Kondisi A.A Cafe saat jam makan siang dan Ayam crispy sambal bakar yang menjadi salah satu menu favorit mahasiswa (Sumber: Dokumentasi Syntia Rahmadani)
Oleh Syntia Rahmadani
A.A Cafe adalah salah satu kantin favorit mahasiswa di Gedung Kuliah A Universitas Andalas. Setiap jam makan siang, suasananya selalu riuh dengan mahasiswa yang antre membeli menu andalan. Dengan menu yang beragam, cita rasa khas, serta harga yang terjangkau, A.A Cafe berhasil menjadi pilihan utama mahasiswa. Tidak hanya soal makanan, strategi khusus yang diterapkan juga menjadi rahasia di balik ramainya kantin ini.
A.A Cafe mulai beroperasi pada tahun 2017. Sejak awal, kafe ini berkomitmen menghadirkan menu variatif dengan cita rasa khas dan harga terjangkau bagi mahasiswa. Kualitas bahan yang digunakan juga menjadi prioritas utama untuk menjaga kepuasan pelanggan. “Selain mengutamakan rasa, ibuk juga selalu menggunakan bahan-bahan yang berkualitas untuk menjaga kepuasan mahasiswa,” ujar Ibu Nel, pemilik A.A Cafe.
Dalam menjalankan usahanya, A.A Cafe menerapkan strategi pemasaran sederhana namun efektif. Dari sisi menu, A.A Cafe selalu menawarkan pilihan yang beragam, mulai dari makanan berat hingga minuman untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dengan selera berbeda. Beberapa menu favorit mahasiswa antara lain ayam crispy saus padang, ayam crispy sambal bakar, dan menu terbaru tahun 2025 yaitu ayam goreng chili padi. “Kalau di sini yang paling banyak dicari mahasiswa itu ayam crispy saus padang, ayam crispy sambal bakar, dan ayam goreng chili padi. Hampir setiap hari menu itu yang paling dicari mahasiswa,” ungkap Ibu Nel.
Seorang mahasiswa pelanggan, Luvvie, menuturkan bahwa penyajian ayam crispy sambal bakar di A.A Cafe sangat unik dan berbeda dari tempat lain. “Waktu disajikan, cobeknya masih panas dan sambalnya meletup-letup, jadi ada sensasi sendiri saat makan. Rasanya enak dan porsinya pas,” ujarnya. Namun ia juga menambahkan, “Kalau makan di jam makan siang, biasanya harus sabar menunggu karena antreannya panjang. Tapi sejauh ini rasanya sebanding dengan waktu tunggu.”
Dari sisi harga, A.A Cafe sangat memahami kondisi mahasiswa, khususnya anak kos dengan budget terbatas. Harga makanan berkisar Rp10.000 hingga Rp16.000 per porsi, yang dianggap ramah di kantong mahasiswa. “Kalau soal harga, worth it banget buat anak kuliahan apalagi anak kos seperti kita,” jelas Aysah, salah satu pelanggan. Meski murah, kualitas rasa tetap menjadi prioritas. Ibu Nel menekankan, “Kalau soal harga kami sudah sepakat dengan kantin-kantin yang lain, tapi menurut saya kualitas rasa tetap harus nomor satu.”
Selain kualitas makanan, strategi pemasaran A.A Cafe juga terletak pada suasana yang diciptakan. Deretan meja yang dipenuhi mahasiswa menghadirkan suasana hidup, penuh tawa, dan percakapan santai. Hal ini menjadikan A.A Cafe bukan hanya tempat makan, tetapi juga ruang interaksi sosial mahasiswa. Banyak mahasiswa memilih A.A Cafe karena bisa bertemu teman, berdiskusi, atau mengerjakan tugas sambil menunggu kelas berikutnya. Pemilik juga selalu mengingatkan karyawan untuk menjaga kebersihan dan memberikan pelayanan ramah.
Bagi Ibu Nel, doa juga menjadi bagian penting dari strategi usahanya. “Kalau saya pribadi, strategi yang pertama itu doa ya pastinya. Supaya dipermudah rezekinya sama Allah, apalagi saya punya pegawai juga. Selain itu, menjalin pendekatan dengan mahasiswa juga penting,” jelasnya.
A.A Cafe biasanya mulai ramai sejak pukul 11.00 hingga 13.00 WIB. Deretan meja yang penuh mahasiswa menjadi pemandangan biasa di jam makan siang. Meski harus menunggu, mahasiswa tetap rela karena merasa puas dengan kualitas rasa dan harga yang diberikan. Faktor lokasi yang strategis di Gedung Kuliah A juga membuat mahasiswa tidak perlu berjalan jauh untuk mencari makanan.
Dari sisi bisnis, A.A Cafe menunjukkan bahwa memahami kebutuhan konsumen menjadi kunci utama dalam persaingan. Di kampus, banyak kantin lain menawarkan menu serupa. Namun, strategi A.A Cafe yang memadukan harga terjangkau, cita rasa, pelayanan ramah, suasana nyaman, hingga inovasi penyajian memberi nilai lebih. Hal ini sejalan dengan teori pemasaran yang menekankan kepuasan pelanggan sebagai faktor penting keberlangsungan usaha.
Meski sukses, A.A Cafe juga menghadapi tantangan, terutama saat pandemi Covid-19 ketika aktivitas kampus terhenti total. Penjualan menurun drastis karena kuliah dilakukan secara daring. Kini, setelah situasi normal, A.A Cafe terus berinovasi agar tidak monoton. Selain menu berat, pemilik berencana menambah varian snack untuk menemani mahasiswa belajar atau nongkrong. Bahkan, ke depan A.A Cafe akan didesain ulang menyerupai coffee shop agar lebih nyaman dan menarik.
A.A Cafe bukan sekadar kantin, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Universitas Andalas. Keberhasilannya terletak pada kemampuannya memahami kebutuhan mahasiswa, menyajikan menu variatif dengan harga bersahabat, dan menciptakan suasana nyaman. Akankah A.A Cafe terus menjadi pilihan utama mahasiswa di tengah persaingan kantin kampus yang semakin ketat? Semoga saja. (pt)