemimpinan di Sumbar agar benar benar fokus membenahi masalah ekonomi dan pembangunan sarana prasarana lainnya, sehingga laju pertumbuhan daerah bisa ditekan naik lebih tinggi,” papar Jenderal kelahiran Ulak Karang Padang ini.
Belum lagi realita menyedihkan yang menimpa daerah Sumbar seperti tingginya angka pengguna narkoba dan LGT juga menyiratkan lemahnya kontrol terhadap lingkungan.
Terkait dengan dilema yang dihadapi Sumbar itu, Djamari mempersilahkan kalangan yang peduli bertemu dan membahas strategi apa yang akan dilakukan, dan dirinya siap bersama sama mendorong prosesnya bisa berjalan sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Secara spesifik gerakan yang akan dilakukan bisa juga disebut sebagai Mambangkik Batang Tarandam Jilid II dengan tipologi permasalahan yang berbeda dengan era Gubernur Harun Zain dulu.
Tampil Kepala Tegak
Djamari Chaniago juga mengajak masyarakat Minangkabau di ranah maupun di rantau untuk kembali tampil dengan kepala tegak, percaya diri, dan berani mengambil peran terdepan dalam pembangunan bangsa maupun daerah.
“Sekarang tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Orang Minang harus kembali bangkit dengan kepala tegak, tetapi tetap menjaga persatuan, kesatuan, serta sopan santun yang sejak lama menjadi karakter masyarakat Sumatera Barat,” ujar Djamari.
Mantan Komisaris Utama PT Semen Padang itu menegaskan, identitas Minang tidak boleh dipandang sebagai beban sejarah, melainkan sebagai sumber kekuatan moral, intelektual, dan keberanian.
Menurutnya, orang Minang memiliki tradisi panjang dalam melahirkan tokoh bangsa, pemikir, ulama, pendidik, jurnalis, pedagang, hingga pemimpin nasional yang berpengaruh.
Karena itu, Djamari mengingatkan agar generasi Minang hari ini tidak terus-menerus menoleh ke belakang, seolah dikalahkan oleh bayang-bayang masa lalu. Baginya, sejarah cukup dijadikan pelajaran, bukan alasan untuk hidup dalam keraguan.
“Kita jangan terus melihat ke belakang seperti orang yang pernah kalah dalam kesalahpahaman sejarah. Sekarang saatnya kita memperlihatkan bahwa orang awak, dengan identitas Minang yang melekat, tetap bisa diandalkan. Saya sendiri sejak taruna tetap memakai suku Chaniago di belakang nama saya. Tidak ada yang saya sembunyikan,” tegasnya.
Nada bicara Djamari terdengar penuh semangat dan ketegasan seorang prajurit. Meski telah dua dekade pensiun dari dinas militer, jiwa pengabdiannya tetap menyala. Semangat seorang tentara, menurut dia, tidak pernah benar-benar pensiun ketika panggilan untuk bangsa dan daerah masih membutuhkan keberanian.
Ia pun memompa semangat generasi muda Minang agar tidak tampil setengah-setengah dalam berjuang. Menurutnya, orang Minang harus berani masuk ke gelanggang, bersaing secara terhormat, dan hadir bukan sekadar untuk ikut meramaikan, tetapi untuk memimpin dan menjadi pionir.
“Sudah saatnya orang Minang tampil gagah dan berani di panggung nasional, menjadi pemimpin dan menjadi pionir. Kita tidak boleh setengah-setengah dalam berjuang. Kalau sudah masuk gelanggang, tunjukkan kemampuan, tunjukkan keberanian, dan buktikan bahwa kita mampu berdiri sejajar, bahkan terdepan,” ujarnya.
Djamari yang pernah menjadi Pangdam III Siliwangi itu, juga mengungkapkan bahwa di jajaran Kabinet saat ini terdapat belasan tokoh Minang, termasuk banyak pula sumando awak, yang berkontribusi dalam pemerintahan. Hal itu, menurut dia, menjadi bukti bahwa masyarakat Minangkabau tetap memiliki kapasitas, jaringan, dan peluang besar untuk berkiprah pada level tertinggi.
Namun, ia mengingatkan, kebangkitan itu harus ditopang dengan kerja keras dan visi jangka panjang, terutama di bidang pendidikan. Menurut Djamari, Sumatera Barat tidak kekurangan sumber daya manusia hebat, tetapi membutuhkan keberanian kolektif, konsistensi, dan orientasi besar untuk kembali menjadikan ranah Minang sebagai pusat kemajuan intelektual.
“Dulu ranah Minang menjadi tempat belajar bagi banyak orang dari luar daerah. Tradisi itu jangan hilang. Pendidikan harus menjadi prioritas pembangunan jangka panjang. Kita harus kembali menanamkan semangat belajar, semangat bersaing, dan semangat unggul kepada anak-anak muda kita,” katanya.
Ia juga meminta organisasi-organisasi perantau seperti Gebu Minang dan berbagai elemen masyarakat Minang lainnya untuk mengambil peran lebih besar dalam memajukan pendidikan di Sumatera Barat. Bukan hanya melalui slogan, tetapi melalui dukungan nyata untuk sekolah, kampus, beasiswa, pembinaan generasi muda, dan penguatan budaya berprestasi.
Menurut Djamari, perguruan tinggi di Sumatera Barat pun harus berani memasang target tinggi. Dengan fasilitas yang tersedia, sumber daya manusia yang memadai, serta tradisi intelektual yang kuat, kampus-kampus di Ranah Minang semestinya mampu bersaing menjadi perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
“Fasilitas ada, SDM ada, sejarah intelektual kita kuat. Jangan sampai kalah sebelum berjuang. Mental inilah yang harus diubah. Orang Minang harus berani bercita-cita tinggi dan berani merebutnya dengan kerja keras,” katanya lagi.
Dalam kesempatan itu, Djamari menegaskan dirinya siap tampil di depan untuk ikut mendorong semangat kebangkitan orang Minang di berbagai lini. Baginya, pengabdian seorang prajurit tidak berhenti ketika seragam dilepas. Selama tenaga dan pikiran masih ada, ia merasa terpanggil untuk terus menyumbangkan semangat, gagasan, dan keberanian bagi bangsa serta kampung halamannya.
Ia juga mengajak generasi muda Minang agar tidak lagi merasa canggung membawa identitasnya. Nama Minang, adat Minang, dan karakter Minang harus kembali tampil sebagai simbol kecerdasan, keberanian, etika, dan daya juang.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pejuang Minang masa lalu yang telah memberi sumbangsih besar bagi republik ini, Djamari menilai generasi hari ini memikul tanggung jawab baru, yaitu harus membuktikan bahwa darah Minang tetap hidup, tetap kuat, dan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Karena itu, ia berharap anak-anak muda Minang hari ini tidak ragu melangkah ke mana pun, baik di dunia pemerintahan, politik, akademik, media, bisnis, maupun ruang-ruang pengabdian sosial lainnya.
Mereka, kata Djamari, harus tampil utuh, berani, dan tidak boleh lagi menyembunyikan diri. (*)
Baca Juga  Penduduk Usia Lanjut Meningkat, Kemnaker Ajak Dunia Usaha Perluas Akses Kerja Lansia
* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini