Pembangkit listrik tenaga biomassa Hadir Di Mentawai

1837
sponsor

Padang TIME.com – Pembangkit listrik tenaga biomassa, Kabupaten Kepulauan Mentawai saat ini menarik perhatian dunia. Secara pemenuhan kebutuhan listrik, apa yang dilakukan bukanlah apa – apa, namun yang menjadi perhatian adalah multiplier effect dari inovasi tersebut.

Hal itu diutarakan Ketua Komunitas Masyarakat Kelistrikan Sumatera Barat Insanul Kamil dalam diskusi publik Sumbar dan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Rabu (9/10/2019). Insanul Kamil yang adalah juga dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas ini mengapresiasi langkah Kepulauan Mentawai membangun pembangkit listrik biomassa dengan bahan baku pohon bambu.

“Dari segi pemenuhan kebutuhan listrik, apa yang dilakukan masih belum apa-apa. Tapi yang perlu diapresiasi adalah inovasinya, Mentawai telah berpikir dan berbuat menciptakan sumber energi baru berbasis green technology,” kata Insanul.

Seperti diketahui, belum lama ini di Kepulauan Mentawai telah diresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm). Pembangkit ini berbahan baku pohon bambu, men-suplai kebutuhan listrik untuk sekitar 1.200 rumah dengan daya 450 Kwh.

Namun, Insanul melihat bukan dari jumlah daya yang berhasil didapatkan dari pembangkit tersebut. Menurutnya, dengan berbahan baku pohon bambu, akan tercipta sumber ekonomi baru bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rutin bahan baku penggerak pembangkit.

“Untuk kesinambungan operasi, tentu harus ada ketersediaan pohon bambu. Ini merupakan salah satu dampak ganda dari inovasi ini. Masyarakat akan membudidayakan pohon bambu, ini akan menjadi penyerap pemanasan global akibat emisi rumah kaca,” ujarnya.

Inovasi tersebut, lanjutnya, akan membuat Mentawai menjadi perhatian dunia. Beberapa tahun ke depan, sumber pembangkit listrik tidak lagi bisa berbasis air, seperti yang dikenal saat ini yaitu PLTA dan PLTMH.

“Saya melihat, inovasi Mentawai ini akan menjadi perhatian karena dunia sedang mencari percontohan. Ke depan, sumber pembangkit listrik tidak bisa lagi hanya mengandalkan air karena air juga harus dijaga,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepulauan Mentawai Naslindo Sirait menyebutkan, inovasi pohon bambu sebagai pembangkit listrik telah didukung dengan ketersediaan pasokan bahan baku. Pihaknya telah menyiapkan bibit bambu untuk lahan sekitar 43 ribu hektar.

“Bambu menghasilkan gas metan untuk menggerakkan pembangkit. Untuk ketersediaan pasokan, sudah dipersiapkan sekitar 43 ribu hektar lahan dan bibit disediakan oleh pemerintah daerah,” terang Naslindo.

Dia menambahkan, pohon bambu yang ditanam oleh masyarakat ini nantinya akan dibeli sehingga menjadi sumber ekonomi baru. Dengan harga pohon bambu Rp700 per kilo, menurutnya, setidaknya bisa menutupi biaya listrik yang dipakai. Naslindo menyebut, harga listrik dijual Rp400/ kwh melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Inovasi ini, lanjutnya, akan terus dikembangkan di Kepulauan Mentawai. Dia mematok target, pada tahun 2045 seluruh Mentawai sudah teraliri listrik.

Terkait pemasangan jaringan listrik PLTBm di Mentawai, PT PLN membantu melalui dana Coorporate Social Responsiblity (CSR). Menurut General Manager PT PLN Regional Sumbar Bambang Dwiyanto bantuan tersebut untuk 1.200 unit.

“Untuk 1.200 unit rumah yang dialiri listrik PLTBm ini, PLN membantu melalui dana CSR,” katanya.

Diskusi Publik dengan tema Sumbar dan Energi Baru Terbarukan tersebut digagas oleh Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumbar bersama Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas). Diskusi ini didukung oleh PT PLN dan Pemkab Kepulauan Mentawai dalam rangka melahirkan gagasan dan inovasi baru di bidang kelistrikan. Pesertanya terdiri dari mahasiswa teknik dari beberapa perguruan tinggi serta insan pers.

Balang

LEAVE A REPLY