Maret 2026 – Langit Ramadhan kembali memayungi bumi, membawa serta titah purba yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa, dalam ruang sunyi sanubari, adalah sebuah “candu” suci. Ia adalah kerinduan yang menggebu untuk bersimpuh di hadapan perintah-Nya, sebuah ketakutan yang syahdu untuk melangkah ke jurang maksiat, dan tangan yang ringan membagi rezeki, seperti air yang mengalirkan ilmu, tenaga, dan waktu. Di dalam rahim yang takwa, lahirlah pribadi yang pemaaf, jiwa yang jujur, serta raga yang memeluk sabar dalam penyerahan diri kepada Sang Pemilik Hidup.
Namun, di tengah bisingnya zaman, muncul sebuah anomali yang saya sebut sebagai “Islam Kontemporer”.
Jika dalam jagat estetika, kata “kontemporer” adalah altar bagi kebebasan eksperimen dan pemujaan masa kini, maka dalam beragama, istilah ini menjadi satir yang getir. Islam Kontemporer adalah sebuah teater keberagamaan yang hanya merayakan kulit, namun kehilangan inti. Ia adalah panggung di mana rukun-rukun suci tak lagi dianggap sebagai tiang agama, melainkan sekadar aksesoris yang bisa ditanggalkan kapan saja.
Lihatlah bagaimana fenomena ini mewujud dalam fragmen-fragmen sosial kita. Penganut Islam Kontemporer adalah mereka yang menyediakan rumah makan berbalut terpal biru, sebuah kamuflase rasa malu yang dipaksakan. Di balik tirai itu, kita melihat ironi yang menyesakkan, sosok berseragam tentara yang seolah siap ke medan laga, namun menyerah kalah pada rasa lapar sebelum genderang perang benar-benar ditabuh. Kita melihat aparat yang semestinya sabar mengayomi masyarakat, justru kehilangan kesabaran hanya untuk menanti waktu berbuka.
Ironi ini merayap hingga ke sekat-sekat birokrasi dan pendidikan. Instansi pemerintahan dengan bangga menyediakan ruang makan khusus untuk menyembunyikan “kekalahan”, sementara di ruang-ruang kelas, ada guru-guru yang sembunyi-sembunyi menyulut rokok di balik meja, mencoreng martabat ilmu dengan ketidakmampuan menahan nafsu.
Bagi mereka, Syahadat tak lagi menjadi proklamasi penyerahan ruh, melainkan sekadar derap kata dalam percakapan yang remeh. Shalat tiang agama yang semestinya tegak itu kini meliuk mengikuti suasana hati, dilakukan jika sempat, ditinggalkan tanpa sesal. Begitu pula dengan Zakat dan Haji yang diletakkan di sudut paling belakang dari daftar keinginan duniawi, ixixixixiiix.
Puncaknya adalah saat hilal kemenangan tiba. Mereka yang mengabaikan lapar di bulan Ramadhan justru menjadi orang yang paling “khusyuk” merayakan Idul Fitri. Mereka memuja eksistensi dalam perayaan baju-baju baru yang mengilap, keriuhan THR, hingga ritual silaturahmi yang lebih mirip pameran pencapaian daripada pembersihan noda hati. Mereka merayakan kemenangan tanpa pernah sedetik pun turun ke medan perang melawan hawa nafsu.
Tulisan ini lahir dari buah cinta kepada sesama namun ini adalah sebuah cemoohan tajam bagi mereka yang menganggap agama sebagai sekadar gaya hidup yang bisa dipatut-patutkan. Islam bukanlah instalasi seni kontemporer yang bisa ditafsirkan semaunya atas nama kebebasan berekspresi. Ia adalah jalan ketaatan yang mutlak. Sungguh malang, jika kita hanya pandai berhias untuk merayakan hari kemenangan, sementara jiwa kita masih terbelenggu dalam kekalahan yang amat panjang. (*)