Penyusunan Ransum Ternak Sapi Potong

2927

Pewarta : Dr. Evitayani, Prof. Lili Warly dan Prof. Syamsuardi “Penyusunan Ransum Ternak Sapi Potong Melalui pendampingan Kelompok Peternak Harapan Jaya dan Suka Maju di Desa Sido makmur, Kepulauan Mentawai

Data statistik terakhir dari Dinas Peternakan Kabupaten Kepualauan Mentawai bulan januari sampai dengan Agustus 2017 menunjukkan bahwa jumlah sapi potong sebanyak 212 ekor di Kecamatan Sipora Utara. Di kecamatan Sipora Utara salah satu desanya adalah Desa Sido makmur yang terdiri atas 3 dusun yaitu Dusun Sinabak, Dusun Boleleu dan Dusun Makoddiai. Jenis sapi yang dipelihara pada umumnya adalah sapi Peranakan Onggole sebanyak 18 ekor. Secara umum, pada kelompok ternak “harapan Jaya ” dan Kelompok Tani “Suka Maju”baik usaha pertanian maupun peternakan masih dilaksanakan secara tradisional, sehingga tidak mengherankan apabila hasil yang diperoleh pun relatif rendah. Ternak sapi hanya dikandangkan atau ditambatkan pada malam hari, sedangkan siang harinya dilepas untuk mencari makanan dipadang rumput atau dilahan tidur sekitar desa. Belum ada upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan mengandangkan dan memberikan makanan secara cukup dan teratur. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar untuk meningkatkan populasi ternak. Dalam penyusunan ransum, harus diusahkan agar kandungan zat makanan di dalam ransum sesuai dengan zat-zat makanan yang dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, untuk pertumbuhan, dan untuk produksi. Dapat dikatakan bahwa sangat sulit untuk mendapatkan satu jenis bahan pakan yang kandungan zat-zatnya sesuai dengan kebutuhan ternak. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi beberapa jenis bahan pakan untuk disusun menjadi suatu ransum yang seimbang.

Dalam memilih bahan pakan, terdapat beberapa pengetahuan penting yang harus diketahui sebelumnya, yakni sebagai berikut :
a. Bahan pakan harus mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat didaerah sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah ongkos transportasi dan kesulitan mencarinya.
b. Bahan pakan harus terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dan dalam jumlah mencukupi keperluan.
c. Bahan pakan harus mempunyai harga yang layak dan sedapat mungkin mempunyai fluktuasi harga yang tidak besar.
d. Bahan pakan harus diusahakan jangan bersaing dengan kebutuhan manusia yang sangat utama. Seandainya harus menggunakan bahan pakan yang demikian , usahkan agar bahan pakan tersebut hanya terdiri dari satu macam saja.
e. Bahan pakan harus dapat diganti oleh bahan pakan lain yang kandungan zat-zat makanannya hampir setara.
f. Bahan pakan tidak mengandung racun dan tidak dipalsukan atau tidak menampakkan perbedaan warna, bau atau rasa dari keadaan normalnya. Bahan pakan harus ASUH (aman-sehat-utuh-halal) Dalam menyusun ransum, hal-hal berikut harus ditentukan terlebih dahulu, antara lain :
g. Bahan yang harus tersedia dan harus diketahui hasil analisis zat-zat makanannya. Komposisi zat-zat makanan tersebut dapat diketahui dari daftar analisis zat-zat makanan. Akan tetapi, yang terbaik adalah dari hasil analisis laboratorium.
h. Mengetahui kelas, tingkat umur, produksi, dan kondisi fisiologis ternak sapi yang bersangkutan. Dengan demikian, diketahui jumlah kebutuhan untuk hidup pokok, pertumbuhan, dan produksinya.
i. Mengetahui data kebutuhan tiap zat makanan untuk keadaan ternak sapi yang bersangkutan.
j. Tentukanlah atas dasar apa penyusunan ransum tersebut dilakukan. Apakah berdasarkan kandungan energi dan proteinnya, jumlah zat makanan dapat dicerna (total digestible nutrient/TDN), atau yang lainnya.
k. Harus diketahui margin of safety (batas pemberian dari suatu bahan pakan yang tidak membahayakan ternak) dari bahan pakan tersebut karena adanya faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi kebutuhan akan pakan, seperti perbedaan kualitas bahan pakan, penyimpanan, pengolahan ataupun suhu.
l. Usahkan bahan pakan terdiri atas bahan pakan sumber nabati dan bahan pakan sumber hewani agar dapat saling menutupi kekurangan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka melalui program pengabdian masyarakat Diseminasi ini beberapa dosen dari berbagai bidang ilmu dan mahasiswa Fakultas Peternakan Unand , Padang , Sumbar mengembangkan peternakan tradisonal menjadi peternakan modern dengan teknologi penyusunan ransum. Pengetahuan yang benar bagaimana menyusun ransum maka akan membuat produksi ternak sapi potong menjadi lebih baik.
.
Penyusunan ransum untuk sapi potong/pedaging

Penyusunan ransum diadasarkan pada kebutuhan enersi (TDN)

  1. Kebutuhan BK = 3.9 kg/h ; TDN = 70/100 x 3.9 kg = 2.73 kg/h
    BK ransum berasal dari hijauan berdasarkan tabel kebutuhan adalah 50 %
    = 50/100 x 3.9 = 1.95 kg, terdiri dari :
    • BK dari rumput gajah = 60/100 x 1.95 kg = 1.17 kg
    • BK dari daun lndigofera = 40/100 x 1.95 kg = 0.78 kg
  2. BK berasal dari konsentrat = 3.9 – 1.95 = 1.95 kg
  3. TDN dari rumput gajah = 52.4/100 x 1.17 = 0.613 kg
  4. TDN dari daun Idigofera = 74.4/100 x 0.78 = 0.580 kg
  5. TDN yang harus dipenuhi dari konsentrat (onggok dan bungkil kelapa) adalah :
    = 2.73 – 0.613 – 0.580 = 1.537 kg atau 1.537/1.95 x 100 % = 78.8 %

Onggok dan bungkil kelapa yang harus dipenuhi adalah :
Onggok bungkil kelapa
(78.3) (78.7)

(78.8)

(0.1)   (0.5) Jumlah = 0.6
Onggok = (0.1/0.6) x 100 % = 16.67 % atau 0.1667 x 1.95 = 0.325 kg BK ransum
Bungkil kelapa = (0.5/0.6) x 100 % = 83.33 % atau 0.8333 x 1.95 kg = 1.625 kg BK ransum.

Penduduk desa Sido makmur berjumlah 93 jiwa terdiri dari 171 kepala keluarga, Laki laki 339 jiwa dan perempuan 354 jiwa. Sementara, jika dilihat dari tingkat pendidikan lebih banyak yang tidak tamat SD yaitu sebanyak 219 orang. Pada diseminasi teknologi ini yang menjadi mitra adalah kelompok ternak “Harapan Jaya” dan kelompok tani “Suka maju” yang terletak di Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara.. Kelompok ternak ini sudah berdiri sejak tahun 2012 dengan keanggotaan sekarang sebanyak 15 orang.Sedangkan Kelompok tani “Suka Maju” sudah berdiri sejak 2013. Susunan kepengurusan mitra ini terdiri dari Ketua dan wakil serta bendahara dan beberapa seksi. Aktifitas dari kelompok mitra Harapan Jaya dan Suka maju selain beternak juga mengadakan berbagai macam kegiatan seperti arisan, pembentukan pupuk organik untuk menanam rumput gajah.Tetapi mitra belum tersentuh dengan teknologi bioteknologi penyusunan ransum.. Metode yang ditawarkan untuk mendukung realisasi program Diseminasi yang telah dilaksanakan pada peternak mitra yaitu:
a. Penyuluhan . Dalam hal ini di diskusikan tentang cara penyusnan ransum dengan memakia bahan pakan lokal serta penanaman rumput Gajah sebagai sumber hijauan . Penanaman rumput Gajah di Lahan Ultisol sudah memakai sentuhan teknologi CMA dan pemupukan. Sehingga diharapkan produksi dan kandungan gizinya menjadi lebih baik. Hal ini akan berguna bagi peternak untuk mengembangkan kewirausahaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
b. Pelatihan
Pelatihan yang diberikan meliputi pelatihan penyusunan ransum ternak sapi potongdan pelatihan kewirausahaan dan pelatihan motivasi. Sebelum pelatihan, dipersiapkan materi-materi tentang kegiatan pelatihan yang akan diberikan. Ditinjau dari aspek pengolahan pakan, kepada peternak telah diberikan pelatihan “teknologi pengolahan pakan” agar bahan limbah cukup banyak tersedia di desa dapat diolah menjadi bahan makanan ternak ruminansia Selain itu, kepada peternak juga perlu diberi pengetahuan tentang penyusunan ransum menggunakan bahan limbah tersebut sehingga diperoleh ransum yang berkualitas dan berharga murah. Serta sudah di lakukan pelatihan bagaimana penanaman rumput Gajah dengan CMA yang baik serta dapat meningkat produksinya. Dalam pelatihan kewirausahaan dan motivasi, kepada peternak juga diberikan materi tentang penyusunan rencana bisnis sederhana sehingga pada akhir kegiatan peternak diharapkan mampu membuat rencana bisnis atau pembukuan sederhana untuk usaha mereka. Pada pelatihan motivasi, kepada peternak juga diberikan simulasi-simulasi praktis berwirausaha dengan tujuan akhir untuk meningkatkan motivasi peternak agar dapt meningkatkan taraf hidup.
c. Bimbingan dan Pembinaan. Setelah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan, peternak dibimbing± 2 bulan dan dibina agar usaha peternakan sapi potong mereka yang menerapkan teknologi penanaman rumpt Gajah dengan CMA serta penyusunan ransum.
b.Monitoring
Monitoring dilakukan secara berkala ( 1 x 2 minggu). Diskusi dan konsultasi dilakukan saat monitoring untuk mencari solusi dari berbagai kendala yang dihadapi baik dalam hal teknis peternakan maupun dalam hal kewirausahaan. Monitoring dilakukan oleh Tim pelaksana yang didampingi oleh Tim dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Andalas.
Kegiatan program Diseminasi ini berlangsung selama 10 bulan dari Februari hingga November 2019 dengan No. Kontrak : 137/SP2H/PPM/DPRM/2019. Pada program Diseminasi ini melibatkan Dosen 3 (tiga) orang yaitu DR.Evitayani (bidang Hijauan Pakan), Prof. Lili Warly (Bidang Ruminansia) , Prof. Syamsuardi (Biologi) serta melibatkan 3 (tiga ) orang mahasiswa S1 yaitu Govinda, Sri Jumiyanti dan Ferdi.
Dengan program Diseminasi dalam hal penyusunan ransum maka diharapkan dapat menggerakkan/menggairahkan kembali usaha peternak sapi potong dan roda ekonomi masyarakat di desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara, kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Balang

LEAVE A REPLY