Dilansir dari media Kontan News : Dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah perusahaan PLTS China dengan teknologi tier 1 berlomba-lomba merangsek pasar Tanah Air. Kabarnya mereka mengincar kue bisnis yang menjanjikan proyek ekspor listrik bersih Indonesia ke Singapura.
China memang dikenal sebagai jawara teknologi panel surya dunia. Layaknya satu paket lengkap, mereka memiliki industri hulu-hilir modul surya yang terintegrasi, teknologi canggih, dan harga produk yang kompetitif. Keunggulan itulah yang menjadikan perusahaan Indonesia-mulai dari konglomerasi hingga pelat merah-memilih China sebagai partner strategi bisnis dalam membangun pabrik komponen PLTS di dalam negeri.
Perusahaan konglomerasi Sinarmas melalui PT Daya Sukses Makmur Selaras, entitas anak tidak langsung dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Agra Surya Energi yang menggandeng Trina Solar untuk mengembangkan pabrik manufaktur sel surya dan modul surya terintegrasi pertama di Indonesia. Di bawah naungan PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), akan hadir pabrik dengan kapasitas produksi awal sebesar 1 gigawatt peak (GWp) per tahun. Proyek dengan nilai investasi Rp 1,5 triliun ini dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal, Jawa Tengah, yang menggunakan teknologi sel i-TOPCon dan modul termutakhir.
Terbaru berdasarkan kabar yang diterima KONTAN, PT Pertamina melalui PT Pertamina New & Renewable Energy (RNE) akan menggandeng Longi Solar Technology Co., Ltd untuk membangun pabrik panel surya di kawasan Delta Mas. Kabarnya, kongsi ini akan menghasilkan pabrik dengan kapasitas minimal 2 GW per tahun.
Lalu, berapa potensi pasar panel surya di Indonesia ini? Lalu, selain China apakah ada Perusahaan dari negara lain yang ikut favoritnya bisnis panel surya di negeri ini? Dan, tantangan apa yang mereka hadapi untuk mengembangkan industri ini sendiri?

















