Pembuatan Silase Rumput Gajah Unggul

1765

Oleh : Dr. Evitayani, Prof. Lili Warly dan Prof. Syamsuardi
PadangTIME.com – Desa Sido Makmur yang berada di Kecamatan Sipora Utara, Kepulauan Mentawai merupakan salah satu Desa Tertinggal, Terbelakang dan Termiskin (3T). Desa 3T merupakan salah satu program pemerintah dalam pengembangan wilayah perdesaan. Tujuan dari intervensi program di desa 3T antara lain agar terpenuhinya standar pelayanan minimum;

Peningkatan status desa tertinggal menjadi desa berkembang, desa berkembang menjadi desa mandiri; Pemberdayaan ekonomi masyarakat; Meningkatkan kesejahteraan rakyat; serta sebagai percontohan dan untuk di replikasi ke daerah lain. Salah satu program Diseminasi yang dapat di lakukan pada desa Sido makmur ini adalah dengan program kesejahteraan masyarakat Desa Sido Makmur di bidang penggemukan sapi potong melalui diseminasi teknologi hijauan makanan ternak berupa pelatihan pembuatan Silase rumput Gajah Unggul.

Data statistik terakhir dari Dinas Peternakan Kabupaten Kepualauan Mentawai bulan januari sampai dengan Agustus 2017 menunjukkan bahwa jumlah sapi potongsebanyak 212 ekor di Kecamatan Sipora Utara. Di kecamatan Sipora Utara salah satu desanya adalah Desa Sido makmur yang terdiri atas 3 dusun yaitu Dusun Sinabak, Dusun Boleleu dan Dusun Makoddiai. Jenis sapi yang dipelihara pada umumnya adalah sapi Peranakan Onggole sebanyak 18 ekor. Secara umum, pada kelompok ternak “harapan Jaya ” dan Kelompok Tani “Suka Maju”baik usaha pertanian maupun peternakan masih dilaksanakan secara tradisional, sehingga tidak mengherankan apabila hasil yang diperoleh pun relatif rendah. Ternak sapi hanya dikandangkan atau ditambatkan pada malam hari, sedangkan siang harinya dilepas untuk mencari makanan dipadang rumput atau dilahan tidur sekitar desa. Belum ada upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan mengandangkan dan memberikan makanan secara cukup dan teratur. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar, juga karena kurangnya pakan baik hijauan. Dengan meningkatnya populasi ternak tentu membutuhkan hijauan yang lebih banyak dan mencukupi sepanjang tahun. Namun, penyediaan hijauan tersebut mengalami hambatan yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena minimnya sumber daya manusia dan musim kemarau yangmenyebabkan menurunnya produksi hijauan. Oleh karena itu tujuan dari Diseminasi ini adalah memberikan masukan teknologi tepat guna bagi petani peternak dalam memanfaatkan pembuatan silase yang telah terbukti dapat membantu penyediaan rumput unggul sepanjang tahun.

Tujuan Membuat Silase Untuk Pakan Ternak

  1. Sebagai cadangan dan persediaan pakan ternak pada saaat musim tanpa penghujan (kemarau) yang panjang.
  2. Untuk meyimpan dan menampung pakan hijauan yang berlebih pada saat musim hujan, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu pada saat musim kemarau.
  3. Memanfaatkan pakan hijauan pada saat kondisi dengan nilai nutrisi terbaik seperti protein yang tinggi.
    Mendayagunakan sumber pakan dari sisa limbah pertanian ataupun hasil agroindustri pertanian dan perkebunan seperti bekatul, dedak, bungkil sawit, ampas tahu, bungkil kepala. Bahan untuk pembuatan silase adalah segala macam hijauan dan bahan dari tumbuhan lainnya yang di sukai oleh ternak ruminansia, seperti; Rumput, Jagung, Biji -bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas, dan jerami padi,dll Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) varietas hawai, tetes, bekatul, onggok dan bakteri asam laktat . Hal ini juga didukung oleh Yunus (2009) bahwa silase yang dibuat dari rumput gajah yang dilayukan selama satu hari kemudian dipotong pendek (3-5 cm). Bahan yang digunakan dalam pembuatan silase ini adalah molases dengan campuran daun lamtoro sebagai perbandingannya.
    Alilly (2011) Bahan yang digunakan dalam pembuatan silase terdiri dari jagung kuning, dedak, ubi kayu, daun ubi kayu, bungkil inti sawit, tepung ikan, kacang kedelai, minyak kelapa, premix dan aquades, Molasse tetes tebu..
    a. Syarat Hijauan Untuk Silase
    Syarat Hijauan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan silase adakah Segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat seperti rumput gajah, tebon jagung dan pucuk tebu.
    b. Bahan Tambahan
    Penambahan karbohidrat tersedia seperti tetes, onggok dan bekatul untuk mempercepat terbentuknya asam laktat serta menyediakan sumber energi yang cepat tersedia bagi bakteri. Kelebihan dan kekurangan dari masing – masing bahan jenis additive dapat dilihat dari komposisi gizinya karena masing – masing memiliki komposisi gizi yang berbeda, sehingga diduga menghasilkan kualitas silase yang berbeda pula. Ridwan (2005) menyatakan bahwa penambahan dedak padi sebagai sumber karbohidrat di harapkan dapat mudah larut dan dapat dengan cepat dimanfaatkan oleh bakteri asam laktat sebagai nutrisi untuk pertumbuhannya.
    a. Cara Pembuatan Silase Rumput Gajah

Difermentasikan Dalam Silo dan ditutup rapat selama 2 minggu

Silase Yang Sudah Jadi
b. Indikator Silase Yang Sudah Jadi
Karakteristik silase yang sudah jadi dan berkualitas yaitu mempunyai tekstur segar, berwarna kehijau-hijauan, tidak berbau busuk, disukai ternak, tidak berjamur, tidak menggumpal dan Phnya asam. Ratnakomala (2006) menyatakan bahwa kualitas suatu silase di perlihatkan oleh beberapa parameter seperti Ph,Suhu,Tekstur,Warna dan kandungan asam laktatnya.derajat keasaman ph yang optimum untuk silase yang baik sekitar 3.8-4.2,tekstur dan warna silase yaitu halus dan hijau kecoklatan.
Penduduk desa Sido makmur berjumlah 93 jiwa terdiri dari 171 kepala keluarga, Laki laki 339 jiwa dan perempuan 354 jiwa. Sementara, jika dilihat dari tingkat pendidikan lebih banyak yang tidak tamat SD yaitu sebanyak 219 orang. Pada diseminasi teknologi ini yang menjadi mitra adalah kelompok ternak “Harapan Jaya” dan kelompok tani “Suka maju” yang terletak di Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara.. Kelompok ternak ini sudah berdiri sejak tahun 2012 dengan keanggotaan sekarang sebanyak 15 orang.Sedangkan Kelompok tani “Suka Maju” sudah berdiri sejak 2013. Susunan kepengurusan mitra ini terdiri dari Ketua dan wakil serta bendahara dan beberapa seksi. Aktifitas dari kelompok mitra Harapan Jaya dan Suka maju selain beternak juga mengadakan berbagai macam kegiatan seperti arisan, pembentukan pupuk organik untuk menanam rumput gajah. Tetapi mitra belum tersentuh dengan teknologi silase. Metode yang ditawarkan untuk mendukung realisasi program Diseminasi yang telah dilaksanakan pada peternak mitra yaitu:
a. Penyuluhan . Dalam hal ini di diskusikan tentang cara pembuatan Silase Gajah sebagai sumber hijauan . Sehingga masyarakat bisa menyediakan bahan pakan hijauan sepanjang tahun. Sehingga diharapkan produksi dan kandungan gizinya menjadi lebih baik. Hal ini akan berguna bagi peternak untuk mengembangkan kewirausahaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
b. Pelatihan
Pelatihan yang diberikan meliputi pelatihan teknologi pengolahan silase pelatihan kewirausahaan dan pelatihan motivasi. Sebelum pelatihan, dipersiapkan materi-materi tentang kegiatan pelatihan yang akan diberikan. Ditinjau dari aspek pengolahan pakan, kepada peternak diberikan pelatihan “teknologi pengolahan pakan” agar bahan limbah cukup banyak tersedia di desa dapat diolah menjadi bahan makanan ternak ruminansia
c. Bimbingan dan Pembinaan. Setelah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan, peternak dibimbing± 2 bulan dan dibina agar usaha peternakan sapi potong mereka yang menerapkan teknologi silase dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan.
b.Monitoring
Monitoring dilakukan secara berkala ( 1 x 2 minggu). Diskusi dan konsultasi dilakukan saat monitoring untuk mencari solusi dari berbagai kendala yang dihadapi baik dalam hal teknis peternakan maupun dalam hal kewirausahaan. Monitoring dilakukan oleh Tim pelaksana yang didampingi oleh Tim dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Andalas.


Kegiatan program Diseminasi ini berlangsung selama 10 bulan dari Februari hingga November 2019 dengan No. Kontrak : 137/SP2H/PPM/DPRM/2019. Pada program Diseminasi ini melibatkan Dosen 3 (tiga) orang yaitu DR.Evitayani (bidang Hijauan Pakan), Prof. Lili Warly (Bidang Ruminansia) , Prof. Syamsuardi (Biologi) serta melibatkan 3 (tiga ) orang mahasiswa S1 yaitu Govinda, Sri Jumiyanti dan Ferdi.
Dengan program Diseminasi diharapkan dapat menggerakkan/menggairahkan kembali usaha peternak sapi potong dan roda ekonomi masyarakat di desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara, kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Diharapkan hasil penelitian diseminasi ini memperoleh metode terbaik untuk menjadikan Desa sido makmur dari desa 3T menjadi desa yang berkembang.

Balang

LEAVE A REPLY