Dr. Evitayani: Pellet Indigofera Zollingeriana Melalui Teknologi Fungi Mikoriza Arbuskula Sebagai Pakan Ternak Ruminansia

727
sponsor

PadangTIME.com – Rendahnya produksi ternak pada Kelompok Ternak Harapan jaya di Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara, kabupaten kepulauan Mentawai selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar, juga karena kurangnya pakan baik rumput maupun leguminosa hal ini dikatakan Dr. Evitayani, yang didampingi Dr. Ferry Lismanto, Prof. Lili Warly, Prof. James Hellyward, Drs. Yulizar Yusuf, Prof. Syamsuardi dan Srita Yani PhD. saat melakukan Pengabdian Masyarakat di Sipora Kepulauan Mentawai ,

Dikatakan Dr. Evitayani dosen Peternakan Universitas Andalas , Teknologi pemberian Fungi mikoriza arbuskula (FMA) cv. Glomus manihottis untuk penanaman leguminosa Indigofera zollingeriana merupakan laternatif pembuatan pakan konsentrat yang dibuat pellet. Pembuatan pakan pellet ini sebagai konsentrat utama dalam ransum ternak sehingga dapat meningkatkan produktivitas sapi potong dalam rangka menunjang produksi daging nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui metode sentuhan bioteknologi FMA untuk pembuatan pellet indigofera adalah peternak cepat memahami dan melaksanakan bagaimana menyusun ransum yang baik agar performan bobot badan sapi potong cepat meningkat melalui pemberian pellet indigofera sebagai konsentrat serta dapat menarik Pemda agar dapat berkontribusi meningkatkan produksi peternakan di Desa Sido Makmur , Kecamatan Sipora utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Pemanfaatan Teknologi FMA dan pemupukan N, P dan K bertujuan untuk melihat kemampuan mikoriza untuk meningkatkan solubilitas mineral dan memperbaiki absorbsi nutrisi tanaman (terutama fosfat) melalui perpanjangan hypa akar untuk lebih memanfaatkan pupuk. Kondisi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai lahan yang cocok untuk penanaman legume (Indigofera zollingeriana) sehingga dapat menopang peningkatan produktivitas ternak sapi. Hasil pengabdian IbDm ini telah memberikan sumbangan ilmu pengetahuan di bidang Pakan Hijauan. Kelompok ternak Harapan jaya sudah mengenal penanaman Indigofera Zollingeriana melalui Teknologi FMA, dan mengetahui cara membuat pellet Indigofera sebagai pengganti pakan konsetrat yang relatif lebih mahal ungkap Evitayani

Lebih lanjut dijelaskan Dr. Ferry Lismanto kekurangan hijauan dapat dilakukan dengan pengembangan lah , an marjinal sebagai lahan pertanian yang produktif dan juga dapat digunakan sebagai lahan peternakan.Peningkatkan kualitas dan produktifitas lahan tersebut dengan cara pemanfaatan bioteknologi seperti inokulasi FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) dan pemberian pupuk N, P dan K. Menurut Anas dan Santoso (1992) produktivitas tanaman dapat ditingkatkan dengan penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Asosiasi hifa-hifa dari FMA dengan akar mampu menyerap unsur hara tanah lebih banyak sehingga mengurangi pemakaian pupuk dan memperbaiki nutrisi tanaman.Pada saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air, maka hifa-hifa tersebut dapat menyerap air melalui pori-pori tanah.



Pada kesempatan ini Prof. Lili Warly mengatakan Indigofera dapat berkontribusi positif terhadap kestabilan kesuburan tanah. Mekanisme simbiosis fiksasi nitrogen udara dengan bakteri rhizobium, transfer unsur hara dan air melalui simbiosis dengan mikoriza dapat meningkatkan peran Indigofera dalam menjaga ekologi tanah. Indigofera mampu meningkatkan residu akar dan asam organik pada tanah sehingga dapat meningkatkan taraf kandungan karbon organik tanah sebesar 16.8 %, yang berarti dapat memberikan peluang untuk berkembangnya mikroorganisme tanah

Pada kesempatan ini Evitayani memberikan penyuluhan dan pelatihan, pada peternak dibimbing± 3 bulan dan dibina agar usaha peternakan sapi potong mereka yang menerapkan teknologi FMA dan pellet Indigofera. Diharapkan pelaksanaan in vivo berbasis pakan konsentrat hijauan berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan. Selanjutnya , Pemerintahan daerah dan Dinas Peternakan membuat semacam kerjasama berkelanjutan untuk selalu mengawasi dan mengontrol kelompok ternak bina tani tersebut.
Adapun teknologi yang telah di aplikasikan kepada ternak yaitu :

