IbDM Kelompok Ternak Kubu Sepakat , Kota Padang

78

Pengabdian ini dilaksanakan  Prof. Dr. Ir. Lili Warly, M.Agr  ,DR. Evitayani, S.Pt.,M.Agr ,Prof. Ir. Yetti Marlida.
Prof.Dr.Sumaryati Syukur ,Drs. Yulizar Yusuf, M.S , Prof. Syamsuardi

PadangTIME.com – Dari Hasil Riset , faktor utama penyebab rendahnya produksi ternak sapi potong di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan peternak dalam manajemen dan penyediaan pakan secara berkesinambungan. Harga konsentrat yang mahal dan terbatasnya ketersediaan hijauan baik berupa rumput unggul maupun rumput lapangan merupakan masalah pelik yang dihadapi peternak sehari-hari, termasuk yang dialami oleh para peternak di kelompok ternak Kubu Sepakat yang akan menjadi mitra dalam program diseminasi produk teknologi ini. Untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak, tentu saja diperlukan juga peningkatan kuantitas dan kualitas hijuan sepanjang tahun.Namun penyediaan hijauan tersebut dihadapkan pada kendala yang cukup serius, seperti semakin berkurangnya lahan yang dapat digunakan untuk penanaman rumput akibat terus meluasnya areal pemukiman, industri dan tanaman pangan, serta terjadinya fluktuasi produksi akibat musim kemarau yang relatif panjang.Oleh karena untuk memacu peningkatan produksi ternak sapi potong, selain mengoptimalkan pemanfaatan hijauan konvensional, juga diperlukan upaya pemanfaatan hasil ikutan pertanian secara lebih efektif dan efisien. Hal ini dimungkinkan karena sistem pemeliharaan ternak sapi pada ke dua mitra tersebut dan pada sebagian besar peternak di Indonesia terintegrasi dengan tanaman pangan, terutama tanaman padi sehingga limbah berupa jerami padi akan tersedia sepanjang tahun. Penggunaan jerami padi sebagai pakan sapi oleh para peternak bukanlah merupakan suatu hal yang baru, namun rendahnya nilai nutrisi yang disebabkan rendahnya kandungan protein dan tingginya kandungan lignin dan silika merupakan pembatas utama sehingga jerami padi tidak mampu untuk mendukung produksi ternak yang baik.Berbagai penelitian telah diupayakan untuk mengatasi permasalahan tersebut seperti dengan perlakuan amoniasi dan fermentasi dengan menggunakan kapang.Namun teknologi tersebut kurang diterima dengan baik di kalangan peternak, karena selain prosedurnya rumit juga memerlukan waktu yang cukup lama sehingga peternak tidak sabar untuk menunggu sampai bahan pakan tersebut siap diberikan kepada ternaknya. Teknologi amoniasi jerami padi misalnya memerlukan waktu antara 21 hari sampai 1 bulan, sedangkan teknologi fermentasi memerlukan sterilitas peralatan yang sulit dilakukan pada peternak tradisional.

Teknologi yang ditawarkan pada mitra kelompok peternak dalam program IbDM ini adalah teknologi yang dapat menurunkan lama pemeraman proses amoniasi urea jerami padi dari 30 hari hanya menjadi 5 hari saja dengan kualitas yang sangat baik. Teknologi ini sangat aplikatif di lapangan karena menggunakan bahan yang mudah dan murah didapat disekitar peternak, yaitu urea sebagai amonia dan kotoran ayam sebagai sumber enzym urease yang mampu menghidrolisis urea menjadi amonia dalam waktu yang sangat singkat.Teknologi ini sudah diuji coba dengan memberikan jerami padi amoniasi-urea-kotoran ayam yang dicampur dengan konsentrat yang sesuai pada sapi Pesisir dan mampu menghasilkan pertambahan berat badan lebih dari 1 kg/ekor/hari. Secara ringkas dapat disimpulkan ada dua produk teknologi yang ditawarkan pada mitra kelompok ternak yaitu teknologi untuk mempersingkat lama pemeraman proses amoniasi dengan menggunakan campuran urea dan kotoran ayam serta teknologi pembuatan ransum komplit berbasis jerami padi amoniasi untuk ternak sapi potong.

