ads
Padang TIME – Situasi konflik yang terus berlarut-larut di Ukraina akan melahirkan perang dalam spectrum yang lebih luas, seperti Cyber Warfare.
Demikian dikatakan Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy Dr. phil. Shiskha Prabawaningtyas dalam webinar berjudul “Tantangan Presidensi G20 dan Konflik Rusia-Ukraina” Selasa, 15/3.
“Oleh karenanya, peran Indonesia dalam G20 tahun ini  tentu akan sangat penting jika Indonesia memainkan peran dengan percaya diri serta leadership yang baik. Ditambah lagi, Indonesia memiliki citra yang baik sebagai penyambung lidah negara-negara berkembang di antara negara-negara peserta G20.” Katanya.
Acara yang diselenggarakan Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) bersama Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D. dosen Universitas Katolik Parahyangan, serta jurnalis senior The Jakarta Post dan   peneliti Tenggara Strategics Endy M.Bayuni dan dimoderatori oleh Direktur CIDE Anton Aliabbas, Ph.D.
Dikaitkan dengan Presidensi G20, Shiskha melihat bahwa Indonesia memiliki proyek-proyek ekonomi yang baik dengan Rusia dan Ukraina “Juga dari sisi historis Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan Ukraina, serta dukungan hegemoni Rusia kepada Indonesia di tahun 1950-an. Sikap Indonesia dalam politik bebas aktif tentu menentang kekerasan dan juga kemerdekaan merupakan hak konstitusi sebuah negara.” Katanya.
Menurut Shiskha jika Rusia tidak hadir, maka forum G20 tetap akan fokus dalam hal ekonomi. “Dalam forum G20 Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, pandemic dan  perubahan iklim. Indonesia juga perlu mengantisipasi ekses konflik yang saat ini berdampak pada harga minyak dunia serta komoditas gandum yang menjadi salah satu komoditas penting nasional serta dampak sanksi ekonomi yang diberlakukan kepada Rusia akibat aksi militer di Ukraina.” Katanya.
Shiskha juga menekankan bahwa politik bebas dan aktif yang dianut Indonesia masih sangat relevan dalam kondisi saat ini, apalagi jika menengok ke belakang histori yang kuat antara Indonesia dengan Rusia dan Ukraina.
Dalam kesempatan yang sama, Endy M. Bayuni menyatakan perlunya Indonesia turut aktif dalam melakukan mediasi perdamaian antara Rusia dengan Amerika dan negara-negara anggota NATO seperti yang disarankan oleh DPR, karena G20 memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kondisi ketidakpastian seperti saat ini.
“Dari sisi diplomasi, sikap Indonesia sudah cukup baik dengan tidak menyebutkan keterlibatan negara Rusia dan Ukraina, walaupun dari sisi organisasi sikap Indonesia yang ikut menyetujui resolusi Sidang Umum PBB yang mengutuk aksi militer Rusia di Ukraina ini disayangkan.” Ujarnya.
Endy juga memprediksi perang ekonomi kemungkinan akan muncul jika eskalasi konflik di Ukraina semakin meningkat  mengingat Rusia juga negara besar yang mempunyai pengaruh dalam sistem perdagangan internasional.
“Pertemuan G20 perlu memberikan resolusi yang relevan yang berkaitan dengan konflik Rusia Ukraina karena berkaitan dengan kemungkinan krisis ke depan, apalagi konflik ini telah memicu kenaikan harga minyak, krisis energi di Eropa, dan bukan tidak mungkin krisis akibat kenaikan harga minyak dunia juga bisa menghampiri Indonesia.” Tambahnya.
Endy juga menggariwbawahi pentingnya sikap politik bebas dan aktif terhadap situasi politik yang terjadi di Ukraina. Di sisi lain, Indonesia sebagai tuan rumah G20 perlu menginisiasi roadmap jangka panjang seperti yang dilakukan oleh pemerintah di tahun 1995 melalui KTT APEC yang melahirkan Perdagangan Bebas Kawasan Asia Pasifik di tahun-tahun setelahnya.
Sementara itu Yulius Purwadi Hermawan memandang sikap hati-hati Indonesia dalam merespon situasi di Ukraina sudah tepat mengingat posisi Indonesia sebagai tuan rumah G20 di tahun 2022 ini. Selain itu Yulius juga mengatakan bahwa  inflasi global akan sulit dihindarkan ketika kenaikan harga minyak dunia akibat situasi di Ukraina terus berlanjut.
“Dari sisi perdagangan, Ukraina dan Rusia merupakan mitra dagang yang strategis bagi Indonesia. Ukraina merupakan pengekspor Gandum dan Jagung terbesar ke-3 bagi Indonesia, oleh karenanya situasi krisis di Ukraina kemungkinan akan menganggu pasokan komoditas ini.” Paparnya.
“Jika situasi tidak kunjung membaik, kehadiran Rusia di G20 akan dilakukan secara virtual, di tengah desakan dari beberapa negara anggota G20 untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotaan. Posisi Rusia saat ini merupakan komplikasi dari situasi yang sudah dialami sebelumnya.” Ujar Yulius.
Menurut pandangan Yulius, negara G7 sangat memerlukan forum G20 untuk menjembatani perbedaan dengan Rusia dan Cina.
“Selain itu melalui forum G20 juga diharapkan Indonesia turut berperan dalam mendorong transisi new energy yang sudah dikampanyekan sejak lama. Manuver dan langkah Cina sebagai negara anggota G20 akan sangat strategis dalam menentukan situasi yang akan terjadi di dalam G20 tahun ini.” Pungkasnya.  (pt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini