padangtime.com – Bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang melanda Kabupaten Pasaman pada 24–26 November 2025 menimbulkan kerusakan dan kerugian mencapai Rp586,52 miliar. Dampak bencana tersebut dirasakan di 11 dari 12 kecamatan.
Bupati Pasaman Welly Suhery menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi Sinergitas Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Sumatera Barat Tahun 2026 di Padang, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sebanyak 361 rumah terendam banjir, serta 31 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari enam rusak berat, empat rusak sedang, dan 21 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur jalan, jembatan, sumber daya air, serta fasilitas air bersih dan sanitasi.
Di sektor ekonomi, persawahan dan kolam ikan masyarakat turut terdampak, sementara fasilitas pendidikan, kesehatan, dan keagamaan juga mengalami kerusakan.
Berdasarkan data Jitupasna, kerusakan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur sebesar Rp191,22 miliar, dengan kerugian mencapai Rp376,21 miliar. Total keseluruhan kerusakan sebesar Rp196,67 miliar dan kerugian Rp389,85 miliar.
Kondisi ini menyebabkan gangguan akses transportasi, air bersih, hingga munculnya wilayah terisolasi. Selain itu, retakan tanah di Lubuk Sikaping, Bonjol, dan Tigo Nagari mengancam 774 rumah yang perlu direlokasi.
Pemkab Pasaman menetapkan fokus pemulihan pada normalisasi sungai, pemulihan akses transportasi, serta perbaikan fasilitas pendidikan dan kesehatan, dengan kebutuhan anggaran R3P mencapai Rp428,23 miliar. (pt)
















