Padang TIME.com-Desa sirilogui satu dari enam desa, desa sikabaluan, monganpoula, sotboyak, dan desa bojakan di kecamatan siberut utara kabupaten kepulauan mentawai.

Salah satu warga desa sirilogui, pius Sakerebau (50) menyebutkan kreatifitas menjadi dasar utama dalam membangun perekonomian, baik secara umum maupun secara pribadi, salah satunya dalam mendistribusikan hasil pertanian keluar desa. Pada sabtu (11/05) di kapal bakat benuang.

Saya mengupayakan hasil pertanian warga sirilogui bernilai jual, yang mampu menghasilkan uang salah satunya membeli hasil ladang masyarakat, yang kita jual kembali di desa sikabaluan, kecamatan siberut utara. Artinya kita menyalurkan hasil ladang masyarakat agar bernilai rupiah. Tambahnya.

Disebutkan, untuk sekali penjualan dari 4 kali jadwal kapal memasuki pelabuhan desa sirilogui, ia dapat membawa sebanyak 70 tandan pisang jenis pisang batu, dengan harga jual Rp 40,000/ tandan.
Sementara untuk pembelian kepada warga senilai Rp 30,000/tandan.

Namun harga bisa saja berubah tergantung pada ukuran pisang, berlaku terhadap penjual dan pembeli.

Dengan begitu masyarakat dapat mengumpulkan pisang yang kita jemput langsung ke alamat penjual,

Ada tiga dusun yang terdapat di desa sirilogui yaitu, muara, sitangai dan tunggu.
Diperkirakan setiap dusun memiliki 200 hingga 300 rumah tangga. Jelas pius.

Jarak pelabuhan sirilogui dengan area pemukiman berkisar 5 Km, untuk distribusi pisang kepelabuhan ditanggung olehnya.

Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk memberikan motivasi kepada warga dalam berkebun dan bertani meski untung yang didapat tidak seberapa

Kreatifitas dan inovatif diungkapanya adalah kunci dalam membangun perekonomian masyarakat misalnya dalam sosok memberi gagasan yang dapat memeberi pengaruh bagi warga lain, dalam bentuk berjualan hasil ladang, tentunya tidak lepas dari usaha disemua element lapisan masyarakat des sirilogui.

Kita berharap khususnya dimentawai adanya tempat pengelolaan hasil pertanian seperti pisang yang menjadi hasil pertanian utama dimentawai. Paparnya.

LEAVE A REPLY