MODEL PEMBELAJARAN KOBEKO BERBASIS WEB BLOG (Balada Pendidikan Tinggi di Tengah Kepungan Wabah Covid-19)

1711

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” – Tan Malaka
Kutipan dari Tan Malaka tersebut menyadarkan kita bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan tidak serta merta mengasah pikiran,membuka cakrawala tetapi juga menajamkan rasa sebagai seorang manusia sehingga berkarakter madani. Pendidikan menjadi salah satu topik yang tak pernah habis untuk dibahas. Perubahan zaman, perkembangan era tekhnologi dan informasi bahkan tuntutan keadaan membuat sistem pendidikan terus berbenah agar mampu menghantarkan para generasi penerus bangsa pada masa depan yang lebih baik.
Salah satu topik hangat yang terus diperbincangkan saat ini adalah perubahan proses pembelajaran dimana dari tatap muka di sekolah menjadi “belajar dari rumah”. Kebijakan ini menjadi hal yang tentu membuat para pendidik untuk gencar melatih dan membiasakan diri terhadap perubahan yang akan terjadi. Penyebaran virus Corona yang muncul sejak Desember 2019 di Wuhan,Chinaini menghantarkan kita pada situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Cepatnya penyebaran virus ini dan korban positif yang semakin meningkat membuat Presiden Jokowi Dodo menetapkan wabah virus Corona Covid-19 ini sebagai bencana nasional. Beberapa aturan dan kebijakan terus dilakukan untuk menekan penyebaran dan memutus mata rantai virus ini. Salah satunya dengan memperlakukan kebijakan social distancing atau jarak sosial ditujukan agar masyarakat menjaga jarak fisik untuk melindungi diri dari penyebaran virus. Sejalan dengan hal tersebut bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah dan menjaga jarak dan kesehatan diri diberlakukan. Sekolah dan Universitas sebagai lembaga pendidikan formal tentu harus merespon dan mengambil sikap akan situasi ini dengan tepat. Aktivitas pembelajaran di sekolah dan universitas di seluruh Indonesia dihentikan, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19). Kesehatan lahir dan batin mahasiswa, pendidik dan seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama penghentian aktivitas pendidikan di sekolah dan univerisitas.
Ketika kegiatan di sekolah “diliburkan”, bukan berarti aktivitas belajar tidak dilakukan. Mendikbud dengan tegas menyatakan bahwa ruang aktivitas belajar dipindahkan dari sekolah ke rumah sehingga proses pembelajaran tetap berjalan seperti biasa. Salah satu cara dalam pembelajaran jarak jauh yang dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran daring atau online. Pemanfaatan tekhnologi di era globalisasi dapat dimaksimalkan dalam situasi seperti ini. Sebagaimana yang kita ketahui, laptop, komputer dan smartphone bukanlah hal yang baru bagi masyarakat bahkan anak-anak. Semua orang telah menggunakannya bahkan bukan hanya sekedar alat komunikasi atau penunjang dalam pekerjaan tetapi juga sebagai hiburan bahkan menjadi salah satu alat yang bisa digunakan sebagai transaksi dalam jual beli. Semakin berkembangnya tekhnologi memungkinkan pembelajaran jarak jauh dilaksanakan dengan baik. Berbagai aplikasi dapat dipergunakan seperti Whats App, Google Form, Google Meet, Zoom, Edmudo dsb. Semua aplikasi ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran bahkan sebagai media untuk menyampaikan pembelajaran karena setiap aplikasi dilengkapi dengan media berupa teks, gambar, video, dan suara.
Namun, dalam implementasinya pembelajaran online ini menuai banyak problematika. Proses pembelajaran yang sementara waktu melalui daring (online) dengan menggunakan aplikasi memang memudahkan mahasiswa dan juga mahamahasiswa untuk mengikuti pembelajaran. Namun, beberapa daerah di Sumatera Barat memiliki cerita yang berbeda mengenai perkuliahan online ini. Seperti halnya di Nagari yang berada di Kecamatan Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan persisnya di Nagari Sungai Nyalo IV Koto Midiek, Nagari Tuik, Nagari Taratak Tempatih dan Nagari Lubuk. Pasalnya, Nagari tersebut memiliki keterbatasan akses internet dan sinyal yang sangat minim. Di Nagari tersebut hanya bisa mengakses internet ketika listrik hidup dan cuaca yang baik. Jika listrik padam dan cuaca tidak baik maka sinyal akan hilang dan internet tidak dapat terjangkau. Kondisi ini membuat mahasiswa dan juga mahamahasiswa menjadi kesulitan untuk mendapatkan informasi yang biasanya dibagikan guru dan dosen ke group Whats App dan juga E-learning. Hal ini tentu menjadikan pembelajaran daring tidak optimal bagi mahasiswa dan mahamahasiswa yang berada di beberapa daerah yang memang sulit mendapatkan sinyal. Meskipun begitu pembelajaran daring menjadi salah satu pilihan di tengah penyabaran wabah ini.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembelajaran daring ini adalah implementasi dari pembelajaran ini. Baru-baru ini banyak mahasiswa maupun mahasiswa yang mengeluhkan tugas yang banyak tanpa adanya materi yang cukup sehingga mereka agak kewalahan dalam mengikuti proses pembelajaran. Bahkan aplikasi Whats App grup, E-learning dan juga zoom masih membingungkan bagi mahasiswa. Meskipun pergeseran paradigma pendidikan abad 21 yaitu informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi yang merupakan empat komponen penting sebagaimana yang disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai ciri dari pendidikan abad 21, namun pilihan aplikasi dalam pembelajaran daring tetaplah dibutuhkan bahkan pendidik dapat menggunakan lebih dari satu aplikasi atau menggabungkan pemakaiannya sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran.
Seiring dengan perkembangan tekhnologi dan aplikasi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran, Web Blog merupakan salah satu pemain lama dalam penyampaian informasi secara online. Dalam dunia pendidikan pemanfaatan media blog dapat meningkatkan kualitas diri dan juga kompetensi seorang pendidik. Dengan kekuatan yang dimiliki blog, seorang pendidik dapat menuliskan skenario pembelajaran yang menyenangkan. Sebagai media pembelajaran, pendidik dapat memposting bahan ajar, tugas, sehingga para mahasiswa dapat memmahasiswainya, membacanya dengan tenang.
Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran daring ini adalah model pembelajaran yang digunakan oleh pendidik. Meskipun pembelajaran daring menggunakan berbagai aplikasi dilaksanakan, namun guru dan dosen tetap harus memperhatikan bagaimana model pembelajaran dan skenario dari pembelajaran yang akan dilaksanakan karena pembelajaran tanpa rencana yang matang akan menyulitkan pendidik dan mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pada realitasnya masih banyak pendidik yang memiliki pemahaman bahwa belajar merupakan transmisi pengetahuan kepada para mahasiswa. Hal ini menyebabkan mahasiswa menjadi pasif, kurang kreatif dan produktif dalam mengembangkan potensinya. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pemahaman baru bahwa belajar merupakan ruang untuk mengembangkan seluruh potensi para mahasiswa dan mereka diberi kebebasan untuk mengembangkannya sendiri. Dalam hubungan ini kita ditantang untuk mencipta tata-pendidikan yang dapat ikut menghasilkan sumber daya pemikir yang mampu ikut membangun tatanan sosial dan ekonomi sadar-pengetahuan seperti layaknya warga abad XXI. Salah satu dampak dari era ini adalah lahirnya prinsip pokok pembelajaran abad XXI yang digagas oleh Jennifer Nichols, yaitu: (1) instruction should be student-centered (pembelajaran yang berpusat pada mahamahasiswa); (2) education should be collaborative (pendidikan yang kolaboratif); (3) learning should have context (pembelajaran mesti memberi dampak terhadap kehidupan mahamahasiswa); dan (4) schools should be integrated with society (sekolah seharusnya mampu berintegrasi dengan lingkungan sosial). Empat prinsip pembelajaran abad XXI ini akan menjadi salah satu dasar dalam proses pembelajaran. Namun, faktanya untuk melaksanakan proses pembelajaran empat prinsip di atas belum sepenuhnya dilaksanakan dan dijadikan pilar dari sebuah pembelajaran, terutama di Universitas.
Dalam rangka untuk mengembangkan potensi mahasiswa tersebut salah satu strategi yang perlu dilakukan oleh pendidik yaitu mendesain pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual berbasis kompetensi yang disingkat menjadi “Kobeko” yang membantu pendidik mengaitkan konten mata mahasiswaan dengan situasi dunia nyata dan memotivasi para mahasiswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, model pembelajaran Kobeko ini merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik aktif, kreatif, kritis dan inovatif karena ditujukan dalam tiga kompetensi yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman mahasiswa saja tetapi juga padang pengembangan karakternya.
Disamping itu, penumpukan informasi/ konsep pada mahasiswa dapat saja kurang bermanfaat kalau hal itu hanya dikomunikasikan oleh pendidik kepada mahasiswa maupun mahamahasiswa melalui satu arah seperti menuang air kedalam gelas. Tidak dapat disangkal, bahwa konsep merupakan suatu hal yang sangat penting, namun bukan terletak pada konsep itu sendiri, tetapi terletak pada bagaimana konsep itu dipahami oleh mahasiswa. Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar-mengajar sangat mempengaruhi sikap, keputusan, dan cara-cara memecahkan masalah, untuk itu yang terpenting adalah proses terjadinya belajar yang bermakna dan proses berpikir bagi mahasiswa. Pada umumnya mereka yang mendapatkan pembelajaran disekolah seringkali sulit untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dengan permasalahan yang terjadi di dunia nyata, sehingga pengetahuan yang diperolehnya seakan-akan tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah tantangan yang dihadapi oleh pendidik untuk meningkatkan kompetensinya terutama dalam pembelajaran daring atau online ini. Hal ini dikarenakan pembelajaran daring bukanlah sekedar memberikan tugas tetapi bagaimana pembelajaran tersebut dapat bermakna sehingga mampu mengantarkan para mahasiswa menjadi manusia yang handal dalam memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan. Model pembelajaran Kobeko berbasis web blog dapat menjadi salah satu solusi bagi para pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran daring pada saat ini.
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa praktisi pendidikan yang ada di Indonesia dan juga penulis sendiri, model pembelajaran Kobeko berbasis blog mampu meningkatkan kemampuan kritis dan juga keaktifan mahasiswa. Hal ini juga dibuktikan dengan peningkataan aktifitas mahasiswa selama model pembelajaran ini diimplementasikan. Selain itu, peningkatan dari hasil belajar mahasiswa juga terlihat jika dibandingkan dengan sesudah dan sebelum model pembelajaran Kobeko dilaksanakan. Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bukti dan juga referensi bagi para pendidik agar terus berinovasi pada masa pandemic ini dan juga ketika proses pembelajaran telah beralih menjadi daring atau online.
Implementasi model pembelajaran Kobeko berbasis web blog memiliki beberapa tahapan. Pertama, pelaksanaan model pembelajaran Kobeko dimulai dari merumuskan. Hal utama yang dilakukan oleh seorang pendidik ketika akan memulai pembelajarannya adalah merumuskan tujuan pembelajaran. Ini dilakukan agar capaian dari setiap materi dan pertemuan jelas sehingga pendidik dan juga mahasiswa memiliki arah dan mengetahui apa yang harus dicapai untuk tiap satuan pembelajaran yang dilaksanakan. Tujuan pembelajaran tentu harus difokuskan kepada kompetensi yang akan dicapai, dan juga harus menyentuh tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kedua, konstruksi. Tahap ini merupakan tahap apersepsi kepada mahasiswa, dimana dosen melihat dan menganalisis pengetahuan awal dari mahasiswa terhadap materi yang akan dimahasiswai. Kegiatan ini dapat dilaksanakan baik secara tatap muka di dalam kelas maupun dalam pembelajaran daring atau online. Dosen dapat mengupload gambar, video maupun sebuah masalah berkaitan dengan pembelajaran yang akan dimahasiswai sehari sebelum pembelajaran dimulai dan meminta mahamahasiswa untuk memberikan komentar sebelum pembelajaran dilaksanakan. Komentar dari mahasiswa ini dapat menjadi acuan bagi pendidik untuk mengetahui pengetahuan awal mahasiswa terhadap materi yang akan dimahasiswai.
Ketiga, tahap eksplorasi. Pada tahap ini, pendidik memberikan informasi mengenai garis besar dari materi atau ringkasan dari pembelajaran. Jadi, dosen dapat memberikan materi dalam blog sehingga dapat dibaca oleh mahasiswa. Jika mahasiswa mengalami kendala dalam sinyal, mereka tetap dapat mengejar ketertinggalan ketika sinyal internet kembali stabil karena materi telah ada di blog dan tidak akan hilang. Hal ini tentu akan membantu mereka yang tinggal di daerah yang kekuatan sinyal internet bergantung kepada listrik maupun cuaca.
Selanjutnya, pada tahap keempat dari implementasi model pembelajaran Kobeko berbasis web blog adalah eksplorasi. Ekspolarasi merupakan tahapan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dimana mahasiswa dibagi dalam kelompok dan mendiskusikan pertanyaan yang diberikan oleh pendidik atau dosen. Namun, karena ini merupakan pembelajaran online eksplorasi dalam dilakukan dalam bentuk penugasan secara individu dimana dosen memberikan pertanyaan yang telah diketik di blog dan mahasiswa dapat memberikan respon pada kolom komentar. Tahapan kelima adalah klarifikasi atau tahap pembenaran, setelah mahasiswa memberikan komentar atas pertanyaan yang diberikan, dosen atau pendidik dapat memberikan feedback terhadap jawaban dari pertanyaan yang diberikan atau dengan kata lain pendidik memberikan pembenaran atas jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Hal ini akan membuat mahasiswa paham dimana letak kesalahan mereka dan bagaimana seharusnya jawaban yang tepat. Disamping itu dosen juga akan memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Kegiatan terakhir dari implementasi model pembelajaran Kobeko berbasis web adalah tahap evaluasi. Tahap evaluasi dilakukan oleh pendidik dan juga mahasiswa. Dalam hal ini pendidik memberikan respon terhadap pembelajaran yang dilaksanakan secara menyeluruh. Selanjutnya mahasiswa diminta untuk menulis di jurnal ku dimana ini berisikan tentang kesimpulan materi yang ditulis dengan bahasa dari mahasiswa sendiri, dan bagaimana penilaian mereka terhadap diri sendiri dalam melaksanakan pembelajaran pada pertemuan itu. Self-assessment ini atau penilaian terhadap diri sendiri ini akan membuat mahasiswa peka terhadap diri sendiri, mampu menilai diri sendiri dimana hal yang perlu lebih ditingkatkan, dimana letak kekurangan dan juga kelebihan mereka. Kegiatan ini akan membuat mahasiswa mampu mengukur diri sendiri dan juga melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang dirasakan.
Saat ini, penyebaran Covid-19 masih penunjukkan tren kenaikkan sehingga praktisi pendidikan dan stakeholder agar dapat terus bertahan dan berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang baik itu mampu mengundang minat dan perhatian mahasiswa dimana tiap pertemuan merupakan hal yang mereka nantikan bukan karena takut akan nilai yang kurang tetapi karena ingin menambah pengetahuan. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran baik secara tatap muka maupun daring atau online erat kaitannya dengan sifat-sifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif maupun psikomotor seperti motivasi, rasa percaya diri dan keberanian dalam memberikan pendapat. Oleh karena itu, penulis percaya bahwa keadaan saat ini merupakan hal yang tidak dapat kita hindari dan sebagai seorang pendidik momentum ini dapat menjadi pembelajaran juga bagi kita semua untuk terus berinovasi dan berkreasi dan salah satunya dengan mengimplementasikan model pembelajaran Kobeko berbasis web blog ini karena aplikasi yang tersedia seiring dengan perkembangan tekhnologi sangatlah banyak dan pertimbangan akan situasi, kondisi dan juga kebutuhan mahasiswa diperlukan sehingga kita juga pintar dalam menggunakan “si pintar”.

Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi untuk penyelesaian S-3 penulis pada Prodi Ilmu Pendidikan Pascasarjana, Universitas Negeri Padang, dengan Tim Promotor Prof. Nurhizrah Gistituati, M.Ed., Ed.D; Prof. Drs. Jalius Jama, M.Ed.,Ph.D; dan Dr. Maria Montessori, M.Ed., M.Si. dan juga tim penguji Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed; Prof. Dr. Abdul Muin Sibuea; dan Dr. Hadiyanto, M.Ed serta pihak-pihak terkait dalam penyelesaian disertasi ini.

Balang

LEAVE A REPLY