PADANG, 14 Maret 2026 – Gerakan anak muda selalu lahir dari gagasan, keberanian, dan idealisme. Namun hari ini muncul pertanyaan krusial: apakah gerakan Gen Z di Sumatera Barat masih berdiri kokoh di atas nilai idealisme, atau justru mulai terseret ke dalam arus transaksional yang pragmatis?
Menjawab kegelisahan tersebut, IDEALIZ menggelar diskusi bertajuk Bacrit (Banyak Cerita) di Padang, Sabtu (14/3). Diskusi ini bukan sekadar ajang tukar pikiran, melainkan sebuah ikhtiar untuk membentuk solusi konkret melalui rencana konferensi besar yang merangkul seluruh lini aktivis demi menyelesaikan masalah di akar rumput.
Acara ini menghadirkan sederet tokoh aktivis dan pemuda lintas sektor, yang di antaranya Irianto (Presma Universitas Adzkia), Hafiz (CEO Hatta Aksara Project), Akhiz (Ketua Umum PHP UNAND), Ridho atau yang akrab disapa Bang Ajo (Aktivis HAM), Aseng Siregar (Inisiator Idealiz Indonesia & Ketua Umum PN Pemimpin Muda Pertanian Indonesia), Taufik (Ketua Umum PRIMA DMI Sumbar), Rangga (Jurnalis Muda), dan Hidayatullah Fikri (Korpus BEM se-Sumatera Barat). Serta turut hadir pula Nanda Satria, Wakil Ketua DPRD Sumbar sekaligus Ketua KNPI Sumatera Barat beserta rombongan.
Diskusi dibuka oleh Hafiz, yang bertindak sebagai moderator. Ia mengawali pernyataan dengan menyoroti kondisi kritis yang dihadapi pemuda hari ini. Menurutnya, gerakan Gen Z saat ini terjebak dalam dilema besar saat harus menyuarakan aspirasi masyarakat di tengah gempuran kepentingan.
Gerakan pemuda saat ini berada pada titik dilematis dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Ia menyoroti pada perdebatan tajam pasca-gerakan besar 01 September di Sumbar; banyak yang menuding gerakan tersebut telah dibajak oleh nominal tertentu.” ungkap Hafiz memantik diskusi.
Hafiz memperkuat argumentasinya dengan membandingkan anomali situasi di lapangan. Ia mempertanyakan mengapa eskalasi gerakan di Sumatera Barat cenderung landai dan aman tanpa kericuhan berarti, padahal isu yang diangkat merupakan masalah fundamental yang memicu kemarahan besar di tingkat nasional.
Hafiz kemudian melemparkan pertanyaan besar kepada para narasumber mengapa fenomena pragmatisme ini bisa terjadi dalam tubuh gerakan di Sumatera Barat?
Merespons pemantik tersebut, Irianto menyoroti adanya anomali di mana gerakan mahasiswa kini sering dipandang negatif akibat afiliasi yang terlalu kuat dengan para senior atau Kanda.
Narasi transaksional ini harus dihilangkan karena merusak citra pergerakan. Gerakan mahasiswa di Sumbar kerap dirusak oleh dominasi komunitas, karena aktivisnya cenderung disetir oleh kepentingan kanda-kandanya. Ini tanggung jawab kita untuk membicarakannya sekarang” tegas Irianto.
Akar masalah ini diperdalam oleh Aseng Siregar. Ia menilai kerentanan aktivis terhadap praktik transaksional disebabkan oleh hilangnya kemampuan untuk berdikari secara ekonomi dan gagasan.
Masalahnya, banyak yang diusung masuk ke lini strategis tapi tidak memiliki kompetensi sama sekali. Karena anak muda tidak memiliki kemampuan berdikari, mereka menjadi sangat mudah dihitung dengan angka” ujar Aseng.
Dari pandangan ini, ia menyimpulkan bahwa tanpa kemandirian dan penguasaan ilmu yang mumpuni, aktivis akan terus menjadi komoditas politik yang murah dan mudah dikendalikan.
Kondisi tersebut menimbulkan tanya besar di kalangan audiens diskusi mengenai kemurnian sebuah gerakan di tengah ketergantungan finansial dan pengaruh elit. Alih-alih menjadi motor perubahan yang independen, gerakan pemuda hari ini dinilai kerap terfragmentasi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang rentan untuk dipecah belah oleh kepentingan luar. Fenomena ini menciptakan kesan bahwa aktivisme tidak lagi berangkat dari kesadaran murni atas keresahan masyarakat, melainkan telah bergeser menjadi instrumen untuk mencari eksistensi atau bahkan pemenuhan kebutuhan pribadi para pelakunya.
Ridho, yang sering dipanggil dengan sebutan Bang Ajo, menambahkan bahwa saat ini gerakan berada di masa hybrid—sebuah zona abu-abu di antara idealisme yang tersisa dan pragmatisme yang mendesak. Ia mengidentifikasi penyebab utama pragmatisme tersebut adalah faktor sistemik dan gaya hidup.
Penyebabnya sangat kompleks; pada dasarnya banyak gerakan yang akhirnya berkompromi hanya untuk mengisi perut kosong. Hal ini dipicu oleh beban pembiayaan pendidikan di universitas yang sangat berat, yang kemudian berbenturan dengan tuntutan gaya hidup tinggi di kalangan aktivis itu sendiri. Belum lagi adanya upaya penyusupan di setiap pergerakan dengan iming-iming jaminan masa depan di dunia politik praktis. Kita sedang berada di persimpangan, di mana keseriusan gerakan seringkali kalah oleh kepentingan yang melekat pada diri individu masing-masing” tegas Bang Ajo
Ia secara gamblang menyatakan bahwa krisis idealisme ini adalah dampak nyata dari tekanan ekonomi yang memaksa aktivis mengutamakan urusan perut di atas perjuangan rakyat.
Kritik tajam juga datang dari Rangga, salah satu inisiator diskusi ini, yang menyoroti hilangnya tradisi intelektual dalam aksi massa. Ia menyayangkan pola aktivis yang lebih gemar melakukan lobi “ngolah” di belakang layar ketimbang turun ke basis masyarakat.
Banyak aktivis minim riset dan abai pada pemberdayaan masyarakat. Gerakan sekarang acap kali omong kosong karena menyuarakan kaum yang terlibat tanpa benar-benar melibatkan mereka secara organik” tutur Rangga.
Di tengah perdebatan mengenai krisis kompetensi aktivis, Akhiz mengingatkan kembali akan hakikat asli dari pergerakan pemuda. Menurutnya, DNA gerakan mahasiswa sejatinya adalah respons organik terhadap penderitaan rakyat.
Gerakan itu seharusnya berangkat dari keresahan yang berdampak langsung di masyarakat. Aktivis hanya penyambung lidah untuk menyuarakan keresahan tersebut. DNA gerakan kita hari ini masih menyambut keresahan masyarakat, namun masalahnya, gerakan transaksional muncul ketika aktivis mulai terjebak dalam kelompok-kelompok kecil atau circle-circle eksklusif. Pola berkelompok yang tertutup inilah yang membuat gerakan rentan berpecah belah dan akhirnya mudah disusupi kepentingan luar” jelas Akhiz.
Ia mengingatkan bahwa eksklusivitas kelompok adalah celah terbesar yang menghancurkan persatuan aktivis dalam menyuarakan hak-hak rakyat secara kolektif.
Kegagalan membangun persatuan ini diamini oleh Hidayatullah Fikri yang melihat iklim transaksional justru dipupuk oleh sistem di dalam kampus itu sendiri.
Keadaan transaksional ini didukung oleh sistem kampus yang ada sekarang. Kesepahaman akan idealisme sudah sangat rendah; orang-orang baru mau ikut bergerak hanya jika ada manfaat pribadi yang bisa didapat. Kegagalan di setiap organisasi saat ini adalah akibat dari tidak kuatnya solidaritas di tiap lini. Solidaritas itu sudah luntur, tidak ada kawan gerakan yang muncul untuk mem-backup. Jika di internal saja tidak ada persatuan, bagaimana kita mau bicara perubahan untuk masyarakat?” ungkap Fikri.
Baginya, rapuhnya solidaritas internal adalah lonceng kematian bagi setiap perjuangan mahasiswa yang ingin membawa perubahan nyata.
Namun, Taufik mencoba memberikan perspektif penyeimbang bahwa semangat idealisme di Sumatera Barat belum sepenuhnya padam melalui panggilan hati nurani. Baginya, bukti nyata bahwa idealis itu tetap ada dengan respon para pemuda yang tetap menyambut panggilan aksi jika hal itu berkaitan dengan keadilan, tanpa perlu diundang secara formal.
Niat baik akan tetap dipandang jahat karena pelabelan buruk yang sudah terlanjur melekat sebagai identitas aktivis hari ini. Kita tidak bisa menggeneralisasi semua gerakan sebagai transaksional. Saya percaya hati nurani pemuda Sumatera Barat tetap terjaga; mereka akan tetap datang dan bergerak jika nuraninya merasa keadilan sedang bersenggolan” bela Taufik.
Ia meyakini bahwa di tengah stigma negatif yang ada, nurani pemuda masih menjadi benteng terakhir yang akan bereaksi secara murni terhadap ketidakadilan.
Diskusi ini ditutup dengan apresiasi dari Nanda Satria, S.IP yang mendukung penuh dialektika konstruktif para aktivis ini.
Gerakan transaksional untuk memperjuangkan kepentingan rakyat itu sah secara nilai, namun jika menyentuh penyalahgunaan keuangan, itu yang harus diberantas. Saya mendukung gerakan konkrit yang menyentuh realitas masyarakat. Saya pribadi akan berupaya ikut membersamai dalam konferensi lanjutan nanti untuk menyambut hasil pemikiran kalian agar bisa diwujudkan dalam bentuk kebijakan” tuntasnya.
Nanda menegaskan komitmennya untuk membawa aspirasi diskusi ini ke ranah kebijakan publik sebagai bentuk dukungan nyata bagi gerakan pemuda.
Meskipun terdapat perdebatan sengit dan panjang, forum akhirnya mencapai kesepakatan besar. Forum IDEALIZ menyepakati satu langkah nyata yaitu menyelenggarakan konferensi besar untuk merumuskan peta jalan gerakan yang kolektif-kolegial. Gerakan ini nantinya akan berbasis pada riset mendalam dan merangkul semua lini aktivis demi memastikan suara anak muda Sumatera Barat kembali murni, berintegritas, dan berdampak langsung pada masalah di akar rumput. [Mbee]
Baca Juga  MELAWAN ARUS STAGNASI ~ Urgensi Penetapan Lawan Dalam Menghidupi Kehidupan
* 
https://www.semenpadang.co.id/id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini