Di ujung selatan Sumatera Barat, tepatnya di pesisir Pantai Kayangan Pasir Lakitan, Kabupaten Pesisir Selatan, langkah seorang pengusaha lokal membuka lembaran baru dunia usaha patut mendapat perhatian. Jubir Pamurah (46), nama yang kini akrab dengan geliat budidaya udang vaname di wilayah tersebut, memulai usahanya pada Februari 2023 dengan tekad dan keyakinan kuat.
Tak tanggung-tanggung, modal sebesar Rp1,2 miliar digelontorkan demi membangun tambak, melengkapi sarana produksi, menyediakan bibit, dan mencukupi kebutuhan pakan. Sebuah investasi besar, namun sebanding dengan potensi keuntungan yang kini mulai ia nikmati.
“Budidaya udang vaname ini lebih mudah dibandingkan jenis lain. Pasarnya juga luas dan stabil. Harganya terjangkau, sehingga cepat terserap oleh pasar,” ungkap Jubir di sela aktivitasnya di tambak.
Sebelum menekuni dunia perikanan, Jubir dikenal sebagai pengusaha furnitur. Namun, nalurinya membaca peluang membawanya beralih haluan. Ia melihat sektor perikanan—khususnya budidaya udang vaname—sebagai lahan subur yang menjanjikan, baik dari sisi keuntungan maupun kemudahan pengelolaan.
Setiap sepuluh hari, tambak milik Jubir mampu menghasilkan rata-rata 600 kilogram udang siap jual. Produk ini langsung diminati pedagang dari luar daerah, seperti dari Pariaman dan kota-kota lainnya. Proses distribusi pun berlangsung lancar—para pembeli datang langsung ke lokasi panen atau cukup memesan via telepon.
Menariknya, hingga kini belum ada pembeli dari wilayah Pesisir Selatan sendiri. Seluruh hasil panen dikirim keluar daerah, menandakan adanya peluang besar yang belum tergarap: membangun pasar lokal agar nilai tambahnya juga dinikmati masyarakat setempat.
Secara nasional, permintaan udang vaname terus meningkat, baik untuk konsumsi domestik maupun pasar ekspor. Indonesia menjadi salah satu eksportir utama ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Dengan masa panen yang singkat—sekitar 100 hari sejak tebar benih—dan tingkat produktivitas yang tinggi, usaha ini menawarkan perputaran modal yang cepat.
Didukung dengan penerapan teknologi tepat guna dan manajemen tambak yang efisien, risiko kerugian dapat ditekan, sementara margin keuntungan tetap terjaga. Tak heran, banyak pelaku usaha mulai melirik sektor ini sebagai sumber penghasilan jangka panjang.
Harapan untuk Pesisir Selatan
Meski usaha ini telah menunjukkan hasil menjanjikan, Jubir tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada: fluktuasi harga pakan, risiko penyakit, dan pengaruh perubahan iklim.
“Kalau dikelola serius dan ada dukungan dari pemerintah, Pesisir Selatan bisa jadi sentra udang vaname di Sumbar,” ujarnya penuh harap.
Ia berharap ada dukungan nyata dari pemerintah daerah dan lembaga keuangan untuk memfasilitasi pelatihan, akses pembiayaan, serta perluasan pasar. Baginya, pengembangan usaha ini bukan hanya demi keuntungan pribadi, tapi juga sebagai upaya membangun ekonomi pesisir yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dari tepian pantai yang tenang, Jubir Pamurah membuktikan bahwa laut bukan hanya menawarkan keindahan, tetapi juga harapan. Dengan tekad, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko, ia menenun masa depan—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi komunitas pesisir tempat ia berpijak. (pt)