Ada pepatah lama yang sering kita dengar: “Air yang tenang takkan beriak.” Kita sering menjadikannya sebagai mantra untuk menenangkan diri. Namun, jika dikaji lebih dalam, pepatah ini bisa menjadi jebakan mematikan bagi pertumbuhan jiwa. Air yang terlalu tenang, jika tak ada aliran masuk atau keluar, lama-kelamaan akan menjadi genangan. Air genangan itu jernih di awal, tapi seiring waktu, ia akan berubah menjadi hijau berlumut, menjadi sarang nyamuk, dan akhirnya membusuk.
Kehidupan kita tak jauh beda dengan air itu. Banyak dari kita – masyarakat umum maupun mahasiswa – yang terjebak dalam ilusi ketenangan. Kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki hari ini. Kita merasa comfortable dengan zona nyaman. “Toh, saya bisa makan hari ini. Toh, IPK saya lulus cumlaude meski hanya belajar semalam sebelum ujian.”
Baca juga: SUPERSEMAR, DAN PENTINGNYA DOKUMEN SEJARAH Pertanyaannya: Apakah ini tujuan akhir hidup? Hanya bertahan, bukan berkembang?
Di sinilah urgensi “Penetapan Lawan” menjadi sesuatu yang krusial. Tanpa lawan, tanpa tantangan, dan tanpa target yang harus dikalahkan, potensi diri kita akan mengalami atrofi – menyusut layaknya otot yang tak pernah digunakan. Tulisan ini mengajak Kita untuk tidak takut pada kompetisi, tetapi menyambutnya dengan tangan terbuka sebagai satu-satunya cara untuk mengetahui seberapa dalam kekuatan yang Kita miliki. Selamat membaca, dan mari kita menetapkan lawan.
BAGIAN 1
DIAGNOSA KENIKMATAN: BAHAYA HIDUP TANPA TARGET
Narasi: Sindrom “Numpuk Lewat”
Coba bayangkan seekor singa di kebun binatang. Setiap hari, pada jam yang sama, pawang melempar daging segar ke dalam kandangnya. Singa itu tidak perlu berlari, tidak perlu menerkam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk makan. Awalnya, ia mungkin merasa senang. Hidup mudah. Tapi setelah beberapa tahun, apa yang terjadi? Mata singa itu kehilangan kilasannya. Otot-ototnya mengendor. Insting pemburu yang membara padam. Ia berubah menjadi seekor kucing besar yang malas, kesehatannya menurun, dan ia kehilangan jati dirinya sebagai Sang Raja Hutan.
Ini adalah gambaran yang sangat mirip dengan fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa dan pekerja saat ini. Kita hidup di era kemudahan akses. Informasi ada di genggaman, hiburan ada di layar kaca. Kita mudah merasa puas. Jika teman kita dapat nilai B, dan kita dapat B , kita sudah merasa menang. Jika gaji teman kita lima juta, dan kita mendapat enam juta, kita merasa sukses.
Kita berhenti menetapkan “lawan”. Kita berhenti menetapkan standar yang lebih tinggi.
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk hemat energi (homeostasis). Otak kita memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu seminimal mungkin demi bertahan hidup. Namun, dalam konteks perkembangan diri (self-actualization), sifat bawaan ini justru boomerang. Tanpa adanya tekanan eksternal – sebuah “lawan” yang harus dikalahkan – kita akan cenderung stagnan.
Menetapkan lawan bukan berarti kita harus membenci orang lain atau menjadi individu yang penuh permusuhan. Tidak. Ini tentang strategi psikologis untuk memicu adrenalin positif. Lawan di sini adalah “benchmark” (tolok ukur) dan “catalyst” (katalis) yang memaksa kita untuk bangun pagi lebih awal, membaca satu buku lagi, atau mengasah skill yang belum kita kuasai. Jika Kita merasa hidup hambar, atau kemajuan Kita berjalan sangat lambat, mungkin diagnosa sederhananya adalah: Kita belum memiliki lawan yang layak.
BAGIAN 2
FILOSOFI PANAH: TARIKAN MENENTUKAN JARAK TEMBAK
Hikmah: Ilmu Fisika Kehidupan
Dalam ilmu fisika dasar, kita mengenal Hukum III Newton tentang Aksi dan Reaksi. Namun, ada analogi yang lebih indah tentang busur panah. Pernahkah Anda melihat seorang pemanah melepaskan anak panahnya? Agar anak panah itu bisa menembus udara dengan kencang dan mengenai sasaran jauh, tali busur harus ditarik ke belakang sekuat tenaga. Semakin kuat tarikan ke belakang, semakin jauh dan kencang anak panah itu meluncur ke depan.
Tarikan ke belakang itu adalah “Lawan”. Rasa sakit karena tertinggal, rasa minder karena kemampuan kita masih di bawah standar, tekanan ekonomi, atau kegagalan masa lalu – itulah yang menarik tali busur kita.
Jika kita menolak untuk memiliki lawan, jika kita menolak merasakan sakit karena tertekan oleh kompetisi, maka tali busur kita tidak akan pernah ditarik. Anak panah kita akan meluncur pelan, jatuh di kaki kita sendiri, tak pernah mencapai target.
”Menetapkan Lawan adalah Menetapkan Arah”
Bayangkan Kita berlari di lapangan bola yang sangat luas tanpa adanya gawang. Anda bisa lari ke utara, selatan, timur, atau barat. Tapi karena tidak ada “lawan” (gawang yang harus dimasuki bola), lari Kita hanya akan membuat Kita lelah tanpa tujuan. Lawan memberikan “arah” pada energi yang kita miliki. Bagi mahasiswa, menetapkan lawan bisa berupa menargetkan untuk mengalahkan predikat cumlaude angkatan sebelumnya. Bagi pebisnis, lawan bisa berupa target market share yang harus direbut dari kompetitor. Bagi ibu rumah tangga, lawan bisa berupa versi dirinya sendiri kemarin yang lebih emosional, hari ini harus lebih sabar.
Dengan menetapkan lawan, kita mengubah energi yang terdispersi (tersebar di mana-mana) menjadi energi yang terfokus (terkonsentrasi pada satu titik sasaran).
BAGIAN 3 PERSPEKTIF ILAHIYAH: DALIL DAN TAFSIR
Ini adalah bagian terpenting. Sebagai manusia beriman, urgensi penetapan lawan bukan hanya didorong oleh motif psikologis duniawi, tetapi lebih-lebih oleh perintah agama. Islam memuliakan kompetisi, namun kompetisi yang terarah.
Dalil Pertama: Lomba Menuju Kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 148:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Kata kunci di sini adalah “Fastabiqul Khairat”. Secara bahasa, “fastabiqu” berasal dari kata “sabaqa”, yang artinya berlari kencang untuk mendahului orang lain. Ini adalah bentuk perintah yang tegas untuk memiliki semangat “mengejar” dan “mendahului”. Bagaimana kita bisa mendahului jika tidak ada orang lain yang kita jadikan tolok ukur (lawan)? Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan ini adalah arena balap. Bukan balap untuk saling menjatuhkan, tapi balap siapa yang paling banyak amal shalihnya, ilmunya, dan manfaatnya bagi umat.
Dalil Kedua: Dorongan Menuju Ampunan
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 21:
“Bergegaslah kamu kepada (memperoleh) ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Hadid: 21)
Perhatikan kata “Bergegaslah” (Sari’u). Ini adalah imperatif (perintah) untuk bersifat urgensi. Rasa santai dan tidak memiliki target lawan bertentangan dengan semangat “sari’u” ini. Nabi SAW sendiri memberikan contoh bagaimana beliau menyadari adanya “lawan waktu” dan “lawan nafsu”.
Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
Penetapan lawan adalah cara kita bersyukur atas kesehatan dan waktu luang. Jika waktu luang kita isi dengan kebodohan tanpa adanya tekanan untuk belajar atau berbuat baik, maka kita termasuk orang yang tertipu.
Tafsir Kontekstual: Musuh Utama vs Lawan Taktis Dalam pandangan Islam, musuh utama yang nyata ada tiga: Hawa Nafsu, Syaitan, dan Dunia yang menipu. Namun, untuk mengalahkan ketiga musuh ini, kita membutuhkan “Lawan Taktis” di dunia nyata. Lawan taktis ini bisa berupa teman sejawat yang lebih rajin, bisa berupa atasan yang tegas, atau bisa berupa standar tinggi yang kita buat sendiri.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata, “Jika kamu tidak menjadikan kesibukanmu sebagai lawan bagi kelemahanmu, maka kelemahanmu akan menjadikanmu sebagai tawanan.”
BAGIAN 4 KISAH-KISAH INSPIRATIF: KETIKA LAWAN MELAHIRKAN KEJAYAAN
Sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar lahir bukan dari ruang hampa, tapi dari rahim kompetisi dan penetapan lawan yang keras. Kisah 1: Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Mu’az (Dalam Adab Debat)
Dalam literatur Islam, kisah tentang debat antara Sahabat Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Mu’az sering diceritakan. Saat itu, Rasulullah meminta mereka berdua untuk mendebat isu hukum. Ali, yang cerdas dan fasih, mempersiapkan argumennya dengan matang. Ia tahu Sa’ad adalah figur yang dihormati dan kuat pendiriannya. Ali menjadikan Sa’ad sebagai “lawan” intelektual yang harus dikalahkan dengan argumentasi terbaik, bukan dengan permusuhan. Hasilnya? Debat itu melahirkan hikmah dan penetapan hukum yang kuat. Ali tidak menyalahkan keberadaan Sa’ad, justru ia bersyukur ada Sa’ad yang memaksa otaknya bekerja maksimal.
Kisah 2: Rivalitas Aristotle dan Plato (Filsafat Barat)
Aristoteles adalah murid dari Plato. Dalam dunia akademik, biasanya murid mengikuti jejak gurunya. Namun Aristotle memiliki cara pandang berbeda. Ia menjadikan pemikiran gurunya sendiri sebagai “lawan” diskusi. Ia mengatakan kalimat terkenal: “Amicus Plato, sed magis amica veritas” (Plato adalah sahabatku, tapi kebenaran lebih kuat cintaku). Ia berani menentang gagasan Plato demi menemukan kebenaran yang lebih hakiki. Karena ia berani menetapkan standar pemikiran gurunya sebagai lawan untuk dilewati, lahirlah konsep-konsep filsafat yang menjadi dasar peradaban Barat dan Islam kemudian hari. Bayangkan jika Aristotle hanya mengangguk-angguk saja pada Plato. Kisah 3: Seekor Rusa dan Singa (Fabel Kehidupan)
Di sebuah hutan, seekor rusa berkata pada temannya, “Aku bisa berlari sangat cepat, melebihi singa.” Temannya menjawab, “Mengapa kamu bisa secepat itu?” Rusa itu menjawab tegas, “Ketika aku berlari, aku membayangkan singa ada di belakangku. Jika aku lambat, aku mati. Jika aku cepat, aku hidup. Singa itu adalah lawanku, tapi sekaligus penyelamatku.”
Dalam kehidupan nyata, “singa” itu bisa berarti deadline tugas skripsi, bisa berarti kebutuhan ekonomi keluarga, atau bisa berarti pesaing di dunia kerja. Jika tidak ada “singa” yang mengejar, rusa itu akan menjadi gemuk dan lambat, mudah diburu siapa saja.
Kisah 4: Atlet Bolt dan Rekor Dunia Usain Bolt, pelari tercepat di dunia, tidak pernah berlari sendirian di kepalaanya. Ia selalu mengejar “waktu” dan “rekor”. Ia menjadikan jam stopwatch sebagai lawannya. Dalam setiap lomba, kehadiran pelari-pelari lain di lintasan sebelahnya adalah pemicu adrenalin. Dalam wawancara, Bolt pernah mengatakan bahwa kehadiran pesaing terdekatnya membuatnya mampu memecahkan rekor yang mustahil dilakukannya jika ia hanya berlari sendirian di lapangan latihan.
BAGIAN 5
STRATEGI PRAKTIS: MENETAPKAN LAWAN BAGI MAHASISWA & MASYARAKAT UMUM
Teori tanpa praktik adalah omong kosong. Bagaimana cara menerapkan “Penetapan Lawan” ini dalam keseharian tanpa membuat kita stres atau depresi?
1. Klasifikasi Lawan: Siapa Musuhmu?
Jangan salah menetapkan lawan. Jangan menjadikan teman sekerja sebagai musuh yang harus dibunuh karakternya. Itu berbahaya. * Lawan Eksternal Positif: Teman yang rajin, atasan yang kritis, kompetitor di bisnis. Jadikan mereka sebagai cermin. “Jika dia bisa, kenapa saya tidak?”
* Lawan Abstrak: Waktu, Kemalasan, Ketidaktahuan.
* Lawan Internal (Paling Penting): Diri Sendiri Kemarin. Ini adalah lawan terbaik. Targetkan hari ini harus lebih baik dari kemarin.
2. Teknik “Shadow Boxing” (Petinju Bayangan)
Bagi mahasiswa yang belum menemukan teman yang selevel, gunakan teknik “Shadow Boxing”. Bayangkan ada seseorang yang luar biasa hebat – misalnya seorang ilmuwan atau pengusaha sukses – selalu berdiri di samping Kita.
* Ketika malas bangun shubuh, bayangkan “Tokoh Idola” itu sudah menyelesaikan hafalan Qur’an nya.
* Ketika malas mengerjakan tugas, bayangkan dia sedang menulis buku.
Bertindaklah seolah-olah Kita sedang berkompetisi dengannya. Ini adalah teknik psikologis yang ampuh.
3. Jaga Sportivitas dan Adab Penetapan lawan dalam Islam diikat oleh adab. Rasulullah bersabda: “Jangan dengki kecuali dalam dua hal: terhadap orang yang diberi harta lalu dia belanjakannya di jalan kebenaran, dan terhadap orang yang diberi hikmah lalu dia mempergunakannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari Muslim).
Rasa iri yang positif (ghibthah) inilah yang menjadi bahan bakar. Bukan iri yang membuat Kita ingin menjatuhkan orang lain, tapi iri yang membuat Kita ingin menyalin kesuksesan mereka.
4. Evaluasi Berkala
Seperti atlet yang melihat rekaman pertandingan, mahasiswa dan pekerja harus evaluasi diri. “Apakah saya sudah berhasil mengalahkan malas saya hari ini? Apakah saya sudah mendekati target saya?” Jika Kita kalah hari ini dari lawan Kita, jangan menyerah. Besok, latihanlah lebih keras.
Contoh Kasus Nyata:
Andi, mahasiswa semester 3, nilainya pas-pasan. Dia iri pada Budi yang selalu IPK nya 4.0. Alih-alih membenci Budi atau menyebarkan gosip, Andi mendekati Budi. “Bi, bagaimana cara kamu belajar?” Budi menjawab. Andi lalu menetapkan strategi: Saya harus mengalahkan Budi dalam hal kedatangan ke kelas. Awalnya Budi masih lebih rajin. Tapi semester berikutnya, Andi berhasil datang lebih awal dan lebih siap. Lawan (Budi) telah berhasil mendorong Andi menjadi versi terbaik dari dirinya.
PENUTUP
SAATNYA MENJADI RAJA DIRI SENDIRI
Hikmah Penutup: Pedang dan Batu
Sebuah pedang yang tajam tidak akan terbentuk jika besinya hanya dipijit-pijit lembut. Ia harus ditempa, dipukul, dan dibenturkan ke batu yang keras berkali-kali. Batu itu adalah “lawan” bagi pedang. Tanpa benturan dengan batu yang keras, besi itu hanya akan menjadi gumpalan logam yang tumpul dan tak berguna. Kita adalah besi itu. Kehidupan dengan segala tantangannya adalah palu tempa. Dan orang-orang yang sukses di sekitar Kita adalah batu pengasah.
Jangan takut jika Kita merasa “terkalahkan” saat ini. Jangan putus asa jika kita melihat orang lain jauh lebih unggul. Itu tandanya kita sedang ditempa. itu tandanya Kita memiliki “Lawan” yang layak.
Urgensi penetapan lawan bukanlah soal siapa yang paling populer, siapa yang paling kaya, atau siapa yang paling pintar di atas kertas. Urgensi ini adalah soal “kematangan jiwa”. Jiwa yang matang adalah jiwa yang menyadari bahwa hidup adalah perjuangan konstan. Berhenti melawan berarti berhenti hidup. (*)