Identitas Penulis
Dr. Sosmiarti, S.E., M.Si.
Dosen Ekonomi Universitas Andalas dan pakar Ekonomi Kebencanaan serta Kemiskinan Berbasis Sustainable Livelihood.
Temuan dalam tulisan ini sejalan dengan penelitian beliau mengenai dampak pascabencana terhadap keberlanjutan penghidupan (sustainable livelihood) masyarakat korban Gempa Sumatra Barat 2009. Riset tersebut menunjukkan bahwa kerusakan aset penghidupan berkontribusi signifikan terhadap penurunan kesejahteraan sosial-ekonomi rumah tangga.
Sejumlah penelitian beliau lainnya mengenai ekonomi keberlanjutan rumah tangga dan kemiskinan ekstrem di berbagai wilayah Sumatra Barat dan Indonesia juga menegaskan bahwa tanpa intervensi terstruktur dan cepat, rumah tangga terdampak bencana berisiko terjebak dalam kemiskinan Ekstrem.
Penulis Pendamping dan Kolaborasi Akademik: Fadhil Aptana Sadjiana, S.E.
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Andalas dengan konsentrasi Makroekonomi dan Ekonomi Moneter.
PAPARAN
Bencana selalu dipahami sebagai peristiwa yang berhubungan erat dengan tragedi kemanusiaan, rumah hancur, infrastruktur rusak, serta korban berjatuhan. Namun yang sering luput dari perhatian adalah bahwa bencana juga merupakan peristiwa ekonomi, dan dalam banyak kasus menjadi pintu masuk menuju kemiskinan ekstrem. Ketika aset produktif hilang, pendapatan terhenti, dan jaringan sosial terganggu, maka yang terjadi bukan sekadar kerugian fisik, melainkan guncangan struktural terhadap keberlanjutan hidup rumah tangga.
Teori pembangunan telah lama menjelaskan bahwa guncangan (shock) terhadap aset produktif dapat menjebak masyarakat dalam perangkap kemiskinan. Dalam kerangka sustainable livelihood yang dikembangkan oleh Robert Chambers dan Gordon Conway, keberlanjutan hidup rumah tangga bertumpu pada lima jenis aset: manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial. Bencana merusak hampir seluruh aset tersebut secara simultan. Ketika rumah (aset fisik) hilang, lahan rusak (aset alam) terganggu, modal usaha lenyap (aset finansial) menyusut, dan jaringan sosial melemah, maka kapasitas bertahan rumah tangga ikut runtuh.
Penelitian empiris memperkuat temuan tersebut. World Bank dalam laporan Unbreakable (2017) menegaskan bahwa kerugian kesejahteraan akibat bencana dapat melampaui dua kali lipat kerugian fisik yang terukur. Rumah tangga miskin mengalami dampak lebih dalam karena kehilangan sumber penghidupan sekaligus tidak memiliki tabungan sebagai bantalan. Sementara itu, studi Stefan Dercon (2004) menunjukkan bahwa guncangan ekonomi yang tidak segera direspons dapat menurunkan konsumsi rumah tangga dalam jangka panjang.
Dalam literatur kebencanaan modern, dikenal konsep golden recovery window, periode emas pemulihan yakni satu hingga dua minggu pertama pascabencana sangat menentukan arah pemulihan jangka panjang. Pada fase inilah intervensi cepat, baik berupa hunian sementara maupun pemulihan akses penghidupan, memiliki dampak paling besar dalam mencegah jatuhnya rumah tangga ke jurang kemiskinan ekstrem. Jika pada periode ini korban memperoleh tempat tinggal layak dan dapat kembali beraktivitas produktif, maka risiko degradasi kesejahteraan dapat ditekan secara signifikan. Sebaliknya, keterlambatan dalam fase kritis ini memperbesar kemungkinan terjadinya spiral kemiskinan.
Dalam konteks Sumatra Barat, pengalaman Gempa 2009 membuktikan bahwa banyak rumah tangga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar pulih. Kerusakan rumah, hilangnya aset usaha, serta terputusnya aktivitas ekonomi menyebabkan penurunan kesejahteraan yang tidak mudah diperbaiki dalam jangka pendek. Tanpa intervensi terstruktur dan cepat, guncangan tersebut berpotensi berubah menjadi kemiskinan kronis, bahkan mendorong sebagian rumah tangga masuk kategori kemiskinan ekstrem.
Pola serupa terlihat pada berbagai peristiwa banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatra Barat. Banjir tidak hanya merusak hunian, tetapi juga menghancurkan sawah, ternak, warung kecil, dan alat produksi yang menjadi sumber nafkah utama. Ketika sawah tertimbun material dan alat usaha hanyut, pendapatan rumah tangga berhenti seketika. Namun pengeluaran tidak ikut berhenti.
Di sinilah persoalan menjadi semakin kompleks. Rumah tangga tidak hanya membutuhkan makan, pakaian, dan tempat tinggal. Ada biaya pendidikan anak yang harus dibayar, cicilan atau utang yang tetap berjalan, kebutuhan kesehatan yang tidak bisa ditunda, serta kewajiban sosial yang tetap melekat. Kredit usaha tidak otomatis berhenti karena bencana. Uang sekolah tidak menunggu hingga korban pulih. Dalam situasi seperti ini, kemandirian ekonomi pascabencana bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak.
