Environmental, Social, Governance (ESG): Apakah Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan di Indonesia?

0
1006
Annisaa Rahman
ads
Oleh: Annisaa Rahman

PadangTIME.com Selama dekade terakhir, terlihat adanya pertumbuhan kesadaran akan pengaruh isu-isu keberlanjutan. Kesadaran ini tumbuh beriringan dengan meningkatnya tuntutan peraturan dan pemangku kepentingan atas pengungkapan non-keuangan seperti laporan Corporate Social Responsibility (CSR), laporan keberlanjutan (Sustainability Report/SR), yang juga dikenal sebagai pelaporan triple bottom line (TBL) (Goncalvesdkk.,2020). Kemudian pada tahun 2013, United Nations Global Compact mensurvei 1000 chief executive officer (CEO) di seluruh dunia (Khan, 2022). Hampir 93% dari CEO yang menanggapi, menganggap masalah terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) penting untuk kesuksesan bisnis mereka (PBB, 2019). Sejak saat itu, beberapa perusahaan peringkat mengeluarkan indeks yang mengukur isu keberlanjutan dalam pilar lingkungan, sosial, tata kelola (Environment, Social, Governance/ ESG).

ESG adalah konsep yang lahir dari persyaratan untuk keberlanjutan. Tujuan ESG dapat didefinisikan dalam kerangka isu-isu keberlanjutan. Ini mensyaratkan bahwa praktik ESG difokuskan untuk mengatasi tantangan keberlanjutan dalam lingkungan perusahaan. Keberlanjutan berfokus pada bagaimana kontribusi dapat dilakukan untuk kesejahteraan sosial dan lingkungan tanpa membahayakan atau mengancam kelangsungan hidup bumi.

Beberapa penelitian mengungkapkan manfaat laporan keberlanjutan sebagai mekanisme sinyal untuk mendapatkan reputasi yang baik dan untuk mendapatkan legitimasi dari pemangku kepentingan dengan mengintegrasikan fokus perhatian pada masalah sosial dan lingkungan ke dalam operasi bisnis (Wood, 2010). Menurut Epstein (2008), kinerja lingkungan berfokus pada nilai-nilai jangka panjang. Kinerja lingkungan memungkinkan perusahaan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya yang mereka gunakan sehingga sumber daya tersebut tetap dapat dinikmati di masa yang akan datang. Kinerja lingkungan juga dapat dilakukan sebagai salah satu strategi perusahaan untuk menciptakan citra perusahaan yang baik dan ramah lingkungan dalam perspektif konsumen (Darley, 2012).

Sedangkan bagi investor, Verecchia (1983) berpendapat bahwa dari perspektif ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan informasi jika informasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian Clarkson (2008) menyimpulkan bahwa perusahaan yang telah melakukan kinerja atau aktivitas lingkungan dengan baik akan secara sukarela mengungkapkan kinerjanya kepada publik. Perusahaan mengungkapkan karena pengungkapan tersebut berdampak pada berkurangnya biaya modal ekuitas perusahaan, atau dengan kata lain mempengaruhi peningkatan nilai perusahaan

Saat bisnis ditantang untuk melakukan ESG demi kepentingan semua pemangku kepentingan, pertanyaan yang timbul adalah apakah ESG akan memberikan nilai finansial bagi perusahaan masih menjadi perdebatan. Tidak dapat dipungkuri, peningkatan adopsi dan integrasi ESG akan dibatasi oleh ketersediaan sumber daya dan kemampuan perusahaan. Sehingga kritikus berpendapat bahwa ESG adalah investasi yang mahal dan mewakili masalah keagenan karena terutama menguntungkan manajer dan/atau pemangku kepentingan lainnya dengan mengorbankan pemegang saham (Kruger, 2015; Cheng et al.,2016). Selain itu, pandangan ekonomi tradisional menyatakan bahwa trade-off investasi dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan mungkin lebih     besar daripada manfaat finansial yang diperoleh dari inisiatif ESG ini.

Aturan mengenai ESG di Indonesia mulai diberlakukan sejak Undang-Undang Perusahaan tahun 2007, yang mewajibkan perusahaan melakukan CSR, khususnya bagi perusahaan yang memiliki kegiatan usaha di bidang dan/atau terkait dengan sumber daya alam. Perkembangan ESG di Indonesia sendiri mengalami pembaruan yang signifikan. Pada tanggal 23 Desember 2020, melalui pengumuman bursa nomor Peng-00363/BEI.POP/12-2020 PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan indeks saham IDX Environmental, Social, and Governance (ESG) Leaders yang berisi 30 saham. Pada tanggal 15 Desember 2021 PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan indeks ESG Quality 45 IDX KEHATI. Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI diluncurkan melalui pengumuman BEI No. Peng-00409/BEI.POP/12-2021. Indeks tersebut merupakan indeks yang berisikan saham-saham dengan hasil penilaian kinerja ESG di atas rata-rata sektornya serta memiliki likuiditas yang baik. Sedangkan Indeks ESG Quality 45 IDX KEHATI KEHATI diluncurkan melalui pengumuman BEI No. Peng-00408/BEI.POP/12-2021. Indeks tersebut merupakan indeks yang berisikan 45 saham terbaik dari hasil penilaian kinerja ESG dan kualitas keuangan perusahaan serta memiliki likuiditas yang baik. Selanjutnya baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia melalui Surat Edaran No 16 /SEOJK.04/2021 menerbitkan aturan terkait bentuk dan isi laporan tahunan perusahaan publik yang didalamnya terkandung aturan terkait laporan keberlanjutan.

Meskipun melalui pengungkapan ESG diperoleh berbagai manfaat internal seperti, mempertajam visi dan strategi; memperkuat sistem manajemen; meningkatkan kualitas; dan eksternal seperti meningkatkan citra dan reputasi perusahaan serta kepercayaan publik; memudahkan akses mendapatkan dana/investor; meningkatkan hubungan dengan pemangku kepentingan; meningkatkan daya saing, namun perkembangan implementasi ESG pada perusahaan-perusahaan di negara berkembang belum seperti negara-negara maju. Ketidak konklusifan dampak positif ESG terhadap nilai perusahaan di Indonesia tergambar dari rendahnya pertumbuhan jumlah perusahaan yang melaporkan laporan keberlanjutan, ESG di Indonesia. (PT)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini