Padang Bidik Status Kota Gastronomi Dunia UNESCO 2027, Kuliner Jadi Mesin Ekonomi dan Pariwisata

0
1047

padangtime.com – Pemerintah Kota Padang terus mematangkan strategi untuk menembus panggung global sebagai Kota Gastronomi Dunia dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada 2027. Upaya ini tidak hanya mengejar pengakuan internasional, tetapi juga menjadikan kuliner sebagai penggerak ekonomi, penguat identitas kota, dan daya tarik wisata dunia.

Bagi Kota Padang, kuliner bukan sekadar soal rasa. Setiap hidangan menyimpan sejarah panjang perjumpaan berbagai budaya yang membentuk karakter kota pelabuhan ini selama ratusan tahun.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan gastronomi merupakan perpaduan seni kuliner, tradisi, sejarah, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Gastronomi adalah perpaduan antara budaya dan kuliner yang menjadi kekayaan warisan budaya kita. Saat ini seluruh elemen bergerak bersama untuk memperkuat identitas Padang agar diakui dunia sebagai kota gastronomi,” ujar Yenni, Selasa (16/6/2026).

Keberagaman Budaya Jadi Kekuatan Gastronomi Padang

Kekuatan gastronomi Padang lahir dari keberagaman budaya yang telah hidup berdampingan sejak lama. Secara historis, masyarakat mengenal kota ini melalui filosofi “Padang Jalan Berempat”, yang melambangkan harmonisasi empat etnis utama, yaitu Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias.

Perpaduan budaya tersebut melahirkan berbagai ekspresi seni dan tradisi. Masyarakat mengenal Tari Balanse Madam, musik Gamad, hingga Barongsai sebagai bagian dari identitas budaya kota.

Tidak hanya itu, proses akulturasi juga memperkaya cita rasa kuliner khas Padang.

Menurut Yenni, keberagaman etnis justru memperkuat karakter masakan lokal.

“Keberagaman etnis di Padang tidak membuat masing-masing memasak sendiri-sendiri, tetapi justru saling memperkaya cita rasa masakan Padang,” katanya.

Jejak Akulturasi dalam Kuliner Legendaris

Pengaruh budaya Tionghoa melahirkan berbagai kuliner peranakan yang berkembang di kawasan Kampung Pondok. Sementara itu, budaya India Tamil memberi warna kuat melalui penggunaan rempah-rempah dalam berbagai masakan.

Jejak akulturasi tersebut tampak pada sejumlah kuliner legendaris, seperti Soto Garuda, Soto Rajawali, dan martabak khas Malabar. Ketiga kuliner itu terkenal karena aroma rempah yang kuat dan cita rasa yang khas.

Baca Juga  UPT Diklat dan Sertifikasi UNP Selenggarakan Pelatihan Btcls Kerjasama dengan Pusdiklat Pku Muhammadiyah Jakarta

Karakter rempah yang kaya membuat kuliner Padang memiliki identitas yang mudah dikenali. Cita rasanya berani, kompleks, dan meninggalkan kesan mendalam bagi penikmatnya.

Dorong UMKM dan Tingkatkan Kunjungan Wisatawan

Pemerintah Kota Padang memandang status Kota Gastronomi UNESCO sebagai instrumen strategis untuk mempercepat pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Selain itu, status tersebut juga berpotensi membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata dan jasa.

Pemko Padang meyakini pengakuan UNESCO akan menciptakan efek berantai bagi ekonomi lokal. Publikasi internasional dan promosi digital yang masif dapat meningkatkan popularitas kuliner Padang di tingkat global.

Ketika semakin banyak wisatawan mengenal kuliner Padang, minat mereka untuk berkunjung juga diperkirakan akan meningkat.

“Saat ini kami gencar mempromosikan menu-menu unik ke berbagai media. Ketika kuliner menjadi viral, orang akan datang untuk merasakan langsung. Melalui status Kota Gastronomi, kami berharap UMKM tumbuh, kunjungan wisatawan meningkat, dan PAD kota ikut naik,” jelas Yenni.

Padang Optimistis Wakili Indonesia

Saat ini Pemko Padang tengah merampungkan dokumen pengajuan untuk mengikuti seleksi nasional. Persaingan berlangsung ketat karena dari 17 kota kreatif yang mengikuti penilaian, hanya dua kota yang akan mewakili Indonesia di tingkat dunia.

Seleksi tersebut menilai kelengkapan dokumen, kekuatan narasi budaya, serta bukti nyata keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif.

Yenni optimistis Padang memiliki seluruh prasyarat untuk bersaing pada kategori gastronomi.

“Kami berharap Kota Padang dapat menjadi representasi Indonesia di bidang gastronomi. Jika seluruh proses berjalan lancar, pada 2027 kuliner Padang berpeluang memperoleh pengakuan internasional dari UNESCO,” pungkasnya.

Apabila target tersebut tercapai, Padang tidak hanya dikenal sebagai rumah rendang dan masakan Minang. Kota ini juga akan tampil sebagai contoh sukses dalam mengubah warisan kuliner menjadi kekuatan ekonomi sekaligus diplomasi budaya di tingkat dunia. (pt)

* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini