ad
Oleh : Dr Sosmiarti ( Dosen Fakultas Ekonomi Unand)
Padang TIME – Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak kepada kesehatan masyarakat saja, tetapi memiliki dampak multi sektor, yaitu kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga aktivitas beribadah di masyarakat.
Dampak pada sektor-sektor tersebut kian hari mulai dirasakan masyarakat, hal ini akan mempengaruhi persoalan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan sosial masyarakat berkaitan dengan kesehatan, kondisi ekonomi domestik rumah tangga, rasa aman-nyaman, serta kualitas hidup yang baik.
Sehingga masyarakat yang sedang dihadapkan pada pandemi Covid-19 dapat tetap memenuhi kebutuhan dasarnya dan menjalankan fungsi sosialnya.
Oleh karena itulah pemerintah selain berfokus utama penanganan pandemi Covid-19, juga jangan mengesampingkan kondisi kesejahteraan masyarakat di masa pandemi Covid-19 ini.
Jika kesejahteraan masyarakat diabaikan, dikuatirkan akan memicu kerentanan sosial yang masif di masyarakat. Ini tentu semakin membuat situasi dan kondisi di Indonesia bisa seperti benang kusut. Menyelesaikan satu masalah, muncul masalah lain.
Dampak COVID-19 kepada Perekonomian Domestik Sisi Domestik, menyangkut aspek kesehatan, social, ekonomi dan keuangan.
  Di bidang kesehatan, penyebaran COVID-19 yang mudah, cepat, dan luas menciptakan krisis kesehatan dengan belum ditemukannya vaksin, obat, serta keterbatasan alat dan tenaga medis.
Bidang social, Langkah untuk flattening the curve dari cepat dan luasnya penularan memiliki konsekuensi pada berhentinya aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja di berbagai sektor, tak terkecuali sektor – sektor informal.
Di bidang ekonomi dampak yang dirasakan adalah kinerja ekonomi menurun tajam: konsumsi terganggu, investasi terhambat, ekspor-impor terkontraksi. Pertumbuhan ekonomi melambat/menurun tajam dan bidang keuangan, Volatilitas dan gejolak sektor keuangan.
Semua pihak sudah berusaha memberikan solusi yang terbaik bagi masyarakat, baik pemerintah tingkat pusat maupun pemerintah daerah tidak terkecuali Sumatera Barat dengan stimulusnya.
Tapi ketidak pastian kapan pandemi ini akan berakhir akan akan mempengaruhi kemampuan dalam mencari nafkah (livelihood capabilities), namun.  masalah mempertahankan kelangsungan hidup akan berbeda-beda menurut derajatnya dan tujuan yang hendak dicapai oleh masing- masing individu.
 Artinya, ketika individu atau rumah tangga memiliki kekuatan dalam penguasaan asset  dimanapun dia berada, dan apapun kondisi yang  dia hadapi, maka livelihoodnya akan kuat, kalaupun terjadi goncangan itu hanya bersifat sementara, dan bahkan goncangan tersebut cenderung akan memberikan kekuatan tersendiri baginya untuk bangkit dan meningkatkan kualitas kehidupan ekonominya untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
Untuk itu perlu pengelolaan asset dan strategi dalam mencari nafkah. Strategi nafkah meliputi aspek pilihan atas beberapa sumber penghidupan yang ada disekitar masyarakat. Semakin beragam pilihan sangat memungkinkan terjadinya strategi penghidupan.
Pada masyarakat pedesaan, Strategi bertahan hidup terkait dengan sumber daya alam dan sistem pertanian.
Beberapa bentuk strategi yang mereka lakukan adalah: Akumulasi asset pada saat panen untuk digunakan pada masa paceklik, gotong royong antara anggota keluarga dan anggota masyarakat dalam mengelola makanan dan sumber daya alam pada saat krisis, migrasi ke kota untuk mencari pekerjaan, penggantian/ penganekaragaman jenis tanaman dan cara bercocok tanam, mengumpulkan tanaman- tanaman liar untuk makanan, penghematan konsumsi makanan, peminjaman kredit dari anggota keluarga, pedagang atau lintah darat, penjualan simpanan benda – benda berharga ( emas dan perabotan), penjualan aset produktif ( tanah dan binatang ternak), penerapan ekonomi subsistem, buka warung, memanfaatkan remitan serta pemanfaatan bantuan pemerintah pada saat krisis.
