PadangTIME.com– Uni Emirat Arab akan mengirim wahana antariksa ke Mars untuk mempelajari cuaca dan iklim di permukaan planet tersebut pekan ini Hope wahana berbobot 1,3 ton tersebut, akan diterbangkan ke ruang angkasa oleh roket Jepang, H-2A, dari pangkalan antariksa Tanegashima pada Jumat (17/07) pagi waktu setempat.
Wahana ini kemudian akan menempuh perjalanan 500 juta kilometer dan dijadwalkan tiba di atmosfir Mars pada Februari 2021, yang bertepatan dengan perayaan pembentukan negara Uni Emirat Arab yang ke-50.
Hope memang secara khusus didesain untuk mempelajari iklim dan cuaca di Mars, namun dari data yang didapat para ilmuwan berharap bisa mendapatkan jawaban atas misteri yang sejauh ini belum terpecahkan.
Para ilmuwan berpendapat permukaan Mars pernah memiliki laut seperti yang kita kenal di Bumi. Namun dalam perjalanannya, permukaan planet kemudian menjadi hamparan yang tandus.
Hope adalah satu dari tiga misi ke Mars yang diluncurkan bulan ini.
Amerika Serikat dan China akan mengirim wahana peneliti yang akan menjelajah permukaan planet tersebut. Persiapan misi sudah memasuki tahap akhir.
UEA tak punya pengalaman mendesain dan membuat wahana antariksa  tak banyak negara yang punya pengalaman ini, kecuali Amerika, Rusia,  Eropa, dan India.
Fakta bahwa tahun ini UEA mengirim wahana peneliti ke Mars menunjukkan “ambisi besar” negara di Timur Tengah tersebut.
Hope hanya dibuat dalam waktu enam tahun dengan bantuan para ahli dari Amerika.
Ketika nanti Hope berada di atmosfir Mars, diharapkan didapat data-data baru tentang atmosfir, iklim dan cuaca di planet ini.
Secara khusus, para saintis berharap dengan data ini mereka bisa mendapatkan jawaban atas misteri yang sejauh ini belum terpecahkan: mengapa air di permukaan Mars raib dan sekarang menjadi hamparan yang tandus.
Hope juga akan dijadikan menjadi inspirasi agar anak-anak muda di UAE dan di kawasan Arab tertarik mempelajari sains di sekolah dan perguruan tinggi.
Wahana ini menjadi salah satu indikator ambisi UAE untuk tidak lagi tergantung dengan minyak dan gas.
Di masa depan mereka ingin mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan.
Namun misi ke Mars bukan pekerjaan mudah. Setengah dari proyek ke Planet Merah ini berakhir dengan kegagalan, kenyataan yang disadari oleh direktur proyek Hope, Omran Sharif.
“Ini adalah misi riset dan tentu saja ada risiko kegagalan,” kata Sharif kepada BBC News.
“Meski begitu, kegagalan tak boleh mengganggu kemajuan. Yang penting adalah, kapasitas dan kemampuan yang didapat dari UEA dari misi ini; pengetahuan yang bisa diperolah dari program ini,” jelasnya.
Pemerintah UEA mengatakan mereka tak bisa membeli wahana antariksa dari perusahaan asing dan karenanya harus membuat sendiri.
Itu berarti UEA harus menggandeng beberapa universitas di Amerika yang punya pengalaman mendesain dan membuat satelit.
Tim dari UEA dan Amerika inilah yang merancang Hope, termasuk membuat tiga instrumen yang di wahana tersebut yang akan mempelajari atmosfir Mars.
Tugas dibagi menjadi dua, sebagian dikerjakan di Laboratorium Atmosferik dan Fisika Ruang Angkasa (LASP) Universitas Colorado dan sebagian lagi di Pusat Ruang Angkasa Mohammed Bin Rashid (MBRSC) di Dubai.
Insinyur senior LASP, Brett Landin, meyakini ke depan UEA bisa menjalankan misi ke ruang angkasa tanpa bantuan negara lain berkat pengalaman dari misi Hope.
Ibarat belajar naik sepeda, kata Landin, seseorang tak bisa memahami cara naik sepeda sampai ia belajar secara langsung dan kemudian menguasai teknik naik sepeda.
Prinsip yang sama berlaku untuk membuat wahana antariksa.
“Para insinyur [UEA] sudah punya pengalaman dan pengetahuan. Mereka sudah tahu caranya bila ingin membuat wahana antariksa di masa depan,” kata Landin.
Para imuwan UEA tak ingin Hope melakukan penelitian yang sudah dilakukan negara-negara lain.
Itulah sebabnya mereka ke NASA dan bertanya bidang kajian apa saja yang belum pernah dilakukan.
Jawaban dari ini menjadi pijakan misi Hope dan dari sini para ilmuwan memutuskan untuk secara khusus mempelajari cuaca dan iklim Mars.
Perubahan telah membuat Mars kehilangan air dan para saintis ingin mendapatkan jawaban faktor-faktor penyebabnya.
Untuk mendapatkan data ini, Hope akan mengorbit di atas ekuator Mars pada ketinggian 22.000 km hingga 44.000 km.
Tim ilmuwan dipimpin oleh Sarah Al Amiri, yang juga adalah menteri riset dan teknologi UEA Ia memulai karier di Pusat Ruang Angkasa Mohammed Bin Rashid sebagai insinyur perangkat lunak dan sekarang banyak terlibat di proyek Hope.
Sekitar 34% staf yang bekerja di Hope adalah perempuan.
Menurut Sarah Al Amiri, ada kesenjangan gender di proyek Hope, terutama di jenjang wakil manajer, yang bertanggung jawab kepada direktur proyek, Omran Sharif. (*al)
Balang

LEAVE A REPLY

7 + 2 =