padangtime.com – Universitas Paramadina menggelar diskusi panel bertajuk “Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s” untuk merespons dinamika investasi nasional. Forum daring ini menyoroti evaluasi lembaga internasional serta langkah strategis pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi di tengah fluktuasi global.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menegaskan pasar modal merupakan gerbang depan ekonomi yang paling sensitif. Ia mengibaratkannya sebagai bendungan besar yang mengairi dunia usaha, sebagaimana pengalaman perusahaan seperti First Media hingga Gojek yang berkembang melalui modal publik.
Namun ia memperingatkan kondisi terkini pasca momen MSCI mengisyaratkan pasar modal “sakit”. Ia juga mengibaratkannya seperti kerang hijau penyerap polusi; gejolak pasar menjadi sinyal ekosistem ekonomi tidak sehat, terutama jika pengelolaan fiskal dianggap tidak kredibel.
Ekonom Paramadina Wijayanto Samirin menyebut rilis MSCI muncul saat kritis, ketika portofolio investasi Indonesia mencatat minus USD 14 miliar pada 2025 hingga kuartal III-2026. Ia juga menyoroti penurunan outlook Moody’s akibat sovereign selling, dengan sorotan pada tata kelola, risiko fiskal, dan kebijakan yang sulit diprediksi.
Sementara CEO Investortrust Primus Dorimulu menilai kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto berada di jalur tepat, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen. Pemerintah menyiapkan reformasi, termasuk peningkatan free float 15 persen, transparansi UBO, penegakan hukum, demutualisasi Bursa Efek Indonesia, dan penguatan tata kelola emiten.
Diskusi menyimpulkan konsistensi reformasi dan stabilitas makro menjadi kunci pemulihan kepercayaan investor global. (pt)