  1. Pembibitan pellet indigofera melalui bioteknologi FMA.
    a.Persiapan lahan. Setelah lahan ditentukan, dilakukan pembersihan lahan dari vegetasi yang
    ada. Luas lahan yang digunakan adalah 50 x 50m2. Selanjutnya, dibagi menjadi 20 petak dalam 4 kelompok. Jarak masing-masing kelompok adalah 160×160 cm dan jumlah perlobang sebanyak 2 batang per lobang.
    b. Pengolahan tanah. Sebelum dilakukan penanaman, tanah diberikan pupuk dasar dengan menggunakan pupuk kandang 5 ton/ha disertai pemberian pupuk SP-36 150 kg/ha selanjutnya tanah diinkubasi selama 15 hari.
    c. Persiapan bahan tanam Bibit yang digunakan dalam bentuk batang yang dihasilkan dari biji lebih kurang 2 bulan.
    d. Penanaman. Setelah tanah diinkubasi selama 15 hari dilakukan penanaman dengan batang lebih kurang 20 cm tingginya. Sewaktu penanaman dilaksanakan perlakuan inokulasi FMA. FMA yang dipakai adalah jenis glomus manihottis pemanfaatan bioteknologi seperti inokulasi FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) dan pemberian pupuk N, P dan K.
    e. Pemupukan. Pupuk kandang diberikan 4,5 kg/plot saat pengolahan tanah yang dilakukan dengan dosis 5 ton/ha dengan cara disebar,kemudian diaduk rata dengan tanah. Pupuk urea diberikan sesuai dosis perlakuan 200 kg/ha diberikan dengan cara ditanam sedalam 10 cm disisi kiri atau kanan tanaman, sesuai dengan petunjuk teknis Fedrial (2005).
  2. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah. Dosis pupuk SP-36 150 kg/ha dan dosis pupuk KCL 100 kg/ha. Pemberian pupuk SP-36 dan KCl yaitu 15 hari sebelum tanam.6. Pemeliharaan legume disiram tiap hari bila tidak hujan dan dijaga dari serangan pertumbuhan gulma.Pada 10 dan 30 HST dilaksanakan penyiangan dengan cara pembumbunan dan pembuangan gulma sebelum pemupukan, Panen pada 120 HST HST. Metode yang ditawarkan untuk mendukung realisasi program IbDM yang telah dilaksanakan pada peternak mitra yaitu:
    a. Penyuluhan . Dalam hal ini di diskusikan tentang cara pembuatan Pellet Indigofera sebagai sumber konsentrat . Sehingga masyarakat bisa menyediakan bahan pakan hijauan sepanjang tahun. Sehingga diharapkan produksi dan kandungan gizinya menjadi lebih baik. Hal ini akan berguna bagi peternak untuk mengembangkan kewirausahaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
    b. Pelatihan, Bimbingan dan Pembinaan
    Pelatihan yang diberikan meliputi pelatihan teknologi pembuatan pellet Indigofera , pelatihan kewirausahaan dan pelatihan motivasi.
    b.Monitoring
    Monitoring dilakukan secara berkala ( 1 x 2 minggu). Diskusi dan konsultasi dilakukan saat monitoring untuk mencari solusi dari berbagai kendala yang dihadapi baik dalam hal teknis peternakan maupun dalam hal kewirausahaan.
  3. Kegiatan program IbDM ini berlangsung selama 4 bulan dari Agustus hingga November 2019 dengan No. Kontrak : 4617/XIV?R/KPT/2019. Pada program Diseminasi ini melibatkan Dosen 6 (enam) orang dosen dan 1 (satu) mahasiswa S3 yaitu DR.Evitayani (bidang Hijauan Pakan), Dr. Ferry Lismanto (Produksi Ternak), Prof. Lili Warly (Bidang Ruminansia) , prof. James Hellyward (Sosek) Drs. Yulizar Yusuf (Biologi) Prof. Syamsuardi (Biologi) serta Srita Yani PhD (Kyoto University, Japan..
    Melalui aplikasi di lapangan dan metode Discussion group diharapkan hasil pengabdian ini memperoleh metode terbaik untuk meningkatkan pendapatan dan mengetahui pakan ternak ruminansia dalam menunjang produktivitas dan dapat membantu Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2024.
Balang

LEAVE A REPLY