ads
PadangTIME.com | Mahasiswa baru biasanya memiliki banyak mimpi untuk masa depannya setelah lulus berkuliah.
Bagi mahasiswa jurusan teknik informatika / komputer (IT), mimpi yang banyak ditemukan adalah keinginan bekerja di perusahaan ternama, membuat startup dan aplikasi canggih, hingga memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat dengan penerapan teknologi.
Sugianto Halim, CEO SEVIMA yang juga alumni Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), juga mengakui bahwa dirinya punya mimpi yang sama. Tapi dalam perjalanannya, ternyata mencapai mimpi tersebut tidak bisa langsung diraih sekejap setelah lulus berkuliah. Namun perlu perjuangan ekstra sepanjang 18 tahun Halim mendirikan SEVIMA.
“Mahasiswa yang masuk di Jurusan Informatika ini merupakan mahasiswa pilihan. Proses seleksinya sangat ketat bahkan menjadi salah satu yang terfavorit di Indonesia, karena (lulusan) bidang IT sedang tren dan sangat dibutuhkan.
Namun untuk sukses, perlu keterampilan dan menyiapkan langkah konkrit bagaimana setelah lulus mahasiswa bisa sukses dalam karir, yaitu saat bekerja di bidang IT,” ujar Halim dalam Orientasi Keilmiahan dan Keprofesian Berbasis Kompetensi (OK2BK) bersama ribuan mahasiswa baru ITS, Sabtu (20/08) pagi.
Berdasarkan pengalamannya memimpin SEVIMA untuk mengembangkan sistem akademik semenjak masih berstatus mahasiswa ITS, hingga kini memimpin tiga perusahaan dan komunitas pendidikan yang tersebar di ribuan kampus se-Indonesia, Halim membagikan tips bagi para mahasiswa untuk sukses berkarir di bidang IT. Berikut tipsnya:
3 Tips Sukses Berkarir di Bidang IT
1. Memiliki Sikap yang Baik
Menurut Halim, sepandai-pandainya orang, attitude (sikap) akan selalu menjadi prioritas utama dalam berkarir. Kemampuan kompetensi seseorang akan mendapatkan nilai plus jika memiliki attitude yang bagus.
Di bidang IT, memiliki sikap yang baik juga makin penting karena tidak semua lapisan masyarakat memahami aspek teknis terkait komputer dan sistem informasi. Misalnya, masyarakat yang bisa menggunakan gadget dan media sosial, belum tentu dapat membuat aplikasi dan memahami jika ada masalah teknis.
Good attitude masih menjadi poin penting dalam penilaian saat berkarir, berkomunikasi, menjelaskan masalah, dan mencari solusi. Kompetensi seseorang akan semakin terlihat jika dibarengi dengan attitude yang baik,” pesan Halim.
2. Terus Belajar Teknologi Terbaru
Lulus dari jurusan IT, para mahasiswa tentunya sudah mampu membuat aplikasi dan melakukan pemrograman (coding). Akan tetapi, apa yang dipelajari saat kuliah bisa jadi sudah berubah drastis saat para mahasiswa lulus karena perkembangan teknologi begitu cepat.
Halim memberi contoh berupa pengetahuan terkait infrastruktur awan (cloud). Saat Halim menjadi mahasiswa dan ikut membangun Sistem Akademik di ITS, tentu hal yang dilakukan adalah memasang aplikasi tersebut di sebuah server yang berbentuk komputer besar dan diletakkan di ruangan yang dingin. Namun hanya berselang kurang lebih 10 tahun, berbagai aplikasi termasuk sistem akademik di kampus kini sudah berubah menjadi berbasis awan (Siakadcloud). Kampus tidak perlu lagi membeli dan merawat server untuk pembelajaran online dan administrasi perkuliahan.
“Jadi lulusan IT nanti harus terus belajar teknologi secara cepat, fokus, dan dalam waktu yang sempit. Tak hanya kemampuan teknologi saja, namun juga kesiapan lainnya seperti persiapan jaringan dan upgrade sistem yang sangat cepat. Semuanya sudah melalui komputasi awan (cloud).”
3. Mengembangkan Soft Skill
Terakhir menurut Halim, berkarir di dunia IT tak hanya membutuhkan skill teknikal saja. Namun, seorang tenaga IT yang hebat juga harus memiliki skill komunikasi yang bagus. Ada beberapa skill yang dibutuhkan oleh seorang ahli IT, yaitu Communication, problem solving, analytical, creativity, resourceful, perseverance, teamwork.
“Tenaga IT akan semakin hebat jika ditunjang dengan softskill yang mumpuni. Soft skill ini akan menciptakan nilai plus bagi ahli IT,” ungkap Halim.
Program ini sangat membantu mahasiswa dalam mengasah kemampuan dan bisa bekerja langsung di industri, dan dapat diikuti mahasiswa secara gratis bahkan digaji tiap bulannya.
“Untuk melatih diri secara softskill, mahasiswa bisa mencoba program MBKM. Program ini akan membantu mahasiswa bisa merasakan belajar di lingkungan kerja yang sesungguhnya,” pungkas Halim.
(pt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini