AYO MEMBACA !!

BERITA TERBARU

Menumbuhkan Tunas Harapan: Tantangan Pendidikan Di Pedesaan Kecamatan Lareh Sago Halaban

Nama     : Natasya Ramadhani
No Bp    : 2310511029
Jurusan : Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Andalas
PADANGTIME.COM | Sistem pendidikan di desa merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Sejak zaman kolonial, sistem pendidikan di desa telah mengalami perkembangan yang signifikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan yang lebih tinggi. Saat ini, sistem pendidikan di desa telah mengalami perubahan yang signifikan, terutama dalam hal aksesibilitas dan kualitas pendidikan.
 Tentunya, meski ada banyak kemajuan dalam sistem pendidikan di desa, masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah minimnya ketersediaan infrastruktur pendidikan, seperti gedung sekolah dan perpustakaan. Selain itu, tenaga pengajar yang berkualitas masih sulit didapatkan, terutama di daerah-daerah yang terpencil. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sistem pendidikan di desa agar dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat bersaing di era globalisasi ini.
Kecamatan Lareh Sago Halaban, dengan hamparan sawah dan perbukitan yang indah, menyimpan potensi besar bagi masa depan Indonesia. Namun, di balik keindahan alamnya, terdapat realitas pahit yang dihadapi oleh generasi muda di pedesaan, yaitu akses pendidikan yang masih tertinggal.
Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Tingkat SLTA Dirinci Menurut Nagari di Kecamatan Lareh Sago Halaban, 2019 dan 2022
Berdasarkan data dari BPS pada tahun 2019 sampai dengan 2020 tercatat bahwa untuk SLTA di kec. Lareh sago halaban hanya sebanyak 5 SLTA saja. dinagari batu payung terdapat 2 SLTA, untuk jumlah guru laki-laki dari tahun 2019 hingga 2020 tidak berubah yakni sebanyak 18 orang,dan untuk guru perempuan mengalami peningkatan di tahun 2019-2020 dari 62 menjadi 63, dan untuk murid laki-laki mengalami peningkatan dari 457 menjadi 488, dan sedangkan untuk murid perempuan mengalami penurunan 483 menjadi 457.
Selanjutnya di nagari sitanang hanya terdapat 1 SLTA, guru laki-laki tidak  mengalami perubahan yakni berjumlahkan 4 orang, dan untuk guru perempuan mengalami penurunan dari 12 menjadi 11 orang, dan untuk murid laki-laki dan perempuan juga mengalami perubahan , yang awalnya murid laki-laki berjumlahkan 51 orang ditahun selanjutnya hanya berjumla 50 orang dan untuk murid perempuan dari 45 orang ditahun selanjutnya menjadi 43 orang.
Dinagari halaban  hanya ada 1 SLTA, dan untuk guru laki-laki mengalami peningkatan yang awalnya berjumlah 8 orang ditahun selanjutnya menjadi 10 orang , untuk guru perempuan tidak ada perubahan yakni hanya berjumlah 24 orang, dan untuk murid laki-laki mengalami peningkatan , murid laki-laki yang awalnya berjumlah 193 orang ditahun selanjunya bertambah menjadi 200 orang dan untuk murid perempuan mengalami penurunan yang awalnya berjumlah 192 orang ditahun selanjutnya hanya 180 orang.
Dinagari amplau hanya ada 1 SLTA, untuk murid laki-laki mengalami peningkatan yang awalnya 2 orang menjadi 3 orang, untuk guru perempuan tidak mengalami perubahan dari tahun 2019-2020 hanya berjumlah 14 orang, sedangkan untuk murid laki-laki mengalami penurunan yang awalnya 91 orang menjadi 90 orang dan untuk murid perempuan mengalami peningkatan yang awalnya 71 orang menjadi 74 orang.
Tantangan Pendidikan di kecamatan Lareh Sago Halaban
           Pendidikan adalah suatu wadah untuk meningkatkan kualitas manusia. Dimana semua masyarakat di suatu negara berhak dan wajib untuk menempuh pendidikan tanpa terkecuali. Pendidikan sendiri sangat penting bagi semua orang, karena pendidikan sendiri bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkangkan potensi diri. Namun, jika dilihat kembali, Pendidikan di Lareh Sago Halaban dan seperti halnya didaerah pedesaan lainnya diindonesia, masih banyak memiliki tantangan , yakni  mencakup :
  1. Aksesibilitas dan Infrastruktur
  Aksesibilitas menjadi hal utama yang mempengaruhi kualitas pendidikan di pedesaan. Jarak yang jauh, jalan rusak, dan transportasi yang terbatas menjadi hambatan besar bagi anak-anak untuk mencapai sekolah. Infrastruktur yang buruk juga memengaruhi ketersediaan air bersih, sanitasi, dan sarana pendukung pendidikan lainnya.
  1. Kurangnya Tenaga Pendidik Berkualitas
  Keterbatasan sumber daya manusia, terutama tenaga pendidik yang berkualitas, menjadi masalah serius. Banyak daerah pedesaan kesulitan menarik guru-guru yang kompeten karena faktor gaji rendah, kurangnya fasilitas, dan kehidupan yang terisolasi.
  1. Kurangnya Fasilitas Pendidikan yang Memadai
  Fasilitas pendidikan yang kurang memadai, seperti ruang kelas yang sempit, kurangnya buku dan materi pelajaran, serta minimnya peralatan pendukung pembelajaran, semakin memperburuk mutu pendidikan di pedesaan.
  1. Budaya dan Tradisi Lokal
  Terkadang, budaya dan tradisi lokal juga menjadi hambatan bagi pendidikan modern. Beberapa keluarga masih lebih memilih anak-anak mereka untuk membantu di ladang atau melakukan pekerjaan rumah tangga daripada bersekolah.
  1. Kurangnya Kesadaran Akan Pentingnya Pendidikan
  Kesadaran akan pentingnya pendidikan seringkali rendah di pedesaan. Banyak orang tua tidak menyadari manfaat pendidikan formal bagi masa depan anak-anak mereka, sehingga mengabaikan pentingnya mengirim mereka ke sekolah.
   Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini, diharapkan pendidikan di pedesaan dapat meningkatkan kualitasnya dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. (*)