Ketua DPRD Sumbar: Para Nelayan Danau Singkarak Tidak Mengunakan Bagan

72

PadangTIME.com – Tujuan pemerintah melarang para nelayan di sekitar Danau Singkarak mengunakan bagan dan melarang membuat kerambah ikan  bukan bertujuan untuk mematikan kehidupan nelayan, namun semuanya ini untuk menjaga keberlangsungan hidup dan ekosistem ikan Bilih yang sudah mulai hilang dan punah, hal ini dikatakan Ketua DPRD Sumatera Barat , Hendra Irwan Rahim saat menerima aspirasi asosiasi Nelayan Kabupaten Solok dan Asosiasi Nelayan Tanah Datar di gedung DPRD Sumbar Rabu (14/11)

Hendra Irwan Rahim menyampaikan semua peraturan yang dibuat pemerintah bukan untuk dilanggar tetapi untuk ditaati , peraturan larangan untuk tidak menggunakan bagan dan jaring yang ukuran kecil  bukan  bertujuan membunuh masyarakat tetapi untuk membantuh masyarakat di sekitar Danau Singkarak.

Sementara itu Pengamat perikanan dan kelautan Universitas Bung Hatta (UBH) Sumatera Barat Prof Hafrijal Syandri menilai ada empat hal menyebabkan ikan bilih (mystacoleucus padangensis) hilang di perairan Danau Singkarak Sumatera Barat.

“Keempat hal tersebut menjadi penyebab utama hilangnya ikan khas daerah tersebut dan ini harus disikapi secara serius oleh pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar danau,” kata dia di Padang, Rabu.

Menurut Hafrijal Syandri penyebab pertama adalah akumulasi penangkapan yang dilakukan sejak 10 tahun terakhir. Dari data yang dimilikinya pada 2001 ada sebanyak 894 unit jaring Langli dengan ukuran mata pancing tiga per empat atau lima per delapan.

Hafrijal Syandri  mengatakan ukuran tersebut sangat kecil dan membuat ikan bilih tidak berkembang biak karena yang kecil ikut tertangkap oleh nelayan.

“Penangkapan secara masif tersebut membuat ikan bilih tidak memiliki generasi berikutnya dan menyebabkan ikan tersebut hilang saat ini,” ujar Hafrijal Syandri .

Kedua, lanjutnya keberadaan bagan milik masyarakat yang jumlahnya mencapai 450 unit di Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Bagan ini memiliki mata pancing berukuran kecil dan menangkap ikan berukuran kecil yang sebenarnya tidak dapat dimanfaatkan.

Kemudian yang ketiga, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan danau tersebut ikut mempengaruhi ekosistem dan membuat ikan tidak memiliki tempat untuk bertelur.

“PLTA ini membuat fluktuasi air begitu cepat dan membuat ikan sulit berkembang biak karena pasir di tepi danaumenghilang akibat permukaan air yang naik,” kata dia.

Selain itu sebab yang keempat adalah keberadaan ikan nila yang dipelihara oleh masyarakat di danau tersebut. Menurut dia ikan nila merupakan ikan invasif yang berbahaya karena menjadi predator di ekosistem tempatnya tinggal

“Ikan nila yang terlepas dari keramba masyarakat terlepas dan memakan anak-anak ikan bilih sehingga tidak dapat berkembang biak lagi,” ujar Hafrijal Syandri .

Dirinya menyarankan agar bagan ini tidak lagi diprioritaskan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian karena berdampak pada kelestarian ekosistem di Danau Singkarak.Walau mata pancing bagan diganti menjadi lebih besar hal ini tidak akan berdampak banyak dan tetap merusak lingkungan. (tis)

 

LEAVE A REPLY