Karena itu, pemulihan ekonomi dalam satu hingga dua minggu pertama bukan sekadar soal percepatan pembangunan fisik, tetapi tentang memulihkan rasa aman dan martabat. Rasa aman memiliki pekerjaan dan pendapatan adalah fondasi psikologis sekaligus ekonomi dalam fase pemulihan. Tanpa itu, bantuan logistik hanya menjadi penyangga sementara, bukan solusi berkelanjutan.
Pertanyaan pentingnya kemudian menjadi sangat mendasar: apakah kita benar-benar belajar dari pengalaman tersebut, ataukah kita terus mengulang pola respons yang lambat dan mahal secara sosial-ekonomi?
Batu Busuak: Ketika Respons Tidak Ditunda
Di Batu Busuak, Kecamatan Pauh, Kota Padang, banyak rumah-rumah warga hanyut diterjang bencana, terkhusus banjir bandang. Dalam satu kaum, hunian hilang hampir seluruhnya. Namun masyarakat masih memiliki lahan di lokasi terdekat yang memungkinkan relokasi segera.
Dari sinilah lahir inisiatif pembangunan Hunian Sementara Sehat dan Layak (HUNSSELA).
Berawal dari survei lapangan yang dilakukan oleh Dr. Sosmiarti, S.E., M.Si. beserta tim KKN Universitas Andalas, untuk merancang program KKN kebencanaan, dilakukan identifikasi komprehensif terhadap kebutuhan warga: dapur umum, perlengkapan sekolah anak-anak, kebutuhan logistik, hingga rancangan hunian sementara.
Jejaring alumni dan komunitas bergerak cepat. Didapatkan hasil output di antaranya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas membantu dapur umum, IKA UNAND dan komunitas perantau menyediakan bahan pokok, perlengkapan sekolah, hingga dukungan finansial. Sementara itu, desain hunian dirancang oleh Prof. Fauzan dengan pendekatan biaya minimal dan pengerjaan gotong royong oleh warga setempat.
Kolaborasi Besar di Balik berdirinya 11 Unit HUNSSELA
Peresmian dan serah terima kunci HUNSSELA di Kampuang Talang, Pangka Jembatan Batu Busuak, dilakukan oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, dan dihadiri Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi.

Ketua Panitia Pembangunan Kebencanaan, Dr. Wiwik Mairawita Marlis Rahman, menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan ikhtiar kolektif menghadirkan hunian sementara yang sehat dan manusiawi.
Sembilan unit HUNSSELA terbangun berkat dukungan para donatur, termasuk komunitas Minang Rancak (Ibu-ibu Perantau Minang di Jakarta), Yayasan Baiturrahmah, Grup Bunga Sumbar, serta berbagai tokoh perantau dan akademisi. Dua unit lainnya merupakan hasil kolaborasi Universitas Andalas dan Institut Teknologi Bandung, lengkap dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), fasilitas MCK, serta kegiatan trauma healing.
IKA UNAND, TNI, serta mahasiswa KKN dari Universitas Andalas, Universitas Riau, dan Universitas Bengkulu turut terlibat langsung dalam pembangunan dan penataan.Lebih jauh, Kadin juga tengah menjajaki kerja sama dengan PLN, PT Semen Padang, dan dinas terkait untuk pengembangan kawasan agar lebih terintegrasi ke depan.
Respons Cepat: Kunci Memutus Rantai Kemiskinan Pascabencana
Dr. Sosmiarti, menegaskan bahwa secara teori semua orang tahu bencana berdampak besar terhadap ekonomi. Namun masalah utama bukan pada teori, melainkan pada kecepatan respons. Pengalaman menunjukkan bahwa respons pemerintah sering kali lambat. Bantuan datang, tetapi momentum telah hilang. Sehingga menimbulkan suatu pertanyaan mendasar tetapi bersifat krusial, “Kapan hunian sementara idealnya dibangun?” “Kapan korban bencana seharusnya mulai bekerja kembali?”
Jika hunian sementara baru tersedia setelah tiga bulan, itu baik. Tetapi akan jauh lebih baik jika tersedia dalam satu minggu. Jika bantuan logistik diberikan selama dua bulan, itu membantu. Tetapi akan jauh lebih efektif jika korban sudah mulai kembali bekerja pada minggu pertama.
Seperti penjelasan sebelumnya, dalam perspektif ekonomi, satu minggu pertama pascabencana adalah periode emas (golden recovery window). Jika dalam periode ini masyarakat mendapatkan tempat tinggal layak dan akses kembali ke aktivitas produktif, risiko kemiskinan jangka panjang dapat ditekan secara signifikan. Pemulihan aktivitas ekonomi dalam satu minggu pertama dapat menjaga arus pendapatan, mempertahankan konsumsi, dan menstabilkan ekonomi lokal.
