7 Poin Penting Strategi Indonesia untuk Menghindari Resesi

794
PadangTIME.com – China  menjadi negara pertama yang berhasil menghindari resesi ekonomi setelah perekonomian mereka tumbuh 3,2% di kuartal kedua tahun ini. Sebelumnya, perekonomian di negeri tirai bambu itu sempat mengalami kontraksi hingga 6,8% yang menandakan kontraksi pertama sejak Revolusi Kebudayaan pada 1976 silam.

Dalam program IDX Channel Market Review Special Edition, Rabu (23/9/2020), bertajuk “Membongkar Strategi Hindari Resesi Ala Tiongkok”, Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun mengatakan bahwa terdapat 7 poin terkait penanganan ekonomi Tiongkok atau China yang mampu menghindari resesi.

“Saya kira ada 7 poin penting yang membuat Tiongkok ini mampu menghindari resei. Pertama, full respon dari pemerintah yang langsung mengambil alih. Kedua, kebijakan pemerontah yang tepat waktu, kemudian juga stimulus ekonomi yang luar biasa besar dan diberikan oleh pemerintah China bagi UMKM, pertanian hingga energi,” ungkapnya.

Kemudian, dilanjutkan Djauhari, Pusat kesehatan di China juga di gratis-kan oleh pemerintah. Selein itu, China memiliki cadangan devisa yang luar biasa besar. “Karena China punya cadangan devisa yang besar yakni hingga diatas 3,1 sekian triliun atau 25 kali cadangan devisa Indonesia. Kemudian pemerintah China juga menekankan transparansi dan tindakan yang terkoordinasi, serta memanfaatkan kemajuan dan power teknologi dengan riset penemuan vaksin,” jelasnya.

Duta Besar Indonesia untuk China tersebut mengatakan bahwa setiap kebijakan dan stimulus yang dilakukan setiap negara sudah pasti berbeda-beda. “Kalau menurut saya, jangan dibandingkan. Karena masing-masing negara karakternya berbeda, mulai dari sistem politik hingga masyarakatnya juga beda.

Jadi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sudah dilaksanakan dan dipraktekkan dengan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah pada tingkat provinsi dan daerah,” tandasnya.

Djauhari menilai bahwa kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia itu nyaris sama dengan yang dilakukan pemerintah China, seperti stimulus ekonomi yang diberikan sudah lebih dari Rp600 triliun, transparansi juga sudah dilakukan.

“Saya kira kebijakan Indonesia dibandingkan negara lain, justru kita sangat terbuka. Kemudian kerjasama di bidang vaksin kan di Indonesia sudah dilakukan dengan beberapa negara, bahkan kita punya research untuk vaksin kita sendiri.
Jadi saya kira apa yang dilakukan Indonesia sudah nyaris sama dengan yang dilakukan China. Tapi degree atau penekan pada faktor mananya yang berbeda,” terangnya.

Sebelumnya, Djauhari menjelaskan bahwa pada akhir Februari pemerintah China sudah mengeluarkan perintah bahwa semua pabrik diizinkan mulai bekerja lagi. Menurutnya, paling tidak dengan memproduksi alat-alat kesehatan dan lain-lain.

Kemudian stimulus ekonomi yang diberikan juga sangat menggerakan ekonomi disini. Karena China punya cadangan devisa hingga diatas Rp3,1 sekian triliun atau 25 kali cadangan devisa Indonesia.

“Dan yang saya cukup terkesan itu, perdagangan kita dengan China baik dari segi ekspor kita meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jadi saya kira itu juga yang bisa membantu perekonomian kita. Tapi yang saya kira kita harus apresiasi itu disebut ekonomi gotong royong. Devisa di Indonesia berkembang secara pesat dan digital ekonominya juga,” ungkap Djauhari.

Namun, terdapat 5 catatan Djauhari terhadap Indonesia, pertama eksportir harus tetap menjaga kualitas produk eksportnya. Kedua harus mentaati regulasi baik ekspor maupun impor karena ini ketentuan yang utama, ketiga yakni bekerjasama dengan stakeholder di Indonesia, lalu promosi offline dan online yang luar biasa, kemudian keuletan harus ditingkatkan.

“Karena negara lain bisa kenapa Indonesia tidak?,” pungkasnya. (*)

Balang

LEAVE A REPLY