PadangTIME.com – Salah satu orang terkaya dari Indonesia, Sukanto Tanoto, saat ini sedang ramai menjadi perbicangan. Sukanto diketahui membeli kompleks Ludwig di Jerman yang merupakan bangunan bekas istana Raja Ludwig di München senilai 350 juta Euro atau setara Rp6 triliun.
Mengutip Forbes Indonesia, Sukanto masuk ke dalam deretan daftar orang terkaya Indonesia. Sukanto diketahui memiliki kekayaan sebesar USD1,4 miliar atau setara Rp19,6 triliun dengan kurs Rp14.011 per USD.
Dengan kekayaan tersebut, Sukanto berada pada peringkat ke-22 dari 50 orang terkaya di indonesia tahun 2020 dan peringkat 1.730 sebagai miliarder dunia 2020.
Mengutip berbagai sumber, Sukanto dan putra dari Andre Tanoto diduga membeli sejumlah properti bergengsi di Jerman melalui perusahaan yang tidak terafiliasi langsung dengan entitas induk alias perusahaan cangkang, untuk menghindari pungutan pajak.
Sukanto memang dikenal luas oleh masyarakat sebagai wirausahawan sejati di bidang agroindustri, khususnya kelapa sawit. Awalnya, Sukanto merintis kerajaan bisnisnya dengan menjadi pemasok sederhana untuk kebutuhan Pertamina.
Dari keuntungan yang didapatnya, ia mencoba peruntungan di bidang kehutanan dengan mengibarkan bendera Royal Golden Eagle International (RGEI) yang dulu bernama Raja Garuda Mas.
Saat ini, RGEI diperkirakan memiliki total aset USD15 miliar dengan melibatkan 50 ribu pekerja di dalamnya. Bisnisnya terkenal dalam empat bidang utama, yaitu pulp dan kertas (APRIL), agroindustri (Asian Agri), pelarutan pulp kayu dan serat stapel viscose (Sateri Holdings Limited), serta pengembangan sumber energi (Pacific Oil & Gas).
Dari keempat bisnisnya, Asian Agri adalah yang paling fenomenal. Perusahaan produksi minyak sawit ini diklaim sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di Asia.
Disebutkan bahwa perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia didirikan pada tahun 1979 dan saat ini memiliki 160.000 hektar area perkebunan yang terkenal di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi dengan 25.000 karyawan.
Ia mengungkapkan motivasinya yang merancang Asian Agri dalam perjalanannya ke Malaysia.
“Saya melihat Sime Darby, Guthrie, dan perusahaan kelapa sawit Inggris yang sukses. Kemudian saya menyadari bahwa tanah di Indonesia lebih murah, tenaga kerja juga murah, dan memiliki pasar 10 kali lebih besar dari Malaysia. Saya pikir, kenapa tidak coba sawit, ”ujarnya. (pt)
Balang

LEAVE A REPLY