Festival Pamalayu Part Dua Akan Sesgera DIGELAR

0
2216
Padang TIME – Sejarah tidak hanya menjadi bagian untuk mengkaji kisah di masa lalu. Akan tetapi lebih dari itu, sejarah dapat dijadikan sebagai pelajaran, kebajikan, motivasi serta inspirasi masa kini dan di masa depan. Banyak peristiwa yang meski terjadi ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu masih relevan dinapaktilasi untuk diambil hikmahnya oleh gerenasi-generasi sesudahnya.
Salah satu sejarah yang masih memiliki kolerasi di masa kini adalah peristiwa yang dipelopori Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari pada tahun 1275–1286, untuk menyatukan Nusantara melalui sebuah ekspedisi. Oleh para sejarawan peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.
Hikmah yang paling urgen dari Ekspedisi Pamalayu tentu saja adalah unifikasi seluruh potensi yang ada di Nusantara terutama kekuatan kerajaan di pulau Jawa dan di pulau Sumatera (Malayu) untuk membendung ekspansi Kerajaan Mongol yang membabat habis seluruh daratan Asia bahkan Eropa saat itu.
Diksi unifikasi ditonjolkan disini karena sesungguhnya filosofi yang diinginkan Prabu Kertanegara melalui peristiwa itu adalah persahabatan dan persaudaraan agar seluruh bangsa Nusantara bersiap secara bersama menghadapi upaya penaklukan dari kaum Mongol yang terkenal barbar itu. Argumentasi bahwa Ekspedisi Pamalayu bukanlah sebagai ekspansi dapat dibuktikan dengan Arca Amoghapasa, yang dikirimkan Singosari untuk di tempatkan di Dharmasraya yang saat itu berjaya sebagai kekuatan utama di Pulau Swarnabhumi sebagai tanda mata.
Prasasti Padangroco, tempat dipahatkannya Arca Amoghapasa menyebutkan bahwa arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Tribhuwanaraja (Raja Dharmasraya).
Prasasti Padangroco juga menyebutkan bahwa Arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatera dengan diiringgi beberapa pejabat penting Singosari di antaranya Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrahma, Payaman Hyang Dipangkaradasa, dan Rakryan Demung Mpu Wira. Keberangkatan beberapa pejabat penting dari Singosari untuk mengawal hadiah dari Sang Maharaja tentu merupakan signal soft diplomations yang jauh dari kesan penaklukan.
Jika dihubungkan dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan isu-isu kekinian, Sejarah Ekspedisi Pamalayu tentu saja masih sangat relevan untuk menggelorakan semangat persatuan bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar Sutan Riska Tuanku Kerajaan, Bupati Dharmasraya, yang merupakan salah satu raja di Tanah Malayu Dharmasraya saat ini, bersama sejumlah pihak menggagas sebuah napaktilas peristiwa penting itu pada Agustus 2019 sampai Januari 2020 yang lalu.
Tak dinyana, acara yang bertajuk Festival Pamalayu itu, yang awalnya dipandang skeptis oleh segelintir pihak, ternyata alek budaya tersebut dengan luar biasa mampu menyedot animo publik. Topik Pamalayu menjadi trending di ruang-ruang diskusi, baik di dunia nyata dan apalagi di jagat maya. Ribuan orang dari berbagai daerah mengunjungi Dharmasraya dan pusat kegiatan di Komplek Candi Pulau Sawah Nagari Siguntur Kecamatan Sitiung untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Iven ini meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap budaya, peninggalan purbakala secara fisik maupun nilai-nilai mulia para leluhur. Atraksi budaya mampu menjadi medan magnet masyarakat. Nilai-nilai luhur menjadi penelitian dan dikaji baik oleh ilmuwan maupun masyarakat awam. Berbagai tulisan ilmiah pun bermunculan baik di jurnal, media massa ataupun dalam bentuk buku.
Tidak hanya itu, secara ekonomi Festival Pamalayu juga mampu menjadi peluang yang luar biasa bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. Banyak sektor ikut bergairah dengan adanya iven budaya yang diyakini sebagai yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan produk marchendise hasil karya anak Dharmasraya laris manis diborong pengunjung. Tak ketinggalan produk-produk kuliner khas Dharmasraya juga makin dikenal di dunia luar.
Selain itu, pelaku usaha disektor pariwisata, seperti perhotelan, rumah makan dan restoran juga ikut ketiban rezeki. Dengan banyaknya kunjungan ke Dharmasraya, okupansi kamar Hotel saat momen tersebut selalu di atas 90 persen.  Rumah-rumah makan dan restoran juga selalu ramai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini