oleh : Dr. Fatkhur Rohman, M.Pd.

PadangTIME.com-Tuntutan pembelajaran di Abad 21 memberikan dampak perubahan terhadap paradigma pendidikan lama yaitu teacher centered learning menjadi student center learning. Selain itu, fakta menyatakan bahwa kompetensi pembelajaran Abad 21 tidak lagi hanya fokus terhadap pencapaian keterampilan reading, writing, dan arithmetic, karena keterampilan ini dipandang tidak cukup untuk memenuhi tuntutan dunia kerja yang dihadapi oleh mahasiswa di Abad 21.

Fakta lain menyatakan bahwa sistem pendidikan yang diadopsi di Abad 21 harus memadukan pengetahuan, pemikiran, keterampilan inovasi, media, literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan pengalaman kehidupan nyata. Oleh sebab itu, pembelajaran di Abad 21 harus mampu membangun beberapa keterampilan Abad 21 seperti keterampilan berpikir kritis dan memecahkan
masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, literasi media, literasi ICT dan literasi informasi. Pembelajaran yang mengintegrasikan project, technology, dan active (PROTECTIVE) dipandang sebagai solusi dan terobosan baru dari model pembelajaran inovatif serta menarik yang mampu membangun berbagai keterampilan yang dibutuhkan mahasiswa di Abad 21.
Model pembelajaran PROTECTIVE dirancang berdasarkan tiga komponen dasar yang disesuaikan dengan tuntutan paradigma pendidikan Abad 21 yakni project, technology, dan active. Pembelajaran yang didasarkan pada proyek kerja akan menggali keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah serta keterampilan produktivitas dan akuntabilitas mahasiswa. Pembelajaran yang mengarah pada proyek akan lebih efektif dan efisien dilakukan bila diiringi dengan penggunaan teknologi, pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran akan membuat mahasiswa belajar untuk membangun keterampilan literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT. Aktifitas pembelajaran dalam model PROTECTIVE mengacu pada konsep “What I teach to another, I master” dari teori Active Learning oleh Silberman (2009).
Artikel ini membahas beberapa penemuan menarik dalam mengembangkan dan menghasilkan model pembelajaran PROTECTIVE yang valid, praktis dan efektifitas untuk dilaksanakan. Langkah-langkah pembelajaran model PROTECTIVE didasarkan pada langkah model project-based learning (PjBL) dan diambil dari hasil penelitian mutakhir pada beberapa jurnal internasional bereputasi. Terdapat enam tahapan yang harus
dilakukan oleh praktisi pendidikan saat melaksanakan model PROTECTIVE yaitu perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, uji coba produk, publikasi produk proyek, praktikum dengan produk proyek dan diskusi laporan praktikum. Tahap uji coba produk, publikasi produk proyek, dan praktikum dengan produk proyek merupakan kebaruan (novelty) model PROTECTIVE yang tidak ditemui pada model pembelajaran berbasis proyek lainnya.
Pada tahap perencanaan proyek, mahasiswa dapat belajar untuk membangun keterampilan dalam merancang pengelolaan pelaksanaan proyek, merancang kegiatan untuk mencapai hasil yang sudah ditetapkan serta menggunakan cara berpikir secara sistematis dalam membuat rancangan proyek. Pada tahap kedua, tahap pelaksanaan proyek, mahasiswa dapat belajar untuk membangun keterampilan literasi informasi, literasi ICT, produktivitas dan akuntabilitas serta kolaborasi sementara dosen menjalankan perannya dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang dinamis dan mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa.
Tahap uji coba produk dapat membangun keterampilan literasi media, produktivitas dan akuntabilitas, dan kolaborasi mahasiswa. Tahap publikasi produk proyek dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, keterampilan dalam berkolaborsi, serta keterampilan literasi media. Tahap praktikum dengan produk proyek berpotensi positif dalam membangun keterampilan literasi media, kolaborasi serta berpikir kritis dan mengatasi masalah. Pada tahap terakhir, diskusi laporan praktikum, mahasiswa dapat
belajar mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, berkomunikasi dan berkolaborasi.

Model PROTECTIVE yang dikembangkan ini telah teruji valid berdasarkan penilaian dari pakar kelimuwan Fisika, pakar teknologi pembelajaran,
pakar didaktik/pengajaran, pakar evaluasi pendidikan serta pakar bahasa Indonesia. Pengujian validitas dari model PROTECTIVE dilakukan terhadap aspek format buku, materi/isi, bahasa, kegrafikaan, dan komponen model pembelajaran seperti sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiring. Hal ini bermakna bahwa model PROTECTIVE merupakan model pembelajaran yang sahih atau kredibel dalam membangun keterampilan Abad 21 karena dikembangkan berdasarkan teori yang kuat.
Berdasarkan uji coba penerapan model PROTECTIVE di lapangan, diketahui bahwa model ini bersifat praktis, berdaya guna dan bermanfaat berdasarkan penilaian pengguna dosen dan mahasiswa. Para pengguna berpendapat bahwa sintaks model ini dapat terlaksana dengan sangat baik, sangat bermanfaat dalam membangun keterampilan Abad 21, juga memiliki kejelasan penerapan peran dosen dan mahasiswa, serta prinsip reaksi dari masing-masing peran tersebut.
Model PROTECTIVE ini juga telah teruji efektif membangun keterampilan Abad 21 mahasiswa di tempat sampel penelitian yaitu UIN Imam Bonjol Padang. Ketika model PROTECTIVE dibandingkan dengan pembelajaran konvensional berupa ceramah diskusi dan praktikum, model ini terbukti jauh lebih unggul dalam hal membangun keterampilan berpikir kritis dan mengatasi masalah, kolaborasi, komunikasi, dan literasi media. Hal ini memberi gambaran bahwa pengembangan model pembelajaran PROTECTIVE berhasil mencapai target yang diinginkan.
Sangat disayangkan rasanya jika model PROTECTIVE ini tidak dimanfaatkan dalam pembelajaran atau hanya tersimpan sebagai arsip kemudian dilupakan. Karena jelas dari pemaparan sebelumnya, model PROTECTIVE memiliki dampak yang sangat baik dalam membangun berbagai macam keterampilan Abad 21 yang sangat dibutuhkan mahasiswa di zaman sekarang. Tak perlu ragu menggunakan model PROTECTIVE dalam .(Fatkhur Rohman)
Balang

LEAVE A REPLY