Padang TIME – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan kerugian bersih pada sembilan bulan pertama tahun ini imbas tertekan penurunan harga batu bara.

“Harga batu bara hingga 30 September turun 14 persen, sehingga berimbas pada permintaan batu bara pada pasar utama. Juga pandemi Covid-19 yang berdampak pada negara-negara pengimpor batu bara,” ujar Direktur Bumi Resources, Dileep Srivastava,   Minggu (1/11/2020).

Ditambahkan Dileep, volume penjualan batu bara Bumi Resources sejatinya turun 5 persen, karena turunnya permintaan batu bara dari India dan China. Pendapatan perseroan anjlok 19 persen menjadi USD2,77 miliar.

“Volume penjualan gabungan mengalami penurunan sebesar 3,1 juta ton, terutama di Arutmin,” katanya.

Adapun penurunan pendapatan, kata Dileep, membuat laba usaha perseroan turun 63 persen menjadi USD156,9 juta. Adapun marjin laba terhadap pendapatan turun dari 12,5 persen menjadi 5,7 persen.

Sedangkan laba bersih BUMI anjlok 280 persen menjadi rugi bersih USD137,3 juta atau setara Rp2 triliun. Padahal, perseroan meraup laba bersih USD76,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Dileep klaim perseroan telah melakukan efisiensi agar kerugian tak terlalu dalam. Beban pokok pendapatan misalnya, turun dari USD2,8 miliar menjadi USD2,4 miliar. Beban usaha juga turun dari USD169,3 juta menjadi USD149 juta.

“Meski kondisi pasar masih belum menentu, perseroan tetap optimistis dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja operasionalnya dalam jangka menengah,” katanya.

Dirinya juga sambut positif insentif hilirisasi batu bara yang ada dalam Omnibus Law. Hal itu karena, BUMI sudah ditunjuk untuk proyek metanol di 2023 sebagai strategi hilirisasi batu bara. (NZ&IDX)
Balang

LEAVE A REPLY

− 2 = 5