Padang TIME | Kab. Agam, Meski sudah tidak se-booming tujuh tahun silam, penjual cincin batu akik masih ditemukan di Pasar Serikat Lubuk Basung-Geragahan.

Ditengah lesunya daya beli masyarakat, penjual sekaligus perajin cincin batu akik di pasar itu masih menaruh keyakinan suatu saat akik akan kembali menjadi tren.

Minggu (26/2), di Pasar Serikat Lubuk Basung-Garagahan hanya ada dua saja penjual cicin akik dan satu perajin atau tukang asah cincin.

Salah seorang penjual, Rul (57) mengaku telah menggeluti dunia batu akik sejak masih remaja. Sebelum di Lubuk Basung, ia telah memulai merintis usaha akik di Medan, Pekanbaru dan sejumlah daerahnya.
Rul tidak memungkiri, cincin batu akik tidak lagi menjadi tren. Bahkan, tak jarang lapak dagangnya tak dihampiri pembeli.
“Sekarang sudah lesu, bisa jual beli satu atau dua saja sudah kepalang mujur,” kata dia.
Padahal katanya, saat ini harga cincin batu akik tidak semahal tahun 2015 silam. Ia hanya mematok harga mulai Rp30 ribu hingga Rp400 ribu untuk cincin akik super.
“Kalau lima tahun lalu yang bagus hargaanya jutaan sekarang hanya Rp300 ribu. Tapi mau gimana, peminatnya sudah tidak seramai dulu,” sebutnya lesu.
Kendati sepi peminat, Rul meyakini cincin batu akik akan kembali viral. Sehingga, ia enggan meninggalkan usaha tersebut sama sekali.
“Tetap saya jual. Tapi sekarang saya tambah dengan aksesoris lainnya seperti ikat pinggang, tas, radio dan lain-lain,” ungkapnya.
Hal senada juga diutarakan Wan. Ia masih setia mengangkut alat pengasah batunya ke pasar kebanggaan warga Lubuk Basung-Geragahan itu.
Meski kerap tak mendapat orderan, ia mengaku akan masih terus mengasah batu akik. Karena baginya, batu akik sudah menjadi dunianya.
“Sudah suka mau bagaimana, ada atau tidak saya akan tetap memoles batu, syukur-syukur ada rezeki,” katanya. (rh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini