Cintailah Kucing Sebagaimana Kita Mencintai Diri Sendiri

1681

Padang TIME.com-Rumah Kucing Parung, Bogor kini mulai banyak diperbincangkan sebagai tempat penampungan kucing terlantar atau yang ditinggal pemiliknya karena tak sanggup merawat. Di balik itu semua ada jerih payah dan keringat dalam membuka penampungan atau shelter kucing yang sarat edukasi ini. 

Sewaktu didatangi rumah ibu dengan 250 kucing yang ada di Jalan Pasir Naga, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Kemang Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. “Silahkan masuk, Mas,” sahut pemilik rumah, Dita Agusta (45) didampingi suaminya, Moh Luthfi (51).PictureSejumlah kucing pun lantas menghampiri dan suara meong terdengar bersahutan tanda menyambut orang asing.

Kondisi di rumah itu benar-benar berbeda, cat dinding warna kuning, bersih, jauh dari kata bau. Kucing-kucing itu bebas berkeliaran keluar masuk kamar. Kucing lokal dan ras yang biasa terlihat di jalanan kini hidup berdampingan dalam satu atap dengan keluarga Dita. Sedangkan alat perawatan juga cukup lengkap, seperti kandang, wadah makan, pasir untuk pup, obat P3K, pakan kucing, sampo serta scratcher atau tempat buat menggaruk kuku.

Maklum, ada 5 pekerja yang membersihkan rumah dan merawat semua kucing-kucing itu. Kelima pekerja diberi upah oleh Dita, termasuk anaknya sendiri yang ia pekerjakan. Sementara itu, di salah satu dinding terpajang puluhan medali yang diperoleh dari ajang lomba Pet Expo. Bahkan ada juga penghargaan hasil mengisi seminar tentang cara merawat kucing. Lanjut, di halaman belakang, tampak sejumlah pekerja tengah sibuk memberi makan dan membersihkan seluruh kandang. 

Di halaman yang cukup luas itu juga terdapat papan kayu tempat tidur dan bermain untuk kucing. Dita dan suaminya berencana memperluas halaman belakang berkat tanah yang dihibahkan oleh seorang dermawan. Nantinya, kata Dita, tanah itu akan dijadikan tempat pemakaman kucing yang mati karena umur dan penyakit. ​”Nyawa ya mereka membawa diri masing-masing tergantung kekuatan daya tahan tubuhnya, jadi normal usia biasanya 20 tahun paling lama dan ada kucing di sini bertahan 17 tahun itu mati karena tua,” ucapnya.

Selain itu, jumlah kucing yang terus bertambah sedangkan untuk biaya makan dan perawatan lumayan cukup besar. Sehingga, sebut Dita, dalam sehari ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta. Untuk merawat semua kucing tersebut, suami Dita, Luthfi mau tak mau harus membuka usaha kecil-kecilan berupa kolam ikan lele di halaman belakang.

 Alasannya, ingin membantu menambah biaya perawatan kucing yang semakin hari makin naik. Pasalnya, tak jarang keluarga harus merogoh kocek sendiri untuk biaya merawat jika sumbangan para donatur kurang. Dita menyebut, setiap hari kucing-kucing itu mendapat vitamin dan vaksinasi yang bekerja sama dengan dokter hewan. Tak ayal, kucing-kucing tersebut terlihat sehat dan gizinya terpenuhi.

Namun, tak sedikit pula terdapat sejumlah kucing yang masih sakit dan harus dirawat di halaman belakang itu. “Suntik iya, vaksin juga iya,berobat iya tapi daya tahan tubuh kucing itu enggak bisa diprediksi beda dengan manusia gitu,” ujarnya. Ia bercerita, beberapa waktu lalu menolong kucing yang telinganya putus karena tersangkut kawat. Belum lagi temuan kucing yang kakinya pincang sehingga perlu perawatan ekstra. “Yang ini (telinganya) karena terjepit kawat di jalanan,” ucap ibu tiga anak ini sembari menunjuk kucing warna kuning.  

Balang

LEAVE A REPLY