Pesisir Selatan — Desa Wisata Amping Parak di Kabupaten Pesisir Selatan terus menunjukkan kiprah positif di dunia pariwisata berbasis ekologi. Sejak tahun 2020 hingga 2025, destinasi ini berhasil menggarap pasar wisatawan asal Eropa dan Amerika, dengan rata-rata kunjungan mencapai 200 orang per tahun.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari penerapan konsep ekowisata yang kental dengan nuansa pelestarian alam dan budaya lokal, serta strategi promosi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan jejaring global.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Amping Parak, Haridman, mengungkapkan bahwa wisatawan dari Eropa dan Amerika cenderung datang pada musim libur akhir dan awal tahun, terutama Oktober hingga Maret. “Mereka membeli paket wisata seperti turtle watching, edukasi lingkungan, dan program lainnya yang kami tawarkan secara langsung maupun online,” ujar Haridman.
Dalam upaya menarik minat pasar internasional, pihak pengelola aktif mengelola akun media sosial profesional seperti Facebook, Instagram, TikTok, serta situs web resmi desa wisata. “Media sosial menjadi sarana utama kami memperkenalkan Amping Parak ke luar negeri. Website kami juga memungkinkan transaksi langsung,” jelasnya.
Lebih dari itu, Desa Wisata Amping Parak juga menjalin kemitraan dengan lembaga pariwisata yang memiliki kantor perwakilan di Eropa, sehingga informasi mengenai desa ini dapat menjangkau wisatawan secara lebih luas dan profesional.
Salah satu wisatawan asal Belgia, Marry, mengaku terkesan dengan pengalaman ekowisata yang ditawarkan. “Saya sangat menyukai destinasi berbasis ekologi. Amping Parak menawarkan pengalaman otentik tentang lingkungan dan budaya, cocok untuk wisatawan dengan minat khusus,” ungkapnya kepada kompasnagari.kim.id.
Ke depan, keberhasilan Amping Parak ini diharapkan dapat menjadi contoh inspiratif bagi pengembangan desa wisata lainnya di Sumatera Barat, khususnya dalam menembus pasar internasional dengan tetap menjaga kearifan lokal dan kelestarian lingkungan. (pt)