Keyword : Amoniasi jerami dan kotoran ayam, Urease, Sapi pesisir

LPPM Unand mengemban tugas sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian civitas academika Unand yang muaranya adalah PRODUK IPTEKS-SOSBUD dan pendharmabaktian kepada masyarakat dan kejayaan bangsa.Sasaran akhir dari visi dan misi LPPM Unand adalah terdiseminasinya dan terpublikasinya hasil hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara efektif dan berdayaguna. 9 (sembilan) Dimensi tema dan bidang kajian di LPPM Uand yaitu ketahanan pangan, tanaman obat dan rempah, gizi dan kesehatan, manajemen bencana, diversifikasi hutan tropika dan lingungan, inovasi teknologi dan industri, pembangunan karakter, ekonomi dan kewirausahaan serta hukum dan civil society. Adapun teknik amoniasi dengan kotoran ayam termasuk salah satu dimensi tema penelitian di bidang Pangan yang telah dilaksanakan. Oleh sebab itu perlunya diseminasi hasil penelitian ini untuk diwujudkan ke tengah masyarakat secara integrasi, koordinasi antar kelompok peternak , Mitra Pemerintahan dan Industri. Secara umum teknik amoniasi dapat dipakai sebagai teknologi yang perlu diperluas untuk peternak.Lahan yang tersedia di daerah mitra seluas lebih kurang 50 ha yang pada umunya ditanami padi.Selesai panen, biasanya hasil limbahnya dibakar.Oleh sebab itu perlulah sentuhan teknologi amoniasi untuk dapat dimanfaatkan peternak sebagai pakan ternak sapi potong.

a. Peningkatan kualitas jerami padi untuk pakan ternak
Pada dasarnya jerami padi diberikan pada ternak ruminansia apabila ketersediaan hijauan yang berkualitas lebih baik tidak mencukupi. Seperti kita ketahui, jerami padi mengandung dinding sel (cell wall constituent) yang tinggi yang diperkokoh dengan tingginya lignindan silika, sehinggasumberenersi yang tersimpan dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa sulit dimanfaatkan oleh mikroorganisme rumen. Tingginya kadar lignin akan menghambat penetrasi bakteri rumen kedalam sel-sel tanaman (Harkin, 1973 dan Theanderand Aman, 1984). Selain itu, jerami padi juga mengandung protein kasar dan mineral yang rendah, menyebabkan bahan ini tidak mampu menunjang produksi ternak, bahkan untuk kebutuhan hidup pokok sekalipun. Terbatasnya manfaat jerami padi sebagai pakan ternak disebabkan umurnya yang tua sehingga telah mengalami lignifikasi taraf lanjut yang menyebabkan sebagian besar karboidrat telah membentuk ikatan kokh dengan lignin membentuk ligno-selulosa dan ligno-hemiselulosa yang sulit dicerna (Chuzaemi dan Soejono, 1987 dan Sutrisno, 1988). Menurut Minson (1967), kadar protein minimum untuk konsumsi normal dari suatu hijauan untuk ternak ruminansia adalah 7%. Hasil penelitian Devendra (1975) dan Roxas et al (1984) memperlihatkan bahwa kompisis kimia dan fraksi serat jerami dari berbagai varietas padi di Asia adalah sebagai berikut : protein kasar 3.3 – 4.5 %, serat kasar 26-33.6%, NDF 53.6-71.4%,ADF 41.3-61.3%, selulosa24.3-34.3%, lignin 5.5-12% dan silika 14.8-22.7%.Data ini menunjukkan bahwa tanpa perlakuan awal, jerami padi sebagai pakan ternak mempunyai nilai gizi yang sangat rendah. Hal ini juga tercermin dari rendahnya konsumsi dan daya cerna, serta penurunan bobot badan yang drastis dari ternak yang mengkonsumsi ransum tunggal jerami padi tanpa pengolahan, seperti yang dilaporkan Devendra (1978), Liu et al. (1988), Silva et al, (1989) dan Warly et al. (1992). Tanpa perlakuan awal, tingkat degradasi bahan kering dan selulosa jerami padi secara in sacco (48 jam inkubasi) adalah 39 dan 28% (Ambar dan Djayanegara, 1982).
