Bapeda Pesisir Selatan Gelar Rapat Bertema Pemasaran Berbasis Gender

942

Padang TIME.com-Potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Pesisir Selatan disektor pariwisata tidak hanya sekedar untuk dinikmati, tapi juga mampu hendaknya memberikan dampak positif terhadap masyarakat dalam meningkatkan perekonomianya.

Berdasarkan harapan itu, sehingga pemerintah daerah setempat melalui Badan Perencanaan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bapedalitbang), selenggarakan Workshop Manajemen Bisnis dan Pemasaran Berbasis Gender.

Kegiatan itu diselanggarakan selama tiga hari yang dimulai Selasa (10/3), bertempat di Hannah Hotel Syariah Painan.

Kegiatan yang diselenggarakan melalui kerjasama pemerintah Kanada dengan Indonesia melalui proyek inovasi Responsif Innovation Fund (RIF) II itu, diikuti oleh oleh 105 peserta dari sembilan kelompok Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) kawasan perdesaan bebasis industri pariwisata Kecamatan Koto XI Tarusan.

Kepala Bapedalitbang Pesisir Selatan, Yozki Wandri, saat pembukaan yang diwakili Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi dan Pengembangan Wilayah, Roza Afrilla,  mengajak masyarakat yang tergabung pada BUMNag kawasan perdesaan berbasis industri pariwisata tersebut, bisa memanfaatkan potensi besar yang dimiliki untuk kesejahteraan.

Dijelaskanya bahwa Kecamatan Koto XI Tarusan telah ditetapkan sebagai kawasan perdesaan prioritas nasional berbasis industri pariwisata sejak tahun 2017.

“Karena ditetapkan, sehingga Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Direktorat Pembangunan Kawasan Perdesaan, terus memberikan intervensi dalam bentuk kegiatan-kegiatan baik fisik maupun non fisik. Salah satu kegiatan non fisik tersebut adalah kegiatan workshop manajemen bisnis dan pemasaran berbasis gender sebagaimana dilaksanakan saat ini,” katanya.

Dari itu dia berharap kegiatan tersebut bisa diikuti dengan serius, agar berbagai ilmu yang diberikan oleh narasumber yang didatangkan bisa diterima dan dikembangkan nantinya. Tentunya sesuai keunggulan lokal atau bidang usaha yang dikembangkan oleh masing-masing BUMNag.

“Harapan itu saya sampaikan, sebab workshop ini merupakan agenda penting dari proyek inovasi RIF II sebagaimana dikembangkan saat ini di Pesisir Selatan. Dan ini juga merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dengan Kanada,” ujarnya.

Ditambahkanya bahwa beberapa sarana fisik sudah dilakukan melalui program itu terdiri dari, pembangunan jalan antar nagari di Nagari Sungai Nyalo, pembangunan pasar di kawasan Nagari Jinang Kampung Pansur, penyediaan rumah panjang bagi BUMNag Bersama, pembangunan amphitheatre di Nagari Sungai Nyalo. Termasuk juga bantuan keuangan terhadap BUMNag bersama.

“Semua itu merupakan beberapa bentuk dukungan pemerintah pusat dalam konteks kawasan perdesaan di KPPN Koto XI Tarusan,” ungkapnya.

Dijelaskan lagi bahwa kawasan perdesaan berbasis industri pariwisata Kecamatan Koto XI Tarusan merupakan bentuk dari model pembangunan partisipatif masyarakat lokal.

“Sistem pembangunan seperti ini dilakukan melalui kegiatan atau usaha yang menghasilkan berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan oleh kegiatan pariwisata. Dengan demikian sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi sektor pengungkit dan motor pengerak pembangunan di Pesisir Selatan,” harapnya.

Kedepan pihaknya akan terus berupaya agar kawasan tersebut terus bisa mendapatkan sentuhan-sentuhan pembangunan fisik maupun non fisik.

“Pembangunan non fisik itu dilakukan guna meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu memberikan nilai tambah baik pada barang maupun jasa yang ditawarkan kepada pengunjung di kawasan wisata. Sehingga kehadiran kawasan wisata itu, benar-benar memberikan kesejahteraan dan peningkatan ekonomi bagi warga lokal. Dari itu saya berharap kegiatan workshop ini dapat diikuti dengan serius,” katanya.

Ketua panitia pelaksana, Fera Eza Safitri, dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa melalui workshop tersebut, pihaknya sengaja  mendatangkan empat narasumber.

Balang

LEAVE A REPLY