Perspektif Makro: Efisiensi Kapital dan Kualitas Pertumbuhan
Menurut Fadhil Aptana Sadjiana, S.E. mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Andalas, yang terlibat sebagai penulis pendamping dan kolaborasi akademik dari opini ini, respons cepat pascabencana tidak hanya dilihat dari dimensi sosial, tetapi juga dari perspektif makroekonomi. Dalam teori pertumbuhan, produktivitas kapital menentukan kualitas pertumbuhan ekonomi. Robert Solow dalam model pertumbuhannya menekankan pentingnya akumulasi modal dan efisiensi penggunaan kapital. Ketika bencana terjadi, terjadi depresiasi mendadak terhadap modal fisik dan modal manusia. Jika pemulihan terlambat, maka akan menyebabkan: produktivitas tenaga kerja menurun, modal sosial mengalami pelemahan, investasi menjadi tidak efisien, dan beban fiskal meningkat. Sebaliknya, intervensi cepat memiliki multiplier effect yang lebih besar.
Dalam konteks ini Dr. Sosmiarti dan Fadhil Aptana menilai, bahwa HUNSSELA bukan hanya proyek kemanusiaan, HUNSSELA adalah bentuk investasi publik dengan return sosial dan ekonomi yang tinggi. Dengan demikian, kebijakan cepat bukan hanya lebih manusiawi, tetapi juga lebih rasional secara ekonomi dan efektif menyelamatkan kehidupan masyarakat terdampak.
Kolaborasi sebagai Modal Sosial
HUNSSELA juga menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi simpul koordinasi respons kebencanaan. Kolaborasi antara akademisi, alumni, komunitas perantau, TNI, mahasiswa KKN, hingga sektor swasta memperlihatkan bahwa modal sosial masyarakat Sumatra Barat sangat kuat.
Dalam literatur ekonomi pembangunan, modal sosial sering kali menjadi faktor pembeda antara wilayah yang pulih cepat dan yang terjebak stagnasi. Kepercayaan dan jejaring mempercepat distribusi sumber daya.
Dari Proyek Sosial ke Model Kebijakan
Menurut Dr Sosmiarti dan tim, HUNSSELA Batu Busuak layak diposisikan sebagai pilot project penanganan dampak kebencanaan berbasis kecepatan dan keberlanjutan. Hal ini dapat diduplikasi untuk daerah terdampak bencana lainnya di kota Padang, Sumatera Barat, Sumatera dan wilayah lainnya di Indonesia, dimana penganan bencana berbasis kelompok atau kaum mempercepat pemulihan dampak bencana dari berbagai aspek, karena ikatan kelompok atau kekerabatan menjembatani semua informasi yang akurat dengan modal kepercayaan bahwa mereka akan terselamatkan secara adil.
Ke depan, yang dibutuhkan bukan sekadar respons ad hoc, melainkan sistem:
- Protokol pembangunan hunian sementara maksimal satu minggu pascabencana.
- Skema bantuan modal usaha cepat cair.
- Integrasi kampus, pemerintah daerah, dan dunia usaha dalam satu kerangka koordinasi tetap.
- Perencanaan relokasi berbasis lahan terdekat agar jaringan sosial tidak terputus.
Jika ini menjadi standar, maka kita tidak lagi sekadar “menolong korban”, tetapi memutus rantai kemiskinan pascabencana.
Penutup: Bencana Tidak Bisa Dicegah, Namun Keterlambatan Bisa dihindari
Bencana merupakan suatu fenomena keniscayaan geografis. Indonesia hidup di atas cincin api Pasifik, wilayah dengan risiko kebencanaan tinggi yang tidak bisa dihapus dari peta. Namun keterlambatan respons bukanlah keniscayaan alam, suatu bencana memerlukan kebijakan yang kolektif dan efektif. Ketika hunian sementara terlambat dibangun dan akses penghidupan tidak segera dipulihkan, yang hilang bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga waktu produktif dan stabilitas ekonomi rumah tangga.
Di titik inilah bencana dapat berubah menjadi mesin produksi kemiskinan ekstrem. Rumah tangga yang sebelumnya berada sedikit di atas garis kemiskinan dapat terperosok hanya karena kehilangan pendapatan selama beberapa minggu tanpa intervensi cepat. Penundaan berarti akumulasi utang, penjualan aset produktif, hingga terputusnya pendidikan anak. Jika respons datang terlambat, pemulihan menjadi semakin mahal, bukan hanya secara fiskal dan ekonomi, tetapi juga secara sosial.
HUNSSELA Batu Busuak menunjukkan bahwa respons cepat itu dapat dilakukan. Hunian yang layak dalam waktu singkat, pemulihan aktivitas ekonomi sejak awal, serta kolaborasi lintas institusi membuktikan bahwa kemiskinan pascabencana bukanlah takdir, melainkan risiko yang bisa dicegah. Tantangannya kini adalah menjadikan kecepatan sebagai standar kebijakan, bukan sekadar praktik baik yang lahir dari inisiatif sesaat. (*)

















