padangtime.com – Pada suatu pagi di Padang, angin dari arah Gunung Marapi membawa udara yang jernih dan lembut. Di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai hidup, seorang perempuan muda berusia 23 tahun melangkah dengan keyakinan yang tak biasa bagi usianya. Namanya Cerint Iralloza Tasya seorang putri Minang yang tak hanya membawa gelar Sarjana Kedokteran, tetapi juga membawa harapan ratusan ribu suara yang memilihnya menjadi anggota DPD RI.
Awal Kisah dari Rumah yang Penuh Nilai
Cerint tumbuh di sebuah keluarga yang mengenalkan nilai perjuangan sejak dini. Ayahnya, yang pernah duduk di kursi legislatif daerah, menjadi sumber pembelajaran paling nyata tentang bagaimana politik dapat menjadi ladang pengabdian. Dari meja makan keluarga, Cerint kecil kerap mendengar diskusi tentang masyarakat, pelayanan, dan bagaimana membangun daerah dari akar masalahnya.
Alih-alih tenggelam dalam bayang-bayang keluarga politikus, Cerint memilih jalannya sendiri. Ia menempuh pendidikan kedokteran profesi yang membuatnya berhadapan langsung dengan wajah-wajah masyarakat yang membutuhkan. Dari sanalah ia melihat secara nyata apa arti pelayanan kesehatan yang belum merata. Dari sanalah semangatnya tergerak.
Mimpi yang Menyala: Dari Balai Kampung ke Parlemen Senayan
Ketika keputusan besar itu datang mewakili Sumatera Barat di kursi senator banyak yang terkejut. “Masih terlalu muda,” kata sebagian orang. Namun Cerint justru melihat usia muda sebagai kekuatan.
Ia turun ke kampung-kampung, ke pasar-pasar, ke surau dan balai adat. Ia mendengarkan, lebih banyak daripada berbicara. Dari cerita para ibu tentang akses kesehatan, dari keluhan para petani tentang distribusi hasil panen, hingga keluh kesah warga tentang rumitnya urusan BPJS.
Setiap perjalanan itu menyalakan tekadnya.
PSU: Ujian Awal yang Mengasah Keteguhan
Perjalanan menuju DPD tidak mulus. Ketika MK memerintahkan pemungutan suara ulang (PSU), sebagian orang menganggap itu pukulan telak. Namun tidak bagi Cerint. Dengan kepala tegak ia mengatakan, “Saya hormati putusan MK. Amanah harus dijalani dengan jujur sejak awal.”
Ia kembali ke lapangan, kembali menyapa masyarakat, kembali menata harapan yang sempat goyah. Dan hasilnya? Ia tetap berdiri sebagai salah satu peraih suara terbanyak di Sumatera Barat.
Kepercayaan itu tak datang tiba-tiba. Itu buah dari konsistensi.
Hari Pertama di Senayan
Saat ia menginjakkan kaki di gedung DPD RI, banyak mata memandangnya sebagai senator termuda. Tapi bagi Cerint, usia hanyalah angka; kualitas perjuanganlah yang berbicara.
Ia memilih bergabung di Komite IV, komite yang membidangi keuangan negara dan pengawasan APBN sebuah ruang yang menuntut ketelitian dan integritas. Di sana ia mulai belajar, bekerja, dan membangun jejaring lintas lembaga. Tak sedikit pejabat pusat yang terkejut ketika perempuan muda Minang ini berdiskusi serius tentang anggaran, transparansi pengawasan, dan kebijakan pembangunan daerah.
Tiga Pilar Perjuangan
Cerint merumuskan langkahnya dalam tiga pilar:
-
Percepatan pembangunan daerah agar tidak lagi ada daerah tertinggal dalam pelayanan publik.
-
Kesetaraan layanan kesehatan, terutama pembenahan sistem BPJS dan fasilitas kesehatan di Sumbar.
-
Penguatan ekonomi masyarakat melalui koperasi dan pemberdayaan UMKM agar masyarakat tidak lagi terjerat pinjaman ilegal.

















