29.3 C
Padang
Selasa, Juli 21, 2026
Beranda KABUPATEN Kabupaten Pesisir Selatan Menanam Harapan di Garis Pantai: Restorasi Mangrove dan Kebangkitan UMKM di Pulau...

Menanam Harapan di Garis Pantai: Restorasi Mangrove dan Kebangkitan UMKM di Pulau Karam

0
3880
PENULIS: DIKO OKTA SISWANDRA
Pesisir Selatan, Sumatera Barat — Padang TIME – Krisis iklim di kawasan pesisir Indonesia tidak lagi menjadi wacana. Abrasi pantai, kerusakan ekosistem mangrove, hingga kerentanan sosial ekonomi masyarakat pesisir menuntut adanya aksi nyata dan kolaborasi multipihak.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Sumatra Wild Adventure (SWA) bersama Wahid Foundation menggelar Conservation Camp 2026 dengan tema “Suara dari Pesisir: Aksi Nyata untuk Restorasi Mangrove & Literasi Iklim”. Kegiatan berlangsung pada 17–19 Juli 2026 di Pantai Muaro Bantiang, Nagari Pulau Karam, Kecamatan Tarusan, Kawasan Wisata Terpadu Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan.
Program ini merupakan bagian dari kampanye “Suara Rimba Pesisir”, sebuah gerakan restorasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove, peningkatan literasi iklim, serta penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan. Inisiatif ini didukung oleh Wahid Foundation, Temasek Foundation, Harmony in Action, Sumatra Wild Adventure, Suara Rimba Pesisir, dan CHEJ.
Nagari Pulau Karam dipilih sebagai lokasi kegiatan karena mengalami tekanan ekologis yang serius. Berdasarkan hasil kajian dan assessment lapangan tim SWA, abrasi telah mengikis garis pantai secara signifikan.
Hingga saat ini, sebanyak 350 bibit mangrove telah ditanam pada tahap kedua, dari target keseluruhan 1.000 tanaman. Penanaman difokuskan pada titik-titik pantai yang paling terdampak abrasi.
Dampak abrasi tidak hanya mengikis daratan, tetapi juga merusak vegetasi pelindung pantai seperti cemara laut Casuarina equisetifolia. Selain itu, Pantai Muaro di Pulau Karam merupakan jalur alami peneluran penyu yang kini menghadapi ancaman pengambilan telur secara ilegal.
Afwan, PIC Conservation Camp 2026, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari kampanye Suara Rimba Pesisir.“Conservation Camp adalah ruang praktik bagi masyarakat dan relawan untuk memulihkan garis pantai melalui penanaman mangrove. Di saat yang sama, kami juga memperkuat kapasitas warga agar dapat mengelola potensi lokal secara berkelanjutan, mulai dari UMKM hingga pariwisata berbasis alam,” ujar Afwan.
Ia menambahkan urgensi kegiatan ini berdasarkan data lapangan.
“Restorasi dilakukan karena abrasi di Pulau Karam sudah sangat signifikan. Sekitar 20 persen garis pantainya telah hilang. Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan terus meluas ke permukiman warga,” jelas Afwan.
Tantangan Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Kawasan Mandeh merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Sumatera Barat. Namun, peningkatan aktivitas wisata membawa konsekuensi terhadap keberlanjutan lingkungan yang harus dikelola agar tidak melampaui daya dukung.
Perubahan mata pencaharian sebagian masyarakat dari nelayan menjadi pelaku wisata juga menjadi catatan penting. Meskipun beralih sektor, keberlanjutan ekonomi mereka tetap bergantung pada kondisi lingkungan pesisir.
“Persoalan ekologis di Pulau Karam tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ada ancaman abrasi, deforestasi mangrove yang cukup luas, ditambah kerentanan ekonomi karena warga masih sangat bergantung pada hasil laut,” ungkap Afwan.
Memadukan Restorasi Ekosistem dengan Penguatan UMKM
Conservation Camp 2026 mengusung pendekatan konservasi berbasis masyarakat. Berbagai kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman bibit mangrove, edukasi perubahan iklim, peningkatan kapasitas warga, serta pengembangan ekonomi berbasis sumber daya pesisir.
Program ini melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT), kader PKK, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), mahasiswa, dan generasi muda. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan UMKM melalui inovasi produk berbahan dasar potensi lokal, seperti olahan buah nipah Nypa fruticans, agar memiliki nilai tambah dan berkelanjutan.
Novi Fani Rovika, Founder Sumatra Wild Adventure, menyoroti dampak perubahan iklim yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.

“Bagi kami, krisis iklim bukan isu yang jauh. Dampaknya nyata di depan mata. Tradisi dan kearifan lokal seperti mamuke kini sulit dilakukan karena ekosistemnya telah berubah. Melalui gerakan ini, kami ingin mengembalikan hubungan harmonis antara manusia dan alam,” ujar Fani.

Generasi Muda dan Perempuan sebagai Pilar Konservasi
Keterlibatan generasi muda menjadi perhatian penting dalam program ini. Diko Okta Siswandra, salah satu peserta, menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
“Menjaga alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral yang harus kita tuntaskan hari ini. Setiap kerusakan yang kita biarkan adalah utang ekologis bagi generasi penerus,” tegas Diko.
Dukungan masyarakat, khususnya kelompok perempuan, juga menjadi kunci keberhasilan. Fani menyampaikan apresiasinya terhadap semangat warga.
“Kesan paling mendalam adalah antusiasme luar biasa dari ibu-ibu di sini. Mereka menjadi benteng utama dan motor penggerak di lapangan. Dukungan mereka bersama pemerintah nagari adalah kekuatan terbesar kami,” tambah Fani.
Membangun Model Konservasi Berbasis Masyarakat
Ke depan, penyelenggara berharap Conservation Camp 2026 menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas untuk menjaga kawasan Pulau Karam.

“Harapannya, kegiatan ini menjadi awal kita bisa berkegiatan bersama masyarakat Pulau Karam. Tidak hanya SWA, tetapi juga pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dapat melihat Pulau Karam sebagai lokasi yang perlu mendapat perhatian,” ujar Afwan.

Melalui gerakan “Suara Rimba Pesisir”, model konservasi berbasis masyarakat ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan diterapkan di wilayah pesisir lain di Indonesia. Kolaborasi antara komunitas lingkungan, lembaga sosial, pemerintah nagari, masyarakat lokal, mahasiswa, dan generasi muda menjadi langkah penting untuk memastikan ekosistem pesisir tetap lestari.
Menjaga pesisir bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang mempertahankan ruang hidup masyarakat serta memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang. *
* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini