Tim Dosen Universitas Andalas : Pelaku Usaha Industri Kreatif tidak gunakan  Digitalisasi dalam Kegiatan Ekonomi

0
1290

PadangTIME.com – Tim Dosen Universitas Andalas  melakukan Pengabdian  Kepada Masyarakat Skim Program Kemitraan Masyarakat untuk membantu   Usaha  UMKM  untuk lebih Berkembang dan lebih maju hal ini dikatakan Adila Adisti,  SE, M.Ec Dosen Fakultas Ekonomi  Universitas Andalas  ,pada Jumat  (18/12).

bebi

Dikatakan Adila Adisti, Program Kemitraan Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya pelaku UMKM di Sumatera Barat .Adila Adisti menjelaskan Fakultas Ekonomi Unand  pada masa pandemi ini perlu mendorong  dan mengambil srategi agar dapat meningkatkan persaingan di dunia global. kekiatan ini dilakukan  Melalui Pemberdayaan Pengrajin  Batik Padang Basurek Bingkuang pada Jumat  (18/12)

Lebih Lanjut dikatakan  Adila Adisti Pemberdayaan Pengrajin  Batik Padang Basurek Bingkuang dilakukan Tim Dosen Universitas Andalas dengan 2 orang Angota diantaranya bidang keahlian  Chairunnisya, SE, MM / Manajemen Pemasaran dan  HafizahHanim, S.Kom, M.Kom/ Teknologi
Informasi

Dikatakan Adila Adisti, salah satu tujuan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini dikakukan  untuk memjadikan industri kreatif di Kota Padang  agar  meningkatkan persaingan di dunia global. Melalui industri kreatif memungkinkan untuk berinovasi dan kreativitas  sehingga dapat menimbulkan efek multipier pada ekonomi.

Sektor ekonomi kreatif menjadi salah satu penggerak perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp. 1.200 triliun di tahun 2019 dengan kenaikan pertumbuhan sebesar 9,6 % (BPS, 2019) ungkap  Adila Adisti

Ditegas Adila Adisti 3 sektor penyumbang terbesar pada ekonomi kreatif adalah kuliner, fesyen dan kriya. Ekspor dari sektorini mencapai Rp. 316,4 triliun di tahun 2018 dengan negara tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, Swiss, Jepang, Jerman, dan Singapura (kata data.co.id). Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 12 persen dari total Angkatan kerja.

Dikatakan Adila Adisti pada PadangTIME.com  Memasuki era digitalisasi, industri kreatif harus memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelegent) baik dari sisi produksi, penjualan, distribusi termasuk promosi. Apalagi dengan keadaan kebijakan tatanan kehidupan baru (new normal) akibat dari pandemic COVID-19 mempercepat peralihan kepada sistem Less Contact Economy (LCE)yaitu teknologi yang bisa digunakan untuk mendukung LCE adalahe-commerce, digital payment, telemedicine, hingga drone dan robot. Industri kreatif bisa  memanfaatkan  market place yang tersedia untuk menjual produknya seperti  lazada, tokopedia dan shopee.

Dikatakan Adila Adisti, Selain itu Kegiatan ini dapat memanfaatkan media sosial seperti facebook, Instagram untuk media promosi. Hal ini harus dilakukan agar industri kreatif mampu adaptif dengan setiap perkembangan sehingga terus eksis dan dapat bersaing.

Dijelaskan Adila Adisti  dari temuan dilapangan  permasalahan muncul ketika pelaku industri kreatif itu sendiri tidak terbiasa dengan digitalisasi  dalam  ekonomi. Pelaku industri kreatif lebih banyak mengandalkan proses produksi, penjualan hingga pemasaran dengan metode  konvesional. Selain itu masalah klasik lain dari industriini  masih  menjadi  kendala  untuk  terus berkembang, seperti  masih  banyak yang mengandalkan modal sendiri  untuk  memulai  usaha, masih belum berbadan  usaha, belum memlilkirkan  manajemen  operasional yang professional, belum memiliki pencatatan keuangan yang baik, tidakadanya data base pelanggan dan persediaan hingga keterbatasan alat produksi.

Disisi lain,ungkap Adila Adisti prospek  pengembangan  industri  kreatif  termasuk  industri batik sangat bagus namun tingkat  persaingan sektor  industri  ini juga semakin besar. Pelaku usaha  sektor kerajinan batik umumnya  kelompok Usaha Kecil dan Menengah yang mempunyai berbagai permasalahan yang perlu diatasi.

Perlu ada  upaya dari seluruh stakeholders untuk mengembangkan UKM kerajinan batik di Sumatera Barat  khususnya Kota Padang. Kota Padang adalah  ibu kota  propinsi yang menjadi  tujuan  wisatawan dan sebagai  tempat penyelenggaran even baik di tingkat  propinsi, nasional   maupun   internasional ungkap Adila Adisti,

Tempat Produksi Batik AKU PPKS, Pasar Raya, Kota Padang

Hal ini menjadi  peluang  bagi  kota  Padang  untuk  menumbuh  kembangkan  industri  kreatif batik sehingga  dapat  memberikan  dampak   secara  sosial dan ekonomi pada masyarakat dan pemerintah  daerah. Untuk  itu  penting  adanya  pembinaan  dari  Perguruan Tinggi melalui program kemitraan masyarakat membantu usaha berkembang sehingga dapat menghasilkan kelompok  usaha yang berdaya  saing di era digitalisasi dan mandiri  secara  finansial.

Lebih lanjut dikatakan Adila Adisti, AKU PPKS atau  Asosiasi Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga merupakan kelompok  usaha yang membawahi  beberapa UKM batik di Kota Padang. AKU PPKS hanya terdiri  dari   ketua dan manager operasional yang menjalankan kegiatan  usaha  kelompok setiap  harinya.

Saat Tim Dosen Universitas Andalas melakukan kegiatan pembinaan  pada Manager operasional bertugas yang mengawasi jalannya produksi  serta memastikan proses pemasaran  dari   produk , UKM tersebut dibina dan dikelola   untuk   memproduksi Batik Padang Basurek   Bingkuang. Untuk menjaga  merek   Batik Padang Basurek  Bingkuang,  pengelola AKU PPKS telah mendaftarkan merek tersebut ke HKI pada tahun 2019 dan menunggu  keputusan pada tahun 2020 ini.

Saat ini, AKU PPKS telah membina 3 UKM perorangan dan mempekerjakan 2 asisten  untuk  membantu UKM tersebut. Selama pandemi COVID 19, AKU PPKS tidak  memproduksi batik karena  permintaan  konsumen yang sangat  menurun, namun, kelompok  ini   tetap  produktif  dengan  memproduksi masker.

Kebutuhan konsumen yang telah  beralih  tersebut  mempengaruhi omset AKU PPKS turundari Rp 150.000.000 per bulan  menjadi Rp10.000.000 per bulan. Pemasaran batik produksi UKM binaan AKU PPKS lebih banyak dilakukan secara offline melalui show room, atau  pameran. Batik produksi UKM binaan AKU PPKS telah  dipasarkan  baik kedalam negeri maupun luar negeri Di Indonesia, batik AKU PPKS telah melakukan penjualan  dibeberapa  kota  besar  seperti Medan, Jakarta, Bandung, dan Kota Padang. Sedangkan untuk di Luar Negeri, produk AKU PPKS telah dipasarkan hingga ke China, Vietnam, Malaysia dan Singapura. Usaha ini  hanya  memiliki  offline store yang berlokasi di Pasar Raya Blok 1 Lt 3 (digunakan sebagai tempat produksi) dan Blok 3 lt 3 (digunakan sebagai show room dan tempat pelatihan batik untuk  masyarakat).

Pemasaran batik produksi UKM binaan AKU PPKS lebih  banyak  dilakukan  secara offline melalui showroom, atau pameran. Sehingga dengan kebijakan new normal menyebabkan  masyarakat mulai beralih menggunakan teknologi dalam kegiatan sehari-hari, termasuk melakukan pembelian produk Batik.

Pada Masa Pandemi covid 19 ini dibutukan   inovasi teknologi berbasis Less Contact Economy (LCE), yaitu teknologi yang bisa digunakan untuk mendukung LCE adalahe-commerce, digital payment, telemedicine, hingga drone dan robot ungkap Adila Adisti

Adila Adisti mengatakan Produk batik AKU PPKS dibagi menjadi empat jenis yaitu batik print (Rp90.000), batik cap (Rp400.0000-Rp500.000), batik tulis (Rp1.800.000-Rp4.500.000), dan (4) batik ATBM (Rp1.800.000). Beragamnya produk batik AKU PPKS menyebabkan AKU PPKS dapat menyasar semua kalangan konsumen, dimulai dari konsumen berpenghasilan rendah, menengah maupun berpenghasilan tinggi. Produk yang dihasilkan AKU PPKS adalah batik print, batik cap, batik tulis, dan batik ATBM. Berikut beberapa produk batik hasil produksi AKU PPKS:

Usaha ini hanya memiliki offline store yang berlokasi di Pasar Raya Blok 1 lantai 3 (digunakan sebagai tempat produksi) dan Pasar Raya Blok 3 lantai 3 (digunakan sebagai show room dan tempat pelatihan batik untuk masyarakat). Offline store AKU PPKS berjarak 1,7 km dari lokasi kampus Universitas Andalas terdekat yaitu Kampus Jati yang beralamat di Jl. Perintis Kemerdekaan No.77, Kota Padang, Sumatera Barat.

Lebih Lanjut Adila Adisti  menjelaskan pada PadangTIME.com  berdasarkan hasil diskusi Tim Dosen Universitas Andalas dengan Mitra, terdapat 4 aspek permasalahan yang butuh untuk diselesaikan yaitu:
1. Aspek Pemasaran dan Distribusi
Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini menyebabkan mitra sulit untuk memasarkan produknya.

Lokasi showroom dan pabrik yang berada ditengah Pasar Raya Padang menyebabkan mitra harus menghentikan produksi di pabrik selama 5 bulan. Penutupan toko tersebut sangat berdampak pada penjualan Batik AKU PPKS, jika sebelum pandemi COVID-19 usaha ini memiliki omset mencapai Rp 150.000.000 per bulan, saatomset yang diperoleh hanya mencapai Rp 10.000.000 per bulan.

Oleh itu perlu untuk mengembangkan penjualan secara online agar batik AKU PPKS tetap dapat diproduksi, dan dijual kepada pelanggan. Namun, saat ini mitra belum memiliki tenaga kerja dibidang pemasaran Saat ini, mitra hanya memasarkan produknya melalui showroom, namun ditengah kondisi pandemi COVID-19 mitra merasa perlu untuk memasarkan produk secara online.

Namun, mitra belum memiliki keahlian dalam memasarkan produk baik menggunakan media sosial (seperti Facebook dan Instagram) ataupun market place (seperti Shopee dan Tokopedia).

2. Aspek Manajerial
Untuk mendukung manager operasional melaksanakan tugasnya, mitra membutuhkan pelatihan pencatatan keuangan secara manual dan menggunakan software. Menurut mitra, belum adanya laporan keuangan yang tertata dengan baik. Selain itu, pencatatan persediaan yang belum ada menyebabkan mitra kesulitan untuk mendata alat dan bahan yang dimiliki.

3. AspekProduksi
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan mitra, saat ini di Provinsi Sumatera Barat belum ada pemasok yang dapat memproduksi batik print. Tidak hanya bahanbaku, alat produksi batik juga dipesandari Kota Jogjakarta dan Kota Semarang. Pembelian alat dari Pulau Jawa tersebut beresiko mengalami kerusakan. Seperti cap batik, jika mengalami kerusakan maka mitra harus menunggu selama 20 hari untuk mendapatkan cap batik baru sehingga menghambat proses produksi. Selain itu, pengerajin batik tulis belum semahir pengerajin yang ada di Pulau Jawa. Hal tersebut menyebabkan mitra harus mengeluarkan biaya lebih dengan memproduksi batik print dan batik tulis di Pulau Jawa. Mitra merasa perlu untuk melakukan pengembangan keahlian dengan mengikuti pelatihan mewarna dan pelatihan batik tulis.

4. Aspek Pengembangan Sentra Pembinaan Kelompok
Penjualan secara online melalui media sosial (seperti Instagram dan Facebook) maupun marketplace (seperti Shopee dan Tokopedia) membutuhkan tenaga kerjabaru yang handal memanfaatkan kedua platform online tersebut. Namun saatini, belum ada tenaga kerja yang memahami penjualan online. Jika memiliki kemampuan pemasaran online, mitra berharap dapat meningkatkan penjualan.

5. Aspek Permodalan
Omset penjualan mitra yang sangat turundari Rp150.000.000/bulan menjadi Rp10.000.000/bulan membuat mitra tidak bisa melanjutkan proses produksi. Mitra tidak memiliki dana yang bisa digunakan untuk membeli bahan produksi batik. Mitra merasa perlu penyediaan bahan berupa kain dan lilin untuk memulai produksi pasca pandemi Covid-19.

6. Aspek Fasilitas
Lokasi showroom dan pabrik yang berada di zona merah penyebaran Covid-19 membuat seluruh kegiatan produk sihingga penjualan terhenti. Showroom berada di lantai 3 pasar raya padang, dimana sangat sepi dan jarang dikunjungi pembeli. Jika dilihat dari penataan showroom, persediaan batik belum tertata sedemikian rupa sehingga dapat menarik pembeli dalam melihatnya. Selain itu etalase yang dimiliki belum maksimal sehingga tidak dapat memajang produk dengan menarik. (02)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here