PADANG — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan kesiapan membawa Geopark Ranah Minang Silokek ke panggung dunia. Ia menyampaikan komitmen itu saat menerima evaluator UNESCO Global Geopark, Prof. Jeon Yang Mun dari Korea Selatan dan Nicolas Klee dari Prancis, di Istana Gubernuran, Minggu malam (16/8/2026).
Bukan Sekadar Destinasi Wisata
Mahyeldi mengatakan evaluasi UNESCO menjadi momentum bagi Sumbar untuk menunjukkan keseriusan menjaga warisan geologi, keanekaragaman hayati, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
“Evaluasi ini bukan hanya proses teknis. Ini kesempatan menunjukkan kepada dunia komitmen kita,” ujar Mahyeldi.
Menurutnya, Silokek bukan sekadar destinasi wisata. Pemerintah harus mengelolanya melalui konservasi, edukasi, pembangunan berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat.
Mahyeldi menyebut Silokek memiliki tiga kekuatan utama, yaitu geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. Bentang alam karst, Lembah Silokek, Sungai Batang Kuantan, ekosistem hutan, flora, fauna, serta budaya Minangkabau menjadi kekuatan kawasan tersebut.
Dorong Ekonomi Masyarakat
Selain itu, Mahyeldi menyebut Silokek sebagai “buku sejarah bumi” yang menyimpan jejak perjalanan bumi selama jutaan tahun. Karena itu, masyarakat harus menjaga warisan tersebut untuk generasi mendatang.
Selanjutnya, pengembangan geopark sejalan dengan arah pembangunan Sumbar melalui RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029. Konsep Green Province juga mendorong pembangunan yang selaras dengan alam.
Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir berharap evaluator memberikan penilaian objektif. Sementara itu, Prof. Jeon menegaskan tim hadir untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman, bukan menghakimi.
Dengan demikian, proses evaluasi menjadi peluang memperkuat pengelolaan Silokek. Pemerintah berharap kawasan tersebut mampu memenuhi standar UNESCO sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
(adpsb/cen/bud)

