Usaha peningkatan kualitas jerami padi melalui kombinasi perlakuan fisik (pencicangan/pemotongan) dan kimiawi telah menunjukkan hasil yang mengembirakan. Dengan perlakuan ini, jerami padi dapat digunakan sebagai ransum basal ternak ruminansia dan mampu menunjang produktivitas ternak yang cukup tinggi. Salah satu perlakuan kimiawi yang paling populer dan efektif adalah amoniasi.. Hasil penelitian Warly (1994) menunjukkan bahwa perlakuan amoniasi menunjukkan bahwa perlakuan amoniasi meningkatkan daya cerna jerami padi baik secara in vivo, invitro maupun in sacco,serta meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ternak domba.Ada 3 macam sumber amonia yang dapat digunakan dalam mengolah jerami padi, yaitu NH3 dalam bentuk gas cair (anhydrous), NH4OH dalam bentuk larutan (aqueous) dan urea dalam bentuk padat (CO(NH2)2). Diantara ketiga sumber tersebut, yang paling banyak digunakan negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia adalah urea. Urea mengandung 46% nitrogen sehingga 1 kg urea setara 2.88 kg protein kasar dan dalam hidrolisisnya menghasilkan 0.57 kg gas amonia (Bo, Gohl, 1975). Bahan ini selain murah dan mudah didapat, juga relatif tidak membahayakan kesehatan dan sudah biasa digunakan sebagai pupuk oleh petani di pedesaan. Hal ini sesuai dengan kriteria yang dikemukakan oleh Owen et al. (1984) bahwa persayaratan zat kimia yang `ideal` untuk perlakuan jerami padi adalah harus efektif dalam meningkatkan daya cerna dan/ata konsumsi, murah dan mudah didapat secara lokal, tidak meninggalkan residu yang beracun pada ternak, serta feces dan urine yang dikeluarkan tidak mengakibatkan polusi bagi lingkungan. Bahan tersebut juga harus mudah ditangani dan tidak membahayakan bagi petani peternak. Dalam proses amoniasi, dengan bantuan enzim urease pada temperatur yang cocok, urea akan dihidrolisis menjadi NH3 dan CO2, selanjutnya NH3 yang terbentuk akan dirubah menjadi amonium hidroksida.
Menurut Sundstol dan Coxworth (1984), prinsip utama dari kerja amonia pada jerami adalah merusak atau melonggarkan ikatan lignoselulosa dan meningkatkandaya larut hemiselulosa sehingga mudah dicerna mikroorganisme. Amoniasi juga meningkatkan kandungan nitrogen melalui terfikasinya nitrogen kedalam jaringan sel-sel jerami padi dan berfungsi sebagai pengawet. Jackson (1977) mengatakan penambahan bahan alkali terhadap bahan berkualitas rendah dapat menghidrolisis ikatan ester antara lignin dengan selulosa (ligno-Selulosa) dan hemiselulosa (ligno-hemiselulosa), memecah ikatan ester antara hemiselulosa dengan gugus esetil dan mengurangi atau menghilangkan kristal selulosa. Efektifitas atau keberhasilan amoniasi dalam meningkatkan kualitas jerami padi tergantung pada dosis uria dan lama pemeraman. Wanapat (1986) melaporkan bahwa amoniasi 5% menghsilkan konsumsi dan daya cerna jerami padi yang lebih tinggi dengan 3% urea pada sapi. Hasil yang sama juga dilaporkan oleh Saadullah et al.(1981), bahwa 5% urea merupakan dosis yang optimal untuk amoniasi ditinjau dari kandungan protein, konsumsi dan daya cerna jerami padi. Hasil penelitia Sudana dan leng (1985) menunjukan bahwa amoniasi dengan 4% urea meningkatkan kandungan nitrogensebanyak 2 kali lipat serta kofisien cerna bahankering secara in sacco meningkatkan dari 35 menjadi 42.2%.
Waktu pemeraman yang optimum dalam proses amoniasi jerami padi adalah 3-4 minggu atau bahkan mencapai 6-8 minggu, tergantung pada temperatur lingkungan (Doyle, 1982). Lamanya waktu pemeraman ini kadang-kadang menjadi faktor pembatas dalam proses amoniasi, karena peternak seringkali tidak mempunyai cadangan hijauan untuk ternaknya sehingga memerlukan hijauan dengan segera. Namun kendala ini dapat diatasi dengan cara menambahkan sumber enzim urease guna mempercepat hidrolisis urea menjadi NH3, sehingga waktu amoniasi dapat dipersingkat. Ibrahim et al. (1984) melaporkan bahwa dengan penambahan tepung kedelai, waktu perlakuan dapat dipersingkat dari 21 hari menjadi 5 hari. Bahan lain yang juga dapat digunakan sebagai sumber enzim urease adalah kotoran ayam (poultry manure). Selain mudah didapat dan mengurangi pencernaan lingkungan, penambahan bahan ini pada dosis 4%, 8% dan 12% ternyata efektif dalam menurunkan waktu amoniasi jerami padidari 21 hari menjadi 3 hari; dimana tingkat penambahan 12% merupakan tingkat optimum yang memberikan koefisien cerna in vitro tertinggi (Lohani et al.,1986). Manfaat lain yang diharapkan dari penambahan kotoran ayam adalah dapat meningkatkan kadar nitrogren jerami, karena bahan ini mengandung protein kasar yang cukup tinggi.
b. Peranan Konsentrat dalam ransum basal jerami padi amoniasi
Seperti telah diuraikan di atas, amoniasi dapat meningkatkan nilai gizi jerami padi melalui peningkatan kadar nitrogen dan ketersediaan energi bagi ternak.Namun untuk mendapatkan produksi yang tinggi, pemberian konsentarat dengan komposisi dan proporsi yang tepat mutlak diperlakukan. Menurut Sudana dan Leng (1985), pemberian jerami padi secara tunggal pada domba tidak mampu menyokong kebutuhan hidup pokok yang ditandai penurunan bobot badan ternak. Bertitik tolak pada kenyataan tersebut, penambahan konsentrat pada ransum basal jerami padi amonisai dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas ternak dengan cara menutupi kebutuhan zat-zat makanan essential yang jumlahnya kurang pada jerami padi. Pemberian makanan tambahan ini juga dimaksudkan untuk mengoptimumkan kondisi rumen sehingga dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan mikroba rumen. Jerami padi amoniasi urea mengandung nitrogen bukan protein (NPN) cukup tinggi, yang apabila difermentasikan dalam rumen akan segera menghasilkan NH3 oleh mikroba rumen perlu ketersediaan energi mudah tersedia (availabel energi ) yang dikandungnya relatif rendah. Oleh karena itu untuk mengoptimalkan pemanfaatan NH3 oleh mikroba rumen perlu ketersediaan energi yang cukup yang dapat diperoleh dari konsentrat, pada prinsipnya ransum yang diberikan kepada ternak raminansia akan mampu menunjang produksi ternak yang tinggi apabila sanggup mendukung pertumbuhan mikroba rumen yang maksimal sehingga pasokan protein mikroba yang diserap dalam usus menjadi tinggi. Selain itu, ransum yang diberikan juga harus mengandung protein yang relatif tahan degradasi dalam rumen sehingga disamping protein mikroba, ternak jg akan mendapat pasokan protein dari makanan
Penambahan zat zat tertentu, seperti protein, karbohidrat dan mineral dapat meningkatkan pemanfaatan jerami padi yang ditandai oleh peningkatan konsumsi dan daya cerna serta pertambahan bobot badan pada ternak ruminansia (Church and Santos, 1981 dan Liu et al.,1988). Hal tersebut juga dilaporkan oleh Warly (1994), bahwa pemberian bungkil kedelai atau gandum pada domba yang diberi makan jerami padi amoniasi, menghasilkan tingkat fermentasi rumen dan daya cerna zat zat makanan yang lebih tinggi, serta retensi nitrogen dan pertambahan bobot badan yang lebih baik dibandingjan dengan tanpa pemberian konsentrat. Oldham dan Smith (1982) mengatakan bahwa konsumsi,daya cerna dan pemanfaatan zat-zat makananoleh ternak reminansia dipengaruhi oleh keseimbangan antara kadar protein dan energi dalam ransum. Peningkatan kadar protein yang tidak disertai oleh penyedian energi dalam ransum. Peningkatan kadar proteian yang tidak disertai oleh penyedian energi yang cukup akan menimbulkan pengaruh yang negatif