“Nonton Bokep Berjemaah Versi Halal Bihalal Modernitas”

0
1784
Oleh: Irawan Winata
Halalbihalal adalah jembatan spiritual untuk mempererat silaturahmi, sebagaimana amanat QS. Al-Hujurat ayat 10 yang menegaskan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara. Bagi masyarakat Minangkabau, tradisi ini adalah manifestasi nyata dari falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Setelah sebulan penuh menekan hawa nafsu, Idulfitri seharusnya menjadi momentum menyucikan diri melalui maaf yang tulus dan kegembiraan yang terukur.
Namun, di era globalisasi ini, makna “kegembiraan” telah mengalami distorsi yang mengkhawatirkan. Perayaan Idulfitri di berbagai pelosok daerah kini justru dinodai dengan pertunjukan organ tunggal yang menampilkan biduan berpakaian minim dengan goyangan erotis.
Seperti sesat berfikir di kampung-kampung, ada pergeseran logika (salah dalam berpikir) yang kolektif di tengah masyarakat kampung. Atas nama “menghibur perantau” atau “memeriahkan hari raya”, norma-norma agama dan adat dikesampingkan. Masyarakat seolah terjebak dalam pemikiran dangkal bahwa kemajuan dan kemeriahan harus diadopsi dari hiburan seperti organ tunggal yang menghadirkan biduan dengan goyangan dan memamerkan lekuk tubuh.
Penyelenggaraan acara ini sering kali lahir dari mufakat organisasi pemuda yang ironisnya direstui secara diam-diam oleh elemen Tigo Tungku Sajarangan. Pepatah “Hilir serangkuh dayung, mudik sehentak galah” yang seharusnya melambangkan kekompakan dalam kebaikan, kini disalahgunakan untuk melegitimasikan kemaksiatan berjemaah.
Dampak fatal dalam menormalisasi hiburan semacam ini, dapat membawa dampak sistemik yang mengerikan bagi generasi seperti;
Merusak Moral Anak:
Anak-anak yang menyaksikan tontonan ini akan merekam jejak visual yang buruk. Mereka tumbuh dengan persepsi bahwa objektifikasi perempuan dan perilaku seronok adalah hal wajar. Ini adalah racun bagi tumbuh kembang mental mereka.
Degradasi Budaya:
Nilai luhur raso jo pareso (rasa malu dan empati) runtuh seketika. Ketika mamak, keponakan, dan sumando menonton lekuk tubuh biduan bersama-sama, maka runtuhlah wibawa garis keturunan. Ini tak ubahnya seperti “nonton bokep berjemaah” yang dikemas dalam label halalbihalal ataupun memeriahkan suasana Idul Fitri.
Padahal banyak pilihan acara untuk mengembalikan marwah dalam memeriahkan Idul Fitri dan menghibur perantau tidak harus dengan mengorbankan iman dan adab. Masih banyak alternatif acara yang jauh lebih relevan dan memberikan efek positif jangka panjang seperti contohnya:
– Festival Seni Tradisional & Rabab Interaktif: Menghidupkan kembali kesenian lokal seperti Rabab, Saluang, atau Randai.
– Lomba Tahfidz & Adzan Antar Anak Nagari: Memberikan panggung apresiasi religi bagi anak-anak di depan para perantau.
– Diskusi Panel “Mamak Menjawab, Rantau Bertanya”: Forum silaturahmi intelektual antara tokoh adat dan perantau.
– Basidoncek (Galang Dana) Kreatif: Mengubah euforia lebaran menjadi beasiswa bagi anak yatim di kampung atau menyantuni anak yatim.
– Permainan Rakyat (Permainan Anak Nagari): Lomba yang menciptakan tawa sehat tanpa syahwat.
Dengan ini mungkin kita akan lebih indah dalam menjemput berkah, menjaga marwah dalam memeriahkan suasana, mari kita renungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Bagaimana mungkin kita mengharapkan keberkahan turun ke kampung halaman, jika hari kemenangan kita tutup dengan kemaksiatan yang dipertontonkan di depan anak cucu? Perilaku ini hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Tuhan dan meruntuhkan martabat bangsa.
Ingatlah petuah Minangkabau;
“Nan kuriak kundi, nan merah sago. Nan baiak budi, nan indah baso. Kalau rarak dindiang parapi, raraklah sandi nan di bawah. Kalau rusak moral nagari, rusaklah sendi kehidupan bangsa.”
Jika tatanan moral di nagari sudah runtuh karena kita membiarkan hiburan yang merusak, maka hancurlah pondasi masa depan generasi kita. Mari kita kembalikan Idulfitri sebagai hari kemenangan yang suci, bukan ajang untuk memulai dosa baru. (*)
* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini