“Beda generasi Beda pula Perilaku Travelingnya: Temuan Pada masyarakat Indonesia dan Malaysia dimasa pandemi covid-19”

0
1527
ad

Ditulis oleh: Penulis:
Dian Rani Yolanda, S.E, M.Bus
Dr. Syuryatman Desri, S.Sos, M.M
Gusman Nawanir, S.T, M.Sc, Ph.D
Denny Yohana, S.E, M.Si, Ak

bebi

PadangTIME.com – Sektor pariwisata adalah sektor yang terdampak paling parah akibat Pandemi Covid-19.Pembatasan lokal dan nasional yang telah diterapkan masing-masing negara di dunia mempunyai konsekuensi langsung bagi pariwisata, yaitu terhadap mobilitas dan kemungkinan berhubungan fisik secara langsung antar individu. Beberapa negara saat ini sudah membuka kembali perjalanan baik lokal maupun internasional dengan menerapkan protokol kesehatan dan administrasi yang ketat sebagai upaya penghentian penyebaran virus.

Tulisan ini difokuskan untuk membahas perilaku wisata masyarakat Indonesia dan Malaysia selama masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga sekarang. Situasi pandemi Covid-19 yang rumit di Indonesia dan Malaysia tentunya berdampak pada niat perjalanan (traveling) individu dalam berbagai aspek. Adapun faktor yang dibahas dalam tulisan ini dibatasi pada persepsi terhadap Covid-19, persepsi terhadap risiko perjalanan, sikap terhadap perjalanan, serta niat dan perilaku perjalanan pada masa pandemi Covid-19.

Penelitian  yang dilakukan secara merata hampir di seluruh wilayah Kabupaten/Kota di 34 Provinsi di Indonesia dan juga 13 Negara Bagian di Malaysia terhadap niatmelakukan perjalanan pada masa pandemi Covid-19 ini menunjukkan hasil yang berbeda pada karakteristik masyarakat yang berbeda pula. Masyarakat Indonesia yang diobservasi sebagian besar berusia antara 26-45 tahun  yang dikenal sebagai Generasi Y atau Milenial, telah menikah, serta berprofesi sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) dan pegawai swasta. Sedangkan masyarakat Malaysia yang diteliti umumnya berusia antara 18-25 tahun yang dijuluki Generasi Z, belum menikah alias single, dan berprofesi sebagai pelajar/mahasiswa.

Temuan menunjukkan bahwa responden asal  Indonesia yang diteliti mayoritas  Generasi Y (Milenial) memiliki hasil yang sama dengan konsep teori dan penelitian-penelitian terdahulu. Persepsi terhadap Covid-19 dan risiko perjalanan yang mungkin dialami mendorong mereka untuk mengurangi risiko yaitu dengan menghindari melakukan perjalanan (traveling) selama masa pandemi Covid-19 ini. Kalaupun melakukan perjalanan umumnya tujuannya adalah untuk mengunjungi keluarga dan urusan dinas/pekerjaan. Yang berbeda dari temuan ini dibanding dengan penelitian terdahulu adalah niat untuk melakukan perjalanan tidak berpengaruh pada perilaku perjalanan.Pada masa pandemi, seseorang mungkin saja mempunyai niat untuk bepergian tapi tidak dapat dilakukan karena beberapa faktor, seperti:adanya pembatasan pergerakan serta ditutupnya sebagian besar sarana dan prasarana umum yang ada.

Menariknya, hasil observasi terhadap responden asal  Malaysia yang didominasi oleh Generasi Z menunjukkan hasil yang berbeda.Meskipunmereka mempunyai persepsi negatif terhadap Covid-19 seperti khawatir, tidak nyaman, dan juga persepsi terhadap risiko perjalanan yang mungkin timbul selama Covid-19, niat mereka untuk bepergian masih tinggi.Mayoritas dari tujuan perjalanan mereka pun adalah untuk berwisata. Hal ini bisa jadi dikarenakan tipikal Generasi Z yang memang sangat suka traveling terlepas dari persepsi mereka tentang Covid-19. Sebuah survei terbaru dari Nielsen belum lama ini juga menemukan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang paling banyak mengeluarkan uang untuk tujuan liburan/wisata.Generasi ini sangat suka bepergian sehinggakurang mempertimbangkan risiko perjalanan akibat pandemi Covid-19.

Lebih lanjut, riset yang dirilis oleh US Travel Association, segmen psikografis yang berani untuk melakukan perjalanan wisata pada masa pandemi Covid-19 secara demografis lebih didominasi oleh generasi milenial (Y) dan Z. Sebaliknya generasi baby boomers atau senior traveler lebih memilih untuk menunggu situasi aman terkendali.

Dari hasil temuan yang berbeda di kedua negara, dapat disimpulkan bahwa sehubungan dengan niat perjalanan, persepsi risiko dibentuk oleh pengalaman masa lalu, faktor demografi(usia, jenis kelamin, pekerjaan),faktor psikografis, pengetahuan dan kepercayaan seseorang.Selain itu, media juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi opini publik dan persepsi risiko individu. Media massa cenderung membesar-besarkan risiko suatu situasi dengan secara selektif menekankan aspek tertentu sambil mengabaikan aspek lainnya. Risiko perjalanan dapat dikategorikan ke dalam risiko keuangan, psikologis, risiko kepuasan dan waktu, bencana alam, kebersihan dan penyakit, kejahatan dan kecelakaan serta masalah kesehatan.

Para pemangku kepentingan di sektor pariwisata termasuk pemerintah diharapkan dapat bekerjasama untuk memulihkan sektor pariwisata khususnya dan perekonomian umumnya dengan menyerukan perjalanan yang bertanggung jawab sebagai upaya memutus penyebaran virus Covid-19. Penerapan kebijakan protokol kesehatan yang ketat dan juga persyaratan administrasi yang diperlukan untuk bepergian selama masa pandemi Covid-19 ini harus diperhatikan guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang akan bepergian untuk tujuan apapun, sehingga akan membentuk persepsi, sikap dan perilaku positif untuk bepergian selama masa pandemi Covid-19. (PT)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here