Kawasaki, Jepang / New Taipei City, Taiwan – Dua perusahaan teknologi ternama, Fujitsu Limited dari Jepang dan Acer Medical Inc. dari Taiwan, mengumumkan kerja sama strategis dalam pengembangan dan uji coba solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dini gangguan neurodegeneratif seperti demensia dan Penyakit Parkinson. Solusi ini diberi nama aiGait powered by Uvance, dan akan mulai diuji secara klinis di Taipei Veterans General Hospital pada pertengahan tahun 2025.
Teknologi ini memanfaatkan AI pendeteksi tulang rangka manusia yang dapat mengenali perubahan halus dalam pola berjalan kaki (gait pattern) para pasien lanjut usia. Perubahan tersebut sering kali menjadi salah satu indikator awal dari berbagai gangguan neurologis yang kerap tidak disadari hingga tahap lanjut.
Teknologi Inovatif dari Dunia Olahraga ke Dunia Medis
Dalam keterangan resminya, Fujitsu menyebut bahwa sistem AI yang digunakan awalnya dikembangkan untuk menganalisis gerakan atlet senam, yang memerlukan presisi tinggi dalam membaca posisi dan pergerakan tubuh manusia. Kini, teknologi tersebut dimodifikasi dan dioptimalkan untuk mendukung diagnosis medis yang cepat, efisien, dan minim invasif.
“Kami melihat potensi besar dari kemampuan AI dalam membantu dunia medis, terutama dalam populasi lansia yang terus meningkat. Deteksi dini sangat penting untuk memperlambat progresivitas penyakit seperti demensia,” ujar juru bicara Fujitsu.
Sementara itu, Acer Medical Inc. sebagai mitra lokal di Taiwan akan fokus pada integrasi klinis, pengembangan antarmuka pengguna, serta pelatihan tenaga kesehatan yang akan menggunakan sistem ini di lapangan. Dr. Allen Lien, Chairman Acer Medical, menekankan bahwa solusi ini dirancang agar bisa diakses bahkan melalui perangkat sederhana seperti ponsel pintar atau tablet, memungkinkan pemantauan pasien secara jarak jauh dan real-time.
Uji Coba di Rumah Perawatan Veteran
Proyek ini akan diuji coba pada sejumlah lansia yang berada di bawah perawatan Taipei Veterans General Hospital, salah satu rumah sakit utama di Taiwan. Dalam uji coba ini, kamera akan merekam aktivitas pasien seperti berjalan, duduk, berdiri, hingga berputar, dan AI akan menganalisis kemungkinan abnormalitas berdasarkan data tulang rangka yang terekam.
Jika AI mendeteksi pola yang menyimpang dari normal, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada tenaga medis dan pendamping untuk tindak lanjut. Hal ini diharapkan dapat mempercepat diagnosis serta membantu pasien mendapatkan penanganan sejak tahap awal.
Peluang Luas di Dunia Medis dan Olahraga
Selain untuk diagnosa penyakit neurologis pada lansia, Fujitsu dan Acer Medical juga membuka kemungkinan penggunaan teknologi ini untuk monitoring atlet, terapi rehabilitasi pasien stroke, serta pengembangan motorik anak-anak dengan kebutuhan khusus.
“Solusi aiGait powered by Uvance bukan sekadar alat diagnostik, melainkan sebuah pendekatan preventif yang berpotensi merevolusi cara kita memahami kesehatan melalui pola gerak,” kata Prof. Hiroshi Yamamoto, pakar neurologi dari Universitas Kyushu yang juga menjadi penasihat riset proyek ini.
Rencananya, setelah evaluasi uji coba berhasil, teknologi ini akan mulai dipasarkan secara terbatas di Taiwan pada akhir 2025, dan diperluas ke negara-negara Asia lainnya, termasuk Jepang, Korea, dan Indonesia.
Fakta Singkat: aiGait powered by Uvance
-
Teknologi AI untuk membaca pola jalan kaki
-
Dapat mendeteksi potensi demensia dan Parkinson sejak dini
-
Dapat diakses melalui smartphone atau tablet
-
Uji coba di Taipei Veterans General Hospital
-
Potensi penggunaan global di sektor kesehatan dan olahraga

