pada ternak. Hasil penelitian Warly et al. (1994) juga menunjukan bahwa dengan pemberian kombinasi gandum (sebagai sumber energi) dan bungkil kedelai (sebagi sumber protein), jerami padi dapat dicerna jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hanya pemberian bungkil kedele atau gandum saja. Demikian pula pertambahan bobot badan ternak tersebut meningkat 2 kali lipat (41.1 vs 83.3 g/hari) peningkatan ini disebapkan oleh keadaan optimum kondisi rumen yang menunjang aktifitas mikroba rumen sehingga dapat mencerna dengan baik zat-zat makanan ransum yang diberikan dan meningkatnya sumbangan protein mikroba bagi ternak. Dalam penelitian ini konsentrat yang diberikan berupa campuran dari tepung darah, dedak halus, onggok dan ampas tahu. Darah adalah sisa pemotongan hewan yang belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan dibeberapa daerah sering merupakan bahan pencemar air dan lingkungan. Padahal apabila bahan ini diproses secara baik menjadi tepung darah, maka akan merupakan sumber bahan makanan ternak yang cukup potensial, karena mengandung lebih dari 80% protein kasar. Protein darah sulit didegradasikan dalam rumen dan mempunyai nilai biologis yang rendah terutama kadar asam amino isoleusin dan methioninnya, namun menurut menurut close et al. (1986) pembertianya dengan bahan lain akan meningkatkan daya gunanya dan menjadi sumber bypass protein yang dapat dimanfaatkan oleh ternak dalam pasca rumen. Schloesser et al. (1993) melaporkan bahwa domba yang diberi rumput kering sebagai rasum basal menunjukan penampilan yang lebih baik apabila diberi campuran bungkil kedelai dengan tepung darah (2:1), dibandingkan bila hanya diberi bunkil kedelai atau tepung darah saja. Dedak padi dan onggok, yang masing-masing merupakan hasil ikutan dari penggilingan padi dan pembuatan tepung tapioka, adalah sumber pakan ternak ruminansia yang potensial di Indonesia. Onggok sering digunkan sebagai sumber energi (80%) karena mempunyai kandungan energi yang mudah larut (mudah dicerna) relatif tinggi Bahan organik onggok sangat mudah didegradasikan dalam rumen, sehingga energi yang dilepaskanya diharapkan mampu mengimbangi kebutuhan energi bagimikroba rumen pada ternak yang menkonsumsi ransum basal jerami padi amoniasi. Dalam hal ini terjadi keseimbangan antara pelepasan energi dari onggok dan amonia asal urea yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembang biakan mikroba rumen. Hasil penelitian Winogroho et al. (1985) menunjukan bahwa pemberian campuran 65% daun ubi kayu dan 35% onggok dapat mempertahankan atau meningkatkan bobot badan sapi ongole yang diberi ransum basal jerami padi. Dedak padi selain digunkan sebagai sumber protein (13-15% protein kasar) juga sebagai sumber energi (65-67% TDN). . Menurut Ibrahim (1986), Pemberian jerami padi tanpa perlakuan secara ad libitum dengan penambahan 0.5 kg dedak padi, dapat memenuhi kebutuhan dasar sapi dengan bobot badan 100-150 kg. Namun apabila jerami padi yang diberikan diamoniasi dengan urea terlebih dahulu ditambah dengan dedak padi, bobot badan sapi meningkat 100 g/hari. Usaha peningkatan kualitas jerami padi melalui kombinasi perlakuan fisik (pencicangan/pemotongan) dan kimiawi telah menunjukkan hasil yang mengembirakan. Dengan perlakuan ini, jerami padi dapat digunakan sebagai ransum basal ternak ruminansia dan mampu menunjang produktivitas ternak yang cukup tinggi. Salah satu perlakuan kimiawi yang paling populer dan efektif adalah amoniasi. Hasil penelitian Warly (1994) menunjukkan bahwa perlakuan amoniasi menunjukkan bahwa perlakuan amoniasi meningkatkan daya cerna jerami padi baik secara in vivo, invitro maupun in sacco,serta meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ternak domba.Ada 3 macam sumber amonia yang dapat digunakan dalam mengolah jerami padi, yaitu NH3 dalam bentuk gas cair (anhydrous), NH4OH dalam bentuk larutan (aqueous) dan urea dalam bentuk padat (CO(NH2)2). Diantara ketiga sumber tersebut, yang paling banyak digunakan negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia adalah urea. (02)

LEAVE A REPLY