Tema yang Tersembunyi Dibalik Cerpen “The Lottery”

0
430
ads

Oleh: Rafli Arviansyah Apriadi
Padang TIME 

“The Lottery” merupakan salah satu karya cerita pendek fiksi yang cukup populer di dalam dunia literatur. Cerpen ini ditulis oleh Shirley Jackson, seorang penulis novel dan cerpen yang cukup dikenal dan berasal dari Amerika Serikat. “The Lottery” dipublikasikan secara luas untuk pertama kalinya pada 26 Juni 1948, tepatnya di sebuah majalah yang bernama “The New Yorker”.
Shirley Jackson diakui sebagai salah satu penulis yang paling berpengaruh dan pandai pada generasinya. Karya tulisnya dinilai unik karena menggunakan perpaduan tema yang tidak biasa dalam dunia literatur saat itu.
Dilansir dari situs American Writers Museum, Anna Hangler mengatakan bahwa Jackson sering menggunakan perpaduan antara horor dan humor dengan tema penekanan dan pengucilan.
Dari sejumlah karya fiksi yang dihasilkan oleh Jackson, “The Lottery” menjadi cerpen yang sangat terkenal dikarenakan terobosan atau metode Jackson yang memadukan 2 buah tema yang saling bertolak belakang bagi pembaca saat itu. Hasilnya berbagai pertanyaan hingga kontroversi pun muncul dari setelah cerita ini dipublikasikan hingga masa sekarang.
“The Lottery” mengisahkan sebuah ritual musiman yang rutin dilakukan di suatu desa. Ritual selalu dilakukan saat musim panas pada pertengahan Juni, yakni saat musim panen jagung datang.
Pada hari tersebut, seluruh penduduk desa berkumpul di sebuah lapangan di tengah desa untuk mencabut sebuah lotre, dimana nantinya keluarga siapa yang mendapatkan lotre tersebut, salah satu anggota keluarganya akan dijadikan tumbal dengan harapan menghasilkan banyak panen. 
“Dari banyaknya cerita pendek yang dihasilkan Shirley Jackson, The Lottery menjadi salah satu yang mengundang kritik serta tebakan yang terprovokasi tentang makna cerita yang membingungkan.”, tulis J.M. Gibson dalam jurnalnya An Old Testament Analogue for “The Lottery.” Journal of Modern Literature.
Pendapat lainnya juga dikatakan oleh Zalikha Marsya salah satu mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas, “The Lottery cukup menarik bagi saya karena terdapat kontradiksi pada bagian awal dan akhir cerita, saya pribadi juga merasa terkejut akibat akhir dari cerita ini.”.
Sekilas di awal cerita, suasana dan latar cerita ini digambarkan oleh Jackson sebagai tempat yang menyenangkan dimana semua penduduk sangat antusias menunggu lotre pada hari tersebut. Namun pada pertengahan menuju akhir cerita, tema cerita ini langsung berubah ke arah sebaliknya dari keadaan awal cerita.
Diceritakan seorang perempuan bernama Tessie Hutchinson dilempari secara bersamaan menggunakan batu oleh seluruh penduduk desa tersebut, akibat keluarganya yang mendapatkan lotre hari itu dan nahasnya dia yang mendapatkan sebuah kertas dengan titik hitam tanda dia yang akan dijadikan tumbal.
Tentu saja setelah membaca dan memahami cerita ini, sebagian besar pembaca merasa terkejut dan heran terhadap karya Jackson satu ini. Bahkan Alfred L. Kroeber, seorang antropologis dari University of California mengatakan, “Jika tujuan Shirley Jackson adalah untuk menyimbolisasikan hal mistik dan di saat yang sama juga melihatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka ia sudah berhasil.”. 
Dari pendapat diatas, “The Lottery” memang cukup sulit untuk dipahami makna dari ceritanya. “The Lottery di deskripsikan sebagai tradisi yang asal muasalnya tidak diketahui dan telah hilang makna aslinya seberapa signifikan hal tersebut.”, tulis V.S. Freimuth dan K. Jamieson dalam jurnal mereka ” The Lottery”: An Empirical Analysis of Its Impact. Research in the Teaching of English. 
Salah satu hal yang juga menarik perhatian pembaca adalah unsur kekerasan yang cukup tersirat sepanjang cerita. Sebagian besar pembaca termasuk saya sendiri baru menyadari hal tersebut saat membaca cerpen ini untuk beberapa kali.
Contohnya saat anak-anak di dalam cerita tersebut mengumpulkan batu-batu di awal cerita digambarkan dengan suasana gembira atau ceria, padahal nantinya batu-batu itu akan dilemparkan kepada yang orang mendapatkan lotre atau yang dikorbankan dimana cukup menonjolkan unsur kekerasan atau kesan horor dari cerita.
Walaupun begitu, jika kita meninjau ulang cerpen “The Lottery”, kita dapat memahami makna dari sang penulis. Cerpen ini memang mengambil tema horor sebagai tema utamanya, namun Jackson menyelipkan sedikit humor ataupun hal menyenangkan ke dalam cerita tersebut.
Pada akhirnya, tema horor tersebut menjadi sedikit tersembunyi akibat suasana cerita awal yang cukup ‘gembira’ diberikan oleh Jackson. “Saya berpikir bahwa Shirley Jackson menulis dengan tema-tema ini akibat kondisi jiwanya, tema horor ini kemungkinan akibat Jackson yang sedikit memiliki jiwa psycho sehingga diterapkan kepada karya tulisnya”, ucap Preity Zinta salah satu Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas.
Karya-karya Shirley Jackson sebenarnya memang berfokus kepada tema horor untuk sebagian besar ceritanya, namun “The Lottery” menjadi ‘kejutan’ di dunia literatur yang saat itu belum familiar dengan perpaduan tema yang sangat jarang diterapkan.
Karya-karya Jackson telah menginspirasi beberapa penulis seperti Stephen King dan Richard Matheson, dimana keduanya juga dikenal dengan karya-karya bertema horor. Bahkan pengaruh “The Lottery” pun sudah banyak ditemukan saat ini, ditandai banyaknya karya-karya literatur seperti novel yang sudah mengadaptasi gaya penulisan dari Jackson. 

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini