ad
Oleh: Donard Games, Dosen Kewirausahaan Universitas Andalas, Sumatera Barat
Padang TIME – Hidup adalah suatu ujian atau kumpulan cobaan. Hidup semasa COVID-19 dan pasca COVID-19 semakin mengonfirmasi adagium itu. Sebagai penyintas COVID yang harus dirawat selama 19 hari di rumah sakit, penulis bisa merasakan langsung.
Bukan hanya keganasan virus ini, tetapi lebih daripada itu, bahwa lagi-lagi,  hidup adalah ujian dan itu bisa disertai ketakutan. Tulisan ini berfokus pada ketakutan terhadap kegagalan dalam berwirausaha yang bisa menjadi salah satu bentuk ketakutan terbesar selama pandemi ini atau bahkan pasca-pandemi.
Selama lebih kurang dua tahun terakhir, penulis sebagai dosen kewirausahaan di Universitas Andalas, berfokus pada topik penelitian yang berkaitan dengan psikologi manusia, yaitu perilaku impulsif dan ketakutan pada kegagalan berwirausaha (entrepreneurial fear of failure).
 Ketakutan itu mencakup seperti ketakutan finansial (e.g. kehilangan uang/tabungan, ketidakmapuan menjalankan usaha), ketakutan dianggap gagal oleh lingkungan sekitar, dan ketakutan hilangnya reputasi (Cacciotti et al., 2020).
Premis dari penelitian terdahulu adalah: seringkali ketakutan pada kegagalan itu lebih menakutkan daripada kegagalan itu sendiri; dan krisis seperti pandemi ini akan makin meningkatkan rasa takut pada wirausahawan.
Padahal, mereka bahkan tanpa krisis pandemic sekalipun sudah dihadapkan pada ketidakpastian yang tinggi dalam berusaha.
 Menariknya, Morgan dan Sisak (2016) telah mengidentifikasi bahwasanya ada dua respon besar terhadap ketakutan pada kegagalan. Pertama, bagi mereka yang berorientasi pertumbuhan bisnis (opportunity driven entrepreneurs), ketakutan ini justru memotivasi untuk berprestasi lebih baik di tengah krisis.
Mereka akan mencari jalannya, berdaya upaya untuk menyiasati situasi krisis meskipun dengan sumber daya terbatas. Kedua, bagi mereka yang menajadikan bisnis hanya sebagai upaya menghidupi diri dalam jangka pendek (necessity driven entrepreneurs), ketakutan itu mendemotivasi.
Itu bukan hanya karena sumber daya terbatas, tetapi juga karena mentalitas mereka tidak disiapkan untuk itu.
Hasil penelian tim kami pada 2020 dan 2021 mengonfirmasi respon di atas. Ketakutan terhadap isu tsunami (di Sumatera Barat termasuk Mentawai) dan pandemi ini (konteks Sumatera Barat) ternyata tidak terlalu berdampak pada wirausaha mikro dan kecil.
Kalaupun mereka takut, itu tidak membuat mereka mundur atau menjalankan usaha dengan cara yang berbeda. Di satu sisi ini menakjubkan. Mentalitas para pengusaha kita cukup kuat menghadapi kesulitan-kesulitan.
Di sisi lain, kami menduga ini terutama bukan karena mereka sangat berorientasi pertumbuhan bisnis. Ini bisa jadi karena mereka memang telah memiliki imunitas terhadap krisis. Mulanya mereka terkejut dan tidak siap, lalu perlahan terbentuk imunitas yang sudah merupakan akumulasi dari pengalaman masa lalu.
 Menghindari Risiko
Dalam perspektif yang lebih meluas, penulis juga mengidentifikasi kecenderungan pelaku usaha untuk semakin menghindari risiko di masa pandemi ini. Padahal, keberanian menghadapi risiko adalah salah satu karakteristik kewirausahaan. Apatah lagi, Sumatera Barat dikenal sebagai sumber wirausahawan.
Dengan demikian, diharapkan pelaku usaha Minangkabau menampilkan keberanian menghadapi risiko meskipun di masa sulit. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut, apakah, misalnya, orang Minang memiliki impulsifitas yang mengarah pada keberanian mengambil risiko/tidak takut gagal.
Impulsifitas ini adalah perilaku yang kurang memperhatikan akibat dari tindakan-tindakan spontan yang dilakukan.
Di masa krisis pandemi yang sangat bisa jadi memengaruhi aspek psikologis manusia, kita justru semakin ingin mengetahui apakah ini akan berakibat pada penghindaran risiko.
Ataukah justru orang semakin  tidak takut risiko atau semakin tidak takut gagal karena situasi sulit ini sudah tidak normal lagi dan membutuhkan tindakan luar biasa? Diperlukan juga penelitian yang mendalami perbandingan konteks Negara yang berbeda, misalnya, meskipun dengan adanya persamaan seperti kesamaan agama.
Dalam hal ini, penulis berkolaborasi dengan peneliti di Arab Saudi untuk mengidentifikasi perilaku impulsive berwirausaha. Sejauh ini ditemukan bahwa memang perilaku impulsif berpengaruh terhadap ketakutan dalam berwirausaha dan juga pada kinerja usaha.
Secara singkat, diperlukan perspektif psikologis dan bukan semata spek teknis dalam mengevaluasi kewirausahaan di masa krisis.
Bagaimanapun krisis atau pandemi ini terjadi, karena sebab-akibat ataupun acak, semoga ini semua pada akhirnya menyeleksi mereka supaya naik kelas sekaligus memperkuat imunitas kita termasuk pelaku usaha mikro dan kecil kita. (PT)
 
 
bebi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here