AYO MEMBACA !!

BERITA TERBARU

Implikasi Dampak dari Angka Kelahiran Terhadap Penduduk Di Sumatera Barat

Nama : Aulia Azzahra
Semester 2 Ekonomi Universitas Andalas

PADANGTIME.COM | Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah pada hakekatnya didasarkan oleh tiga elemen penting, yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi (Mantra, 2003: 140).

Tingkat fertilitas yang berdampak pada angka kelahiran suatu daerah memiliki peran krusial terhadap taraf kesejahteraan yang dapat memberikan dampak positif dan
negative dengan berorientasi pula kepada aspek sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain
hal sebagainya.

Angka kelahiran penduduk ini berkaitan dengan laju pertumbuhan penduduk yang didalamnya memerlukan berbagai strategi untuk tetap menyeimbangkan karena berperan sebagai indikator penting dan strategis untuk mengetahui keberhasilan suatu negara dalam mengendalikan jumlah penduduknya. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik tahun 2020, angka kelahiran total (total fertility rate) mencapai 2.10.

Sedangkan, dalam kurun satu dekade terakhir telah terjadi penurunan angka kelahiran total sebesar 0,39.

Angka kelahiran yang tinggi seringkali dilihat dari negara-negara berkembang yang berdampak terhadap diperlukannya tindakan terencana untuk menekan perkembangan penduduk. Masalah angka kelahiran menjadi masalah yang belum teratasi hingga saat
ini, termasuk di daerah Sumatera Barat.

Angka kelahiran di provinsi ini termasuk kategori tinggi dengan rata-rata ibu
melahirkan tiga sampai empat anak. Pada tahun 2011 dari jumlah angka kelahiran di Indonesia, Sumatera Barat menduduki peringkat yang tergolong tinggi dibanding provinsi lain dengan kelahiran bayi mencapai 95.367 jiwa.

Bahkan pada tahun 2010 menduduki peringkat kelima angka kelahiran dengan jumlah kelahiran bayi mencapai 100.964 jiwa. Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang angka fertilitas totalnya masih tinggi.

Menurut BPS Nasional (2017) berdasarkan data terakhir pada tahun 2012 angka fertilitas di Provinsi Sumatera Barat berada pada 2,8. Angka fertilitas tersebut masih lebih tinggi dari pada angka fertilitas nasional.

Jumlah kelahiran yang tinggi ini akan memberikan konsekuensi terhadap pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak. Pemerintah juga telah melakukan berbagai pengupayaan untuk mengendalikan angka fertilitas seperti menurunkan kebutuhan program KB, meningkatkan kesertaan program KB, hingga meningkatkan pengetahuan remaja mengenai generasi berencana (GenRe).

Bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk akan berpengaruh terhadap
berbagai aspek pembangunan yang dapat memberikan resiko besar terhadap jaminan kesejahteraan. Seperti peluang untuk fasilitas pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kemiskinan dan kejahatan.

Semakin tinggi tingkat fertilitas, maka semakin tinggi pula beban pembangunan bagi daerah. Implikasi dampak dari angka kelahiran ini yang pertama dapat berpengaruh terhadap[ kondisi perekonomian.

Tahun 2011-2016 kondisi perekonomian Sumatera Barat terbilang cukup baik dengan| rata-rata laju 14% per tahun.

Tetapi, laju pertumbuhan RPDP per kapita ini belum cukup untuk mengurangi kesenjangan pendapatan. Kedua, dalam hal sosial adalah karena kualitas masyarakatnya itu sendiri masih kurang, terlebih masih banyak yang kurang dalam hal pendidikan.

Seperti yang dikatakan oleh Ananta (1993:198) bahwa kesadaran seseorang untuk memiliki anak banyak akan semakin berkurang jika kualitas pendidikannya tinggi. Oleh karena itu, antara pendidikan dan kebijaksanaan saling berkaitan untuk menciptakan keseimbangan dalam berumah tangga.

Ketiga, Permasalahan ketenagakerjaan juga dihadapi oleh pemerintahan kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. Dari total 2.473.814 orang angkatan kerja hanya 67,08% tingkat partisipasi angkatan kerja yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Terakhir, dalam hal kesehatan juga masih perlu ditingkatkan terutama tenaga medis.

Tenaga medis utama dalam pelayan kesehatan bagi ibu melahirkan dan mengandung adalah dokter obgyn dan bidan, keduanya perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Namun, akhir-akhir ini terjadi penurunan angka kelahiran dari periode ke periode berdasarkan pengklasifikasian usia tertentu di provinsi Sumatera Barat berdasarkan hasil Long Form SP2020 yang diklasifikan berdasarkan usia 15 tahun hingga 49 tahun. “Kini berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 angka kelahiran total Sumatera Barat hanya 2.46.

Dengan demikian perempuan kini rata-rata hanya melahirkan dua sampai tiga anak selama masa reproduksi,” ujar kepala BPS Sumatera Barat, Herum Fajarwati. Ia mengatakan bahwa penurunan ini justru menjadi tren yang positif karena adanya pengaruh kemajuan zaman, usia pernikahan, dan tingkat pendidikan yang kian membaik yang nantinya akan berpeluang terhadap besarnya kesempatan bonus demografi.

Nyatanya angka kelahiran memiliki dampak yang cukup signifikan dalam berbagai aspek kehidupan yang eksistensinya bagai pisau bermata dua, yaitu dapat memberikan dampak positif serta dampak negatif.

Diperlukan adanya upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat untuk menyeimbangkan angka kelahiran yang ada. Dengan adanya upaya ini, diharapkan
angka kelahiran yang terjadi di Sumatera Barat tidak memberikan implikasi dampak
yang mengancam terhadap kehidupan secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Angka Kelahiran Hasil Long Form SP2020 menurut Kelompok Umur (Age Spesific Fertility Rate/ASFR) 2020. (2020). Retrieved from Sumbar BPS: https://sumbar.bps.go.id/indicator/12/749/1/angka-kelahiran-hasil-long-form-sp2020- menurut-kelompok-umur-age-spesific-fertility-rate-asfr-.html Fajri, A. (2019). Analisis Faktor Jumlah Bayi Lahir Hidup di Sumatera Barat. UNP, 197-212. Febriana, R. (n.d.). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Kelahiran di Provinsi Sumatera Barat dengan Menggunakan Analisis Faktor. Students of Mathematics.