JANGAN SEBARKAN HOAX, Waspadai Jelang Pilpres dan Pileg

43

Oleh : Falsanar
PadangTIME.com – Begitu leluasanya orang menebarkan informasi palsu atau hoax di dunia maya, seperti di Facebok, twitter, Whatshap, dan lainnya dapat diancam hukum yang berlaku
Maka, penebar hoax akan dikenakan KUHP, Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.
Ujaran kebencian yang dimaksud didalam pasal diatas, meliputi penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong.
“Jadi, hoax ini harus ada yang dirugikan, baik itu seseorang atau korporasi yang merasa dirugikan. Kalau enggak ada, ya cenderung gosip di dunia maya. Perlu ada obyek dan subyek dari hoax ini
Ujaran kebencian ini biasanya bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan/atau kelompok masyarakat, antara lain suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan/kepercayaan, ras, antargolongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, hingga orientasi seksual.
“Ujaran kebencian atau hate speech ini dapat dilakukan dalam bentuk orasi kampanye, spanduk, jejaring media sosial, penyampaian pendapat di muka umum, ceramah keagamaan, media massa cetak maupun elektronik, sampai pamflet.
Apakah semua kabar yang lewat di beranda Facebook, Twitter, atau berita daring, bisa kita pastikan kebenarannya? Lalu kita amini dan diperbolehkan membagikannya kepada orang lain tanpa melakukan proses verifikasi kebenaran isi beritanya? Siapa penulis beritanya? Apa motifnya dan tujuannya apa?
Di tengah kecepatan teknologi informasi digital sekarang ini, beberapa pihak menggunakannya untuk melakukan propaganda dan penyesatan. Orang-orang yang sudah memosisikan diri berada di kelompok tertentu (baik politik maupun ormas) akan dengan mudah terpancing bila ada pemberitaan “miring” di kubu “lawan”.
Apalagi jelang pemilu legislatif, dan pemilu pemilihan presiden tahun 2019 semakin dekat.
Mari muhasabah atau introspeksi diri kita agar tidak terjebak dan terjerembab dalam kubangan para pembual dan pemfitnah. Salah satu jalan menghindari hoax dengan memverifikasi berita.
Allah SWT telah mewanti-wanti umat Islam untuk tidak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang fasik.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat:6)

Majelis Ulama Indonesia, sudah mengharamkan berita hoax, walau tujuannya baik. Menyebarkan informasi yang benar tetapi tidak sesuai tempat atau waktunya juga dilarang oleh para ulama.
Memproduksi atau menyebarkan informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, demi menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak, haram hukumnya.

Marilah kita Jera dengan menyebarkan fitnah di media sosial atau beita hoax, agama saja terlebih dahulu melarang.

Sangsi atau hukuman bagi penyebar kebencian sehingga merusak nama baik seseorang juga dapat di denda dan dipenjara.

berhati-hatilah mengunakan media sosial, gunakan media sosial dengan bijak dan positif.Jaga terlebih dahulu diri kita, keluarga kita dan orang-orang terdekat guna menyelamatkan orang-orang yang kita cintai.

Pemerintah sudah sepantas dan sudah waktunya untuk memberikan warning dan peringatan dengan ancamannya, sehingga bagi pengguna media sosial, berhati hati untuk membuat statusnya di media sosial yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

Berhati hatilah!

LEAVE A REPLY