Pada masyarakat perkotaan, rumah tangga cenderung menghadapi masalah yang lebih berat dan kompleks, karena sumber daya alam umumnya tidak dapat digunakan secara bebas, sistem kekerabatan lebih lemah, kondisi lingkungan juga lebih berat dan kerap berbahaya (polusi, kejahatan). Maka strategis bertahan hidup yang mereka lakukan adalah:
(1). Meningkatan asset: yaitu melibatkan lebih banyak anggota keluarga untuk bekerja, memulai usaha kecil-kecilan, memulung barang-barang bekas, menyewakan kamar, menggadaikan barang, meminjam uang di bank atau ke lintah darat.
(2). Mengontrol konsumsi: yaitu mengurangi jenis dan pola makan, membeli barang-barang murah, mengurangi pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan, mengurangi kunjungan ke desa, memperbaiki rumah atau alat-alat rumah tangga sendiri.
(3). Mengubah komposisi keluarga: yaitu migrasi ke desa atau ke kota lain, meningkatkan jumlah anggota rumah tangga untuk memaksimalkan pendapatan, menitipkan anak ke kerabat atau keluarga lain baik secara temporer maupun permanen (Mukbar, 2009)
Disamping strategi diatas, peran perempuan juga ikut mempengaruhi pengembangan strategi nafkah berkelanjutan, yaitu melalui pemanfaatan ikatan sosial antar penduduk perempuan akan memperluas akses terhadap modal finansial dalam bentuk arisan, pelatihan, simpan pinjam dan sebagainya. Strategi penghidupan setidaknya dapat dibagi tiga golongan besar, antara lain:
1.) Rekayasa sumber penghidupan pertanian, yang merupakan usaha pemanfaatan sektor pertanian agar lebih efektif dan efisien baik melalui penambahan input eksternal berupa tenaga kerja atau teknologi (intensifikasi) maupun dengan memperluas lahan garapan pertanian (ekstensifikasi).
2.) Pola keragaman penghidupan yang merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mencari pekerjaan lain selain sektor pertanian untuk menambah pendapatan (diversifikasi).
3) Rekayasa spasial merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mobilisasi/ perpindahan penduduk baik secara permanen maupun sirkuler (migrasi).
Untuk melihat capaian jenjang strategi suatu rumah kita dapat membaginya pada 5 tingkatan yaitu:
1) Surviving (At Risk) yakni segala sesuatu berada pada tingkatan memperjuangkan.
2) Coping (Risk averse) dimana segala sesuatu baik tapi tidak bisa memperoleh lebih banyak untuk masa datang.
3) Adapting (High risk of recurrent poverty ) dimana segala sesuatu baru dimulai dan sedang menunjukkan peningkatan.
4) Accumulating (doing fine) dimana rumah tangga kuat dan dapat memulihkan goncangan hidup.
Berdasarkan penjelasan diatas maka permasalahan yang dihadapi oleh Rumah tangga untuk dapat merpertahankan kehidupannya selama pandemi covid-19 terhadap kerentanan yang timbul karena berkurangnya sebagian capital aset yang mereka miliki, adalah menentukan strategi penghidupan dalam bentuk aktifitas yang memungkinkan mereka lakukan aktifitas dan jenjang strategi yang mereka capai dengan sumberdaya yang tersisa, guna mengembalikan kondisi sosial ekonomi dan memulihkan pendapatan dan menjamin kesejahteraannya masa sekarang dan masa yang akan datang.
Strategi bertahan hidup dan melanjutkan penghidupan yang dilakukan rumah tangga terdampak pandemi covid -19  di di Sumatera Barat berdasarkan sumbernya dapat di kategorikan pada tujuh pilihan strategi yaitu :
Strategi 1 =  Mandiri
Strategi 2 =  Jejaring
Strategi 3  =  Intervensi
Strategi 4  =  Mandiri dan jejaring
Strategi 5  =  Mandiri dan Intervensi
Strategi 6  =  Jejaring dan Intervensi
Strategi 7  =   Mandiri, jejaring dan Intervensi
Pilihan strategi rumah tangga untuk memulihkan penghidupan ditentukan oleh tingkat jumlah kapital asset yang dimiliki, akses dan kapabilitas dan aktifitas yang mereka lakukan untuk mengembangkan aset penghidupan dengan melibatkan jejaring serta peran lembaga eksternal.
Setiap strategi yang diambil akan diikuti oleh sekumpulan aktifitas penunjang untuk membantu mencapai tujuan dari pilihan strategi tersebut. Dengan demikian  Setiap rumahtangga mempunyai aktifitas berbeda untuk memulihkan penghidupannya selama masa pandemi Covid 19. (pt)
bebi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here