WEB BASED ACADEMIC SUPERVISION (WBAS) DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1769
Dr. Gantino Habibi, M. Pd.

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”
Nelson Mandela

Permasalahan mutu pendidikan di Indonesia menjadi isu yang sangat penting. Berbagai proses penjaminan mutu pendidikan dilakukan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi, terutama dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Peningkatan mutu yang dilakukan di lembaga pendidikan adalah dengan mengontrol proses pembelajaran yang diakukan oleh guru. Mutu pembelajaran dapat mengalami perubahan dan peningkatan jika dilakukan supervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik dilakukan dalam rangka memberikan bantuan secara terstruktur dan sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kepada guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogik dan profesionalitasnya. Di samping itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahabav yang berjudul The Effectiveness of Academic Supervision for Teachers juga memperkuat pentingnya supervisi akademik ini terutama untuk mengoptimalkan kompetensi kepala sekolah sebagai supervisor.

Artikel ini akan menjelaskan tentang 1) kebutuhan model supervisi akademik berbasis web oleh kepala sekolah dan 2) kevalidan, kepraktisan dan keefektivan model supervisi akademik berbasis web oleh kepala sekolah.

Namun fenomena di lapangan tentang pelaksanaan supervisi akademik belumlah optimal, masih mengalami beberapa kendala. Pertama, supervisi akademik yang diterapkan selama ini masih bernuansa tradisional yang meliputi pekerjaan inspeksi yaitu mengawasi dalam artian mencari kesalahan dan diperbaiki. Tindakan ini dikenal dengan Snooper Vision yaitu memata-matai, yang menyebabkan guru mengalami ketakutan dan guru akhirnya bekerja dalam tekanan dan kondisi takut dipersalahkan. Kedua, pengelolaan jadwal supervisi akademik yang kurang terprogram dengan baik. Keadaan ini akan menyebabkan guru kurang memiliki kesiapan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tentunya program supervisi yang tersusun akan mampu mendorong guru untuk selalu siap dengan berbagai situasi pembelajaran. Ketiga, teknik supervisi akademik yang digunakan belum menyesuaikan dengan kebutuhan guru. Teknik kunjungan kelas dan pembicaran individual yang dilakukan kepala sekolah selama ini, kurang mendapat respon yang positif dari sebagian besar guru, karena guru merasa kurang nyaman dan timbulnya kekhawatiran dalam melaksanakan pembelajaran. Tentunya, perlu dicarikan teknik lain yang sesuai dengan kebutuhan guru, misalnya dengan teknik tidak langsung. Keempat, kegiatan evaluasi dari supervisi akademik selama ini masih perlu ditingkatkan lagi pelaksanaannya. Terdapat kekurangefektifan dalam pelaksanaan evaluasi dikarenakan kepala sekolah lebih disibukkan dengan berbagai instrumen yang harus diisi dan kurang terperhatikan tentang kinerja guru dalam proses pembelajaran. Kelima, kurang efektifnya pengelolaan arsip penilaian supervisi akademik. Selama ini arsip yang dimiliki tersimpan dalam lemari dan kepala sekolah juga kesulitan untuk menemukan arsip tentang rekam jejak guru selama kegiatan supervisi dilaksanakan. Hal ini tentu berdampak pada keberlanjutan dari supervisi sebelumnya bagi guru yang sudah disupervisi. Keenam, kegiatan tindak lanjut (follow up) kegiatan supervisi akademik kurang terkelola dengan baik, sehingga guru tidak mendapatkan feed back yang cepat dan tepat setelah supervisi akademik dilakukan oleh kepala sekolah.

Keadaan tersebut menuntut kepala sekolah agar mampu melaksanakan supervisi akademik dengan inovasi dan metode yang lebih up to date, sehingga proses penjaminan mutu di sekolah dapat berlangsung dengan optimal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Alfonso, Firth dan Neville (1981) dalam bukunya Instructional Supervision A Behavior System bahwa supervisi akademik yang berkualitas harus mampu merefleksikan tiga tujuan supervisi yaitu pengembangan profesionalisme, pengawasan kualitas dan penumbuhan motivasi guru. Sehingga tujuan tersebut mampu mengubah perilaku guru kearah yang lebih berkualitas dan akan berdampak pada perilaku peserta didik yang baik. Oleh karena itu, perlu didesain sebuah model supervisi akademik yang lebih efektif dan inovatif, agar kepala sekolah mampu melaksanakan proses supervisi akademik secara maksimal. Model yang dikembangkan ini juga untuk menyikapi tantangan abad 21 yang sangat dekat hubungannya dengan teknologi. Tantangan abad 21 ini dikenal dengan era revolusi industri 4.0 yang mengandalkan virtualisasi, digitalisasi, big data, dan internet of thing.

Hasi penelitian pendahuluan yang telah dilakukan terhadap guru dan kepala sekolah membuktikan bahwa supervisi akademik yang berkualitas sangat dibutuhkan. Berdasarkan angket yang disebarkan didapat data tentang pelaksanaan supervisi akademik selama ini. Kondisi di lapangan membuktikan hanya sekitar 68,38% keberhasilan pelaksananan supervisi yang dirasakan oleh guru yang dilihat dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Sedangkan, dari sudut kepala sekolah sekitar 77,55%. Hal ini wajar, karena kepala sekolah merasa telah melaksanakan supervisi akademik dengan baik. Namun pada sisi yang berbeda dirasakan oleh guru, bahwa supervisi akademik kurang berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sudah seharusnya kepala sekolah sebagai seorang supervisor meningkatkan pelaksanaan supervisi baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan maupun dalam penilaian. Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan guru dan kepala sekolah, dimana mereka sangat mengharapkan adanya perubahan kondisi dalam hal: 1) tersedianya penjadwalan kegiatan supervisi yang disusun dengan perencanaan yang matang, 2) menggunakan teknik supervisi lainnya yang bisa membuat guru merasa nyaman dalam melaksanakan proses pembelajaran, 3) tersedianya pengolahan nilai yang otomatis dan tidak menyita waktu kepala sekolah sebagai supervisor, 4) tersedianya rubrik penilaian yang bisa mendekteksi sendiri secara otomatis terhadap penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor dan 5) terlaksananya kegiatan tindak lanjut supervisi akademik, tanpa mengurangi rasa ketidaknyamanan guru.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengembangan model supervisi akademik dengan berpijak pada prosedur pengembangan model Borg & Gall dengan 10 tahapan yang ditempuh yaitu 1) penelitian dan pengumpulan informasi, 2) melakukan perencanaan, 3) pengembangan produk awal, 4) pengujian lapangan awal, 5) melakukan revisi utama terhadap produk, 6) melakukan uji coba lapangan utama, 7) revisi terhadap produk yang siap dioperasionalkan, 8) melakukan uji coba lapangan operasional, 9) revisi produk akhir, 10) desiminasi dan implementasi produk. Ada tiga produk yang dirancang dalam pengembangan model supervisi akademik ini yaitu buku model, aplikasi yang digunakan dan buku panduan pengguna aplikasi. Semua produk yang dikembangkan ini telah diuji validitasnya sehingga layak untuk digunakan pada uji lapangan. Uji lapangan dilakukan pada beberapa sekolah dasar di kota Bukittinggi untuk menguji praktikalitas. Hasil praktikalitas buku model supervisi akademik berbasis web menurut guru 83,67% dan kepala sekolah 82%. Praktikalitas aplikasi e-Supervision menurut guru 83% dan kepala sekolah 81,67%. Praktikalitas buku pengguna menurut guru 85,67% dan kepala sekolah 82%. Tingkat capaian ketiga produk yang dihasilkan ini berada pada kategori sangat praktis. Selain uji praktikalitas yang dilakukan pada uji lapangan, penulis juga melihat keefektifan dari model supervisi akademik berbasis web ini melalui kegiatan pre-test dan post-test yang diberikan guru dan kepala sekolah. Nilai efektivitas hasil tes guru dan kepala sekolah mengalami peningkatan dengan rentang nilai rata-rata untuk guru 82 dan kepala sekolah 92,45. Berdasarkan rata-rata pre-test dan post-test yang telah dilakukan pada kepala sekolah dan guru, dapat dikatakan bahwa pengembangan model supervisi akademik berbasis web efektif untuk diterapkan.

Hasil penelitian di lapangan sangat mengharapkan adanya semacam cara yang bisa digunakan untuk mempermudah pelaksanaan supervisi akademik baik bagi kepala sekolah maupun bagi guru. Hal ini disebabkan supervisi akademik yang dilakukan selama ini masih kurang maksimal menurut guru dengan skor rata-rata 3,42 pada tingkat capaian 68,38%. Tingkat capaian yang paling rendah disini dalam hal perencanaan supervisi akademik. Padahal perencanaan supervisi akademik sangat penting keberadaannya. Hasil penelitian Syafarudin (2016) yang berjudul Strategy of Leadership and Innovation in Improving Company Performance against Competitive Advantage, menyatakan bahwa perencanaan menjadi fondasi utama dalam melaksanakan kegiatan supervisi, sehingga kegiatan lebih terarah dan dapat mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, supervisor perlu menyusun perencanaan dengan matang sehingga pelaksanaan supervisi bisa maksimal.

Meskipun data yang didapat dari kepala sekolah sedikit meningkat dari persepsi guru dengan rata-rata 3,88 pada tingkat capaian 77,55%. Hal ini wajar, karena menurut kepala sekolah sebagai supervisor merasa pelaksanaan supervisi sudah cukup baik, karena dia yang merancang, melaksanakan dan memberikan penilaian. Namun tingkat pencapaian ini belumlah maksimal dan ini masih tergolong rendah. Bahkan kepala sekolah juga mengalami berbagai kendala dalam hal pelaksanaan, dimana kesulitan membagi konsentrasi dalam hal penilaian guru sebagai orang yang disupervisi dengan berkas-berkas yang sudah disiapkan untuk penilaian administrasi kelas, rencana pembelajaran dan sebagainya.

Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, belum ada model supervisi akademik berbasis web yang dirancang menggunakan aplikasi tertentu. Supervisi akademik yang dilakukan masih sangat tradisional dan terbatas pada sarana yang ada.. Hal ini dipertegas Donni Juni Priansa (2018) dalam bukunya Manajemen dan Supervisi Pendidikan, bahwa selama ini pelaksanaan supervisi akademik masih cenderung bersifat tradisional. Bila keadaan ini dibiarkan terus tentu akan berdampak pada kinerja kepala sekolah sebagai supervisor dan juga memberikan pengaruh pada keprofesionalan guru dalam mengajar.

Model final dari supervisi akademik berbasis web ini dinamakan dengan Web Based Academic of Supervision yang disingkat dengan WBAS. Model final ini merupakan hasil dari revisi akhir dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penelitian dari Borg and Gall .

Karakteristik dari model WBAS ini adalah 1) menggunakan aplikasi yang diberi nama e-Supervision dengan bahasa pemrograman PHP (Hypertex Propocessor) berbasis data MySQL (My Structured Query Language). Program ini dijalankan sebagai media untuk membantu pengelolaan penjadwalan, pengolahan nilai, pengadministrasian dan pemberian kegiatan tindak lanjut dalam pelaksanakan kegiatan supervisi akademik, 2) model WBAS diangkat dari analisis kebutuhan guru, 3) aplikasi yang digunakan memudahkan guru mengakses segala pemberitahuan tentang supervisi yang dilakukan, 4) mampu menjaga psikologi guru, karena tidak semua teknik supervisi sesuai dengan kebutuhan guru. Guru dapat melakukan rekaman video pembelajaran atau melalui CCTV yang ada di sekolah dan mengunggahnya di aplikasi e-Supervision, 5) aplikasi e-Supervision juga dilengkapi dengan ruang chatting untuk komunikasi guru dan kepala sekolah di web. Hal ini memudahkan komunikasi secara tidak langsung antara kepala sekolah dan guru. Kalau komunikasi langsung dilakukan setelah supervisi guru merasa tidak nyaman, karena merasa sebagai orang yang bersalah dimata kolega mereka. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan komunikasi juga bisa dilakukan secara tatap muka dengan kepala sekolah. Hal ini bisa dikondisikan sesuai dengan kenyamanan guru, 6) terjaganya kerahasiaan dari hasil supervisi yang dilakukan, karena setiap guru memiliki password untuk masuk pada aplikasi e-Supervision, 6) memberikan kemudahan kepada kepala sekolah dalam melaksanakan penilaian, karena sistem penilaian yang sudah dilakukan secara otomatis dengan mengklik nilai yang sesuai, 7) model supervisi dibangun dengan sintaks yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.

Model WBAS yang dikembangkan ini memiliki nilai novelty yang disesuaikan dengan kebutuhan era revolusi industri 4.0 yaitu; 1) supervisi akademik yang dilakukan lebih menyenangkan, guru tidak merasa tertekan lagi ketika supervisi dilakukan kepala sekolah. Guru dapat mengirimkan video pembelajarannya pada aplikasi yang sudah disediakan, 2) penjadwalan supervisi yang kurang terkelola dengan baik, dapat teratasi bila menggunakan aplikasi e-Supervision ini. Guru dapat mengetahui jadwal supervisi dan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk kelancaran supervisi akademik pada aplikasi e-Supervision dengan cepat, 3) proses penilaian dan tahapan menginterpretasikan hasil pengamatan dapat diproses secara otomatis dan akurat. Selain itu juga mengurangi berbagai permasalahan yang timbul antara guru dan kepala sekolah selama proses penilaian, 4) kepala sekolah tidak perlu membawa format dan lembaran pengamatan yang banyak, karena sudah tersedia di aplikasi dan sistem penggunaannya yang otomatis dengan mengklik bagian yang dibutuhkan, 5) penilaian supervisi akademik dapat dilakukan kapan saja tidak harus dijadwal pembelajaran sehingga lebih fleksibel dalam penggunaan, 6) guru dapat meng-upload semua file, video ataupun jurnal serta link untuk mengoptimalkan proses pembelajaran guru, yang telah dibagikan kepala sekolah pada aplikasi e-Supervision. Hal ini akan memudahkan guru untuk mendapat masukan dan koreksian yang cepat dan tepat dari kepala sekolah, sehingga jelas langkah tindak lanjut berikutnya yang akan diambil.

Peluang model WBAS bisa digunakan untuk mendukung program-program tindak lanjut atau follow up yang akan dilakukan oleh Dinas Pendidikan. Di mana para pengawas dapat mengakses aplikasi bila diberikan hak akses. Sehingga mereka dapat melihat rekam jejak dari guru-guru yang disupervisi. Beberapa program tindak lanjut yang bisa dilakukan oleh Dinas Pendidikan adalah pemetaan kemampuan guru, pemetaan mutu pendidikan, mampu mengukur kemampuan pedagogik guru dan kompetensi profesional guru. Sehingga, pihak Dinas Pendidikan dapat mengadakan berbagai kegiatan pelatihan ataupun workshop.

Gambar. Model Final WBAS

Akhir dari penulisan artikel ini penulis sampaikan, bahwa tidak ada model supervisi akademik yang terbaik selain dari model supervisi akademik yang diangkat dari proses need analisys yang dilakukan secara komperehensif. Oleh karena itu, penekanan supervisi akademik berbasis web yang dikenal dengan WBAS ini berada pada sintaks yang tersusun secara sistematis dan komprehensif mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Kontribusi lain yang dihasilkan dari model WBAS adalah menghasilkan supervisi akademik yang berbudaya mutu dengan mengikuti langkah pengujian validitas, praktikalitas dan efektivitas model.

Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi untuk penyelesaian S-3 pada Prodi Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang dengan tim promotor Prof. Dr. Kasman Rukun, M.Pd. dan Dr. Hadiyanto, M. Ed., dengan tim penguji Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M. Pd., Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M. Ed., Dr. Rifma, M. Pd.

Balang

LEAVE